Waisak 2006 Borobudur Dikemas Secara Sederhana

Magelang, 9/5 (Pinmas) - Perayaan Hari Tri Suci Waisak Tahun 2006 di Candi Borobudur direncanakan dalam kemasan sederhana tetapi lebih menekankan suasana relejius bagi umat yang merayakan hari besar agama Budha itu, kata Wakil Ketua Umum Sangha Theravada Indonesia Bhiksu Jotidhammo. "Waisak tahun ini dirayakan secara sederhana, lebih relejius, mungkin akan terkesan sepi, tetapi moga-moga umat lebih bisa merasakan getaran jiwa perayaan agung itu, " katanya di Magelang, Selasa.

Detik-detik Waisak 2006 yang jatuh hari Sabtu (13/6) tepat pukul 13.50.51 WIB, katanya, bakal ditandai dengan meditasi oleh umat di pelataran Candi Mendut sekitar tiga kilometer Timur Candi Borobudur.Selanjutnya, katanya, umat terutama dari berbagai daerah di Indonesia melakukan prosesi jalan kaki mengusung aneka pujabakti Waisak dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur melalui Candi Pawon. Umat Budha yang mengikuti rangkaian prosesi Waisak di Borobudur diperkirakan mencapai 20 ribu orang.Tetapi, katanya, umat Budha yang tidak bisa hadir di Borobudur saat Waisak bisa melakukan perayaan di kotanya masing-masing.Perayaan Waisak 2006 dilakukan oleh Konferensi Agung Sangha Indonesia yang terdiri Sangha Agung Indonesia, Sangha Mahayana Indonesia dan Sangha Theravada Indonesia. Perayaan Waisak pada tahun-tahun sebelumnya di Candi Borobudur dilakukan Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi).

Ia menjelaskan, pujabakti detik-detik Waisak tidak harus dilakukan di Candi Borobudur. Ikhwal itu menyesuaikan dengan situasi setiap tahun. Pada Waisak 2006, katanya menegaskan, pujabakti detik-detik Waisak berlangsung di Candi Mendut karena tepat siang hari."Itu tidak mengurangi makna Waisak," kata Bante Jotidhammo yang juga salah seorang bhiksu pengelola Vihara Mendut Kabupaten Magelang itu.Ia menjelaskan, tema Waisak 2006 "Hanya dengan Cinta Kasih, Perdamaian Dunia Dibangun", dengan dasar pemikiran banyaknya persoalan dan konflik masyarakat dunia yang tidak bisa diselesaikan.Seringkali, katanya, konflik tidak dapat diselesaikan malah semakin berkepanjangan dan ruwet."Persoalan yang makin ruwet itu makin menambah keprihatinan kita semua, padahal sekarang banyak orang pinter," katanya.

Ia menjelaskan, Waisak 2006 mengingatkan umat kepada ajaran Sang Budha tentang cinta kasih. Tri Suci Waisak bagi umat Budha merayakan tiga peristiwa besar yakni kelahiran Sidharta Gautama, Sidharta menjadi Budha dan Wafat Sang Budha.Cinta kasih, katanya, tidak cukup hanya terwujud dalam pemberian, empati, kemurahan hati, belas kasihan dan emosi tetapi harus lebih dapat diterapkan dalam kemampuan umat mengendalikan tingkah laku sehari-hari."Cinta kasih justru diimplementasikan dalam pengendalian perilaku kita, jangan sampai merugikan dan merusak orang lain. Pengendalian diri bisa membentuk perdamaian," katanya. (Ant/Ba)