Wamenag: Wanita Syarikat Islam Konsisten Perjuangkan Hak Perempuan dan Anak

Jakarta (Kemenag) - - Pimpinan Pusat (PP) Wanita Syarikat Islam hari ini menggelar Musyawarah Nasional ke XI dengan mengusung tema Penguatan Peran Wanita Syarikat Islam untuk Kemajuan Indonesia yang Sejahtera dan Berkeadilan. 

Munas ke XI ini diikuti oleh seluruh perwakilan WSI se Indonesia dan dibuka oleh Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi. Munas ke XI Wanita Syarikat Islam akan berlangsung 9-12  September 2022. 

Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi yang mewakili Menag Yaqut Cholil Qoumas dalam pembukaan Munas ke XI mengatakan helat Munas WSI adalah momentum penting masa depan organisasi. 

"Musyawarah nasional ini merupakan momentum yang sangat berharga. Dengan kata lain, Munas merupakan forum tertinggi dalam sebuah organisasi yang dapat menentukan masa depan organisasi," kata Wamenag Zainut Tauhid Sa'adi di Jakarta, Jumat (9/9/2022) . 

"Tentunya dalam Munas ini akan menghasilkan kebijakan-kebijakan besar yang menjadi wajah organisasi. Semoga kebijakan-kebijakan yang lahir kelak dapat memberikan manfaat khususnya bagi WSI, umumnya bagi negara Indonesia,"  sambung Wamenag.

Disampaikan Wamen atas nama Kementerian Agama, mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada keluarga besar Pimpinan Pusat Wanita Syarikat Islam yang selama kurang lebih satu abad, secara konsisten memperjuangkan hak kaum perempuan dan anak serta keikutsertaan WSI dalam membangun ketahanan keluarga Indonesia. 

Ia menambahkan, pada dasarnya, kaitannya dengan kontribusi di bidang sosial, agama dan pendidikan, kaum perempuan memiliki kesempatan dan hak yang sama seperti halnya kaum laki-laki. 

Menurutnya, baik kaum perempuan maupun laki-laki, keduanya sama-sama berpegang teguh pada prinsip yang diyakini dapat memperbaiki tatanan kehidupan sosial. 

"Apabila prinsip ini disatukan menjadi prinsip kolektif dalam bingkai organisasi, maka pertimbangannya bukan lagi terletak pada permasalahan perbedaan antara laki-laki dan perempuan, akan tetapi pada prinsip mana yang sekiranya mampu menjadi solusi untuk menghadapi beragam problematika yang ada, " jelas Wamenag.

Pada masa jahiliyah, Wamenag mengatakan, perempuan tidak memiliki tempat yang menguntungkan dalam tatanan kehidupan sosial, akan tetapi kedatangan Islam telah banyak mengubah tatanan yang mendiskreditkan peran perempuan. 

Melalui ajarannya, lanjutnya, Islam mampu mengangkat kedudukan perempuan, memberikan hak serta kebebasannya, memberikan kemuliaan, menyamaratakan hak dan kewajiban dengan laki-laki serta memberikan ruang untuk berkontribusi dalam ranah publik. 

"Dengan kata lain, kesempurnaan ajaran Islam telah membawa dampak positif bagi kedudukan perempuan," ujarnya.

"Indonesia termasuk salah satu negara yang kental dengan ajaran Islam, sehingga hak-hak perempuan dan anak terakomodir dengan baik tanpa ada diskriminasi,"  tandas Wamen. 

Walaupun demikian, lanjut Wamen, perlu menjadi catatan, perjuangan adalah sebuah proses bukan hasil. Apabila masih ditemukan sebagian kecil golongan yang tidak mengindahkan hak-hak perempuan dan anak.

"Maka Wanita Syarikat Islam harus terus berjuang untuk meluruskan gagasan-gagasan yang mereka pegang. Sebagai warga negara, perempuan memiliki peran strategis dalam berbagai bidang, baik dalam bidang pendidikan, sosial, bahkan ekonomi," terang Wamen.

"Peran perempuan tidak hanya terbatas dalam lingkup keluarga saja. Perempuan dapat berkontribusi dalam lingkup yang lebih luas, yaitu negara. Eksistensi Wanita Syarikat Islam menjadi bukti bahwa perempuan peduli dan mampu berkontribusi untuk kemajuan Indonesia, " ujarnya.

Hadir dalam pembukaan Munas ke XI Wanita Syarikat Islam, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Wakil Ketua DPR RI Rachmad Gobel, Ketua KPU Hasyim Asyari, Ketua Umum Syarikat Islam Hamdan Zoelva, Ketua Umum Wanita Syarikat Islam dan jajaran pengurus beserta perwakilan ormas perempuan Islam lainnya.