Waspadalah, Jangan Lengah!

Appamado amatapadam, pamado maccuno padam. Appamatta na miyanti, ye pamatta yatha mata. Kewaspadaan adalah jalan menuju kekekalan. Kelengahan adalah jalan menuju kematian. Orang yang waspada tidak akan mati, tetapi orang yang lengah seperti orang yang sudah mati. (Dhammapada, Syair 21)

Dalam kehidupan sehari-hari, kita senantiasa dihadapkan pada segala macam persoalan serta masalah yang bertubi-tubi silih berganti, baik masalah keluarga, pekerjaan, maupun masalah hubungan sosial dengan teman, relasi, serta masyarakat luas. Persoalan dan permasalahan yang terjadi semakin lama akan semakin banyak, bertumpuk dan rumit bilamana kita tidak berhati-hati dalam menyikapi dan menyelesaikannya. Karena itu diperlukan kewaspadaan sebagai upaya preventif untuk meminimalisir atau meniadakan permasalahan yang mungkin terjadi di kemudian hari.

Di masa lalu, ketika Buddha dan para bhikkhu masih hidup berkelana menyebarkan Dhamma, dengan berjalan kaki melalui desa dan hutan, mereka harus waspada terhadap gangguan binatang buas dan berbisa, gangguan musim, gangguan penyesatan pikiran dari para pencari ajaran salah, pandemi penyakit, dan sebagainya. Mereka harus dapat mengatur jadwal perjalanan dengan baik, mempelajari dan berusaha menghindari hutan-hutan yang dihuni banyak binatang buas dan berbisa, serta belajar berbagai ramuan pengobatan serta membuat persediaan obat-obatan untuk mengobati berbagai penyakit yang mungkin dapat menyerang mereka.

Mereka juga harus berhati-hati terhadap para pertapa yang berseberangan dan berusaha mem-brainwash pemikiran mereka dengan pandangan salah yang sangat marak pada waktu itu. Kewaspadaan dan kehati-hatian ini sangat penting dalam upaya menjaga keselamatan, eksistensi, dan kredibilitas mereka.

Di masa sekarang, ketika binatang buas dan berbisa jarang dijumpai sebagai gangguan, serta musim tidak lagi dianggap sebagai gangguan yang berarti, kita dihadapkan pada gangguan yang lebih kompleks. Yaitu, gangguan yang timbul dari dampak perkembangan teknologi informasi, sistem aplikasi, media sosial, dan lain sebagainya, termasuk pandemi global.

Kita harus waspada terhadap serangan virus computer, hacker, malsistem, termasuk attitude kita dalam penggunaan media sosial. Kelengahan dan keteledoran kita dalam menyampaikan berita atau komentar dapat membuat kita terjerat hukum. Kehati-hatian kita harus lebih ditingkatkan dengan baik. Kita tidak lagi hanya membuat pagar untuk melindungi rumah dari gangguan pencuri, tetapi juga memasang CCTV dan alarm untuk mencegahnya

Demikian pula dengan Pandemi Covid-19. Sejak diumumkan secara resmi pada tanggal 2 Maret 2020 Pemerintah terus mengimbau kepada kita semua untuk bersama-sama bertanggung jawab mencegah penularan virus berbahaya ini dengan senantiasa melaksanakan protokol kesehatan secara konsisten. Seluruh masyarakat senantiasa diingatkan untuk rajin memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, membatasi mobilitas dan interaksi, dan menjauhi kerumunan.

Kecenderungan peningkatan penyebaran dan penularan Covid-19 yang mencapai angka satu juta orang mengindikasikan bahwa kita semua masih lengah dan belum sepenuhnya melaksanakan protokol kesehatan. Karena itu sudah saatnya kita memotivasi diri masing-masing untuk tidak terlena dan senantiasa meningkatkan kewaspadaan serta kehati-hatian terutama terhadap upaya bersama menanggulangi penyebaraan wabah Corona virus. Kewaspadaan dan kehati-hatian kita bukan hanya melindungi dan menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga menyelamatkan keluarga, orang-orang yang kita cintai dan masyarakat sekitar kita.

Virus corona masih ada di sekitar kita, Waspadalah, Jangan lengah. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Caliadi (Dirjen Bimas Buddha)