Wayang ‘Lalu Nasip’ dalam Bingkai Moderasi Beragama

Siapa yang tidak kenal dengan H. Lalu Nasip? Bagi masyarakat Suku Sasak di Lombok, beliau adalah figur yang tak terlupakan. Seorang dalang yang sangat piawai di bidangnya. Wayang H. Lalu Nasip tidak asing lagi bagi mereka. 

Jika penggemar berat, maka Anda pasti akan sangat familiar dengan tokoh-tokoh yang selalu dimainkannya. Sebut saja Amaq Baoq, Amaq Amet, Amaq Locong, dan Inaq Litet. Acaranya selalu disiarkan secara langsung (live) di salah satu stasiun televisi di Lombok beberapa tahun silam. Gaya pembawaan dan cerita yang kocak membuat siapa saja yang menontonnya menjadi terpingkal karenanya. Sungguh sebuah tontonan yang sangat menarik dan menghibur.

Ke-empat tokoh pewayangan yang digambarkan oleh Dalang H. Lalu Nasip itu sesungguhnya syarat akan makna filosofi di dalamnya. Amaq Baoq merupakan pelesetan dari istilah kata ’baik” yang berafiliasi pada seseorang yang selalu berbuat baik dalam hidupnya dan senantiasa dijadikan sebagai teladan. Amaq Amet sejatinya merupakan sosok yang selalu mengamati lingkungan sekitar. Ini bermakna bahwa sosok ini selalu siap siaga jiwa raga dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi yang dapat mengancam persatuan bangsa.

Amaq Locong atau Amaq Locok merupakan gambaran pribadi seseorang yang hidupnya untung-untungan. Ibarat orang yang sedang kocok arisan. Jadi, jika ia tidak memiliki life skill (keterampilan hidup), maka ia tidak bisa menciptakan lapangan kerja sendiri bahkan ia akan sulit berbaur dengan lingkungannya.

Sedangkan Inaq Litet merupakan kata yang berasal dari kata ‘Lit’ bahasa Amerika Latin yang bermakna ‘gender’ atau kesetaraan. Hal ini dapat dimaknai bahwa peranan wanita dalam emansipasi wanita harus diperhatikan. Intinya, kesetaraan gender harus dikedepankan, tentu saja dengan tidak melupakan fitrahnya sebagai wanita (ibu bagi anak-anaknya dan istri bagi suaminya).

Sebagai informasi, Amerika Latin merupakan negara di Amerika Selatan termasuk Amerika Tengah, Meksiko dan pulau-pulau di Karibia. Salah satu keunikan dari negara ini yaitu penduduknya berbicara rumpun Bahasa Roman yaitu: Portugis, Italia, Rumania, Spanyol dan Prancis. Mamiq Lalu Nasip meski sepuh beliau tetap sosok yang brilian. Mampu menguasai beberapa Bahasa dan istilah. Termasuk isilah-istilah dalam Bahasa Amerika Latin.

Keempat tokoh pewayangan yang menjadi trade mark Mamiq Lalu Nasip di atas sesungguhnya merupakan gambaran atau perwakilan dari beragamnya masyarakat yang ada di sekitar kita. Sangat kontekstual dan nyata. Tinggal kita memutuskan untuk menjadi salah satu tokoh di atas yang sesuai dengan kepribadian masing-masing.

Selain keempat tokoh wayang di atas, Mamiq Lalu Nasip juga memiliki tokoh-tokoh pewayangan dari lintas budaya dan agama. Semisal tokoh pewayangan dari Jawa dan Bali. Demikian juga dengan agama Hindu, Buddha, dan lain-lain. Hubungannya dengan Moderasi Beragama yang tengah marak digalakkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia saat ini yakni adanya sikap toleransi beragama antar masyarakat di Indonesia.

Karenanya, perlu dibangun adanya teologi kerukunan sebagai bentuk saling menghormati di dalam perbedaan agama. Dalam kesempatan itu, Mamiq Lalu Nasip sempat menyitir ayat al-Qur’an yang berbunyi: lakum dii-nukum waliya-diin (bagimu agamamu-bagiku agamaku). Meski berbeda, namun semua bersatu dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

Satu hal yang kami kagumi adalah suaranya yang tidak berubah sama sekali. Sama sekali tidak ada beda dengan suara yang sering tampil di televisi. Sebagai dayang handal, dia memiliki suara khas bariton yang memukau. Dia sempat memainkan beberapa tokoh dari Lombok dan dari wilayah lainnya, dan itu tentu dengan suara khas dan bervariasi.

Menurutnya, seorang dalang harus piawai menguasai berbagai jenis suara. Karena dalang merupakan single fighter (pejuang tunggal) yang tentu melakukan segalanya sendiri dalam setiap pertunjukannya. Seperti lighting atau pencahayaan, setting lokasi, transkrip cerita, pembiayaan sampai dengan pemeran dalam cerita, dia lakukan sendiri. Lain halnya dengan artis peran atau film, masing-masing memiliki tugas dan peran yang berbeda-beda.

Ketika dikulik tentang sejarah wayang di Lombok, H. Lalu Nasip menjelaskan dengan gamblang, lancar dan sangat antusias. Menurutnya, ada tiga macam wayang, yakni: Wayang Jawa, Wayang Bali, dan Wayang Lombok.

Pertunjukan Wayang Jawa biasanya diperuntukkan hanya bagi keluarga pedaleman (keraton) atau khusus untuk keluarga Raja. Wayang Bali diperuntukkan ketika hari besar agama (Hari Raya) datang, dan tokoh yang terkenal dalam Wayang Bali ini diwakili oleh Brahmana dan Shinta. Sedangkan Wayang Lombok atau Wayang Sasak merupakan alat atau media yang murni diperuntukkan untuk dakwah atau alat dalam menyebarkan agama Islam.

Sang Dalang mengaku mengenal wayang sejak tahun 1962, ini berarti sudah 59 tahun dia akrab dengan dunia perwayangan, tepatnya ketika duduk di bangku kelas 5 SR (Sekolah Rakyat: Sekolah Dasar saat itu). Ini menandakan bahwa sebagian besar hidupnya didedikasikan untuk membumikan wayang di tengah masyarakat.

Sama halnya dengan yang dilakukan salah satu Wali Songo yaitu Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga menyebarkan Islam dengan menggunakan metode yang sangat lekat dengan budaya masyarakat Jawa. Saat itu, masyarakat Jawa kental dengan seni dan budaya seperti wayang dan gamelan. Agama yang tengah berkembang waktu itu adalah Hindu dan Buddha. Sunan Kalijaga pun gemar mempelajari ilmu mendalang dan seni kesusastraan sebagai bekal strategi dakwahnya.

Demikian juga dengan apa yang dilakukan H. Lalu Nasip. Jika terkait dalang, dia bisa menjelaskan berjam-jam dengan rinci dan runut. Dia benar-benar menguasai bidangnya sebagai seorang dalang. Setiap kata yang diucapkan tereja jelas plus dengan bahasa kekinian.

Padahal usianya saat ini sudah sepuh, sekitar 75 tahun. Namun, itu bukan lah halangan baginya untuk menjelaskan secara rinci, tepat dan akurat tentang sejarah perwayangan di tanah air. Apalagi ketika itu menyangkut pewayangan di Lombok.

Rupanya beliau selalu meng-upgrade ilmunya termasuk dengan membaca berbagai literatur dan senantiasa mengikuti perkembangan per-wayangan di tanah air. Sehingga wajar saja jika beliau begitu professional dan smart dalam menjelaskan setiap detail pertanyaan yang dilontarkan.

Sikap yang kritis dan daya nalar yang luar biasa tak urung membuat penulis berdecak kagum akan kepiawaiannya. Ini merupakan modal utama dalam khazanah kekayaan daerah atau kearifan lokal yang luar biasa yang wajib dilestarikan. 

Apa yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga dengan Dalang H. Lalu Nasip sesungguhnya tidak jauh berbeda. Yang membedakan yakni Sunan Kalijaga merupakan waliyullah (ulama’) yang menjadikan wayang sebagai strategi dakwahnya, sedang H. Lalu Nasip merupakan dalang yang peduli dengan kearifan lokal dan toleransi beragama. Beliau merupakan pelaku seni, yang masih bertahan hingga saat ini. 

Tetapi sehebat apapun seseorang jika sudah menyangkut usia, maka otomatis tenaga dan pikiran tidak bisa dicurahkan secara maksimal. Lambat laun akan terkikis oleh modernisasi. Di sinilah diperlukan adanya regenerasi. Mengingat sang dalang sudah sepuh. Ada saatnya beliau memerlukan istirahat dan menikmati masa tua dengan tenang. Beruntung, salah satu cucunya memiliki ketertarikan yang sama dengannya. Bahkan, sang cucu kerap mengikuti even-even perwayangan di tanah air.

Jika dikaitkan dengan moderasi beragama, tentu wayang sangat erat dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh Kementerian Agama RI. Terutama terkait dengan perbedaan atau heterogenitas. Memahami setiap perbedaan dalam kebersamaan sangat indah. Tidak ada indikasi terjadi penyimpangan, apalagi mengatasnamakan agama. Toleransi beragama menjadi modal dasar membangun bangsa.

Intinya, keberhasilan dari Moderasi Beragama dapat dilihat dari empat indikator, yakni komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan dan penerimaan terhadap tradisi. Mudah-mudahan ikhtiar dari Kementerian Agama dalam bingkai Moderasi Beragama ini membawa manfaat serta memberikan hikmah luar biasa bagi masyarakat luas terutama dalam memupuk sikap toleransi beragama.

Ia berperan sebagai pribadi netral dalam menyikapi keberagaman. Keberagaman tidak mengurangi hidup berdampingan dalam harmoni (living in harmony). 

Dr. Siti Rahmi, M.Pd. (Alumni Sekolah Pasca Sarjana UPI Bandung, Pengajar Bahasa inggris dan Humas MAN 2 Mataram)