Yakin Akan Panca Sraddha Lupa Akan Karmaphala 

Om Swastyastu. Pecinta dharma yang berbahagia. Mimbar Hindu pekan ini akan berbagi pengetahuan dharma dengan tajuk “Yakin Akan Panca Sraddha Lupa Akan Karmaphala”.

Tema ini berawal dari keprihatinan penulis melihat fenomena perilaku kehidupan manusia di zaman yang kita yakini sebagai kaliyuga ini. Tidak sedikit manusia saat ini berbuat di luar batas kemanusian dan memupuk serta menumpuk dosa. Tidak jarang juga manusia menanam karma buruk dalam aktivitas swadharma-nya. Tidak sedikit juga manusia yang berfikir, berkata-kata, dan berbuat yang merugikan bahkan menyakiti orang lain. Bahkan, ada manusia yang bangga dan pamer serta meng-upload ke medsos perbuatan negatifnya.

Fungsi agama sebagai pedoman perilaku seolah-olah hilang. Keyakinan akan panca sraddha khususnya tentang hukum karma menjadi ompong karenanya. Apakah fenomena perilaku manusia ini akibat pengaruh zaman kali? Penulis berpikir, tidak! Sebab, manusia dibekali wiweka untuk memilah atau mempertimbangkan mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang tercela. Karena agama bukan sebagai penentu perilaku, apalagi sebagai pengubah perilaku, manusia sendirilah dengan wiweka-nya yang menentukan karmanya sendiri, agama hanya sebagai stimulus atau rangsangan saja.   

Pecinta dharma yang berbahagia. Dalam sastra Hindu terdapat dua konsep pengetahuan dasar dalam memahami suatu ajaran dharma,  yaitu: “tahu apa yang dikatakan” dan “mengerti apa yang dimaksudkan”. Jika kita mengunakan pengetahuan yang pertama, yaitu sebatas tahu apa yang dikatakan, pemahaman akan ajaran dharma baru sampai pada tataran pemahaman yang bersifat dogmatis. Artinya, hanya bersifat mengikuti atau menjabarkan suatu ajaran tanpa kritik dan pemaknaan.  

Sedangkan  jika dilengkapi dengan pengetahuan kedua, yakni mengerti apa yang dimaksudkan, maka pemaknaan dan kesempurnaan dari suatu pengetahuan dharma akan kita peroleh.  Artinya, bahwa konsep prawerti marga (aktivitas beragama keluar) dan konsep niwerti marga (aktivitas beragama ke dalam) akan menjadi seimbang. 

Pecinta dharma yang berbahagia. Untuk mencapai keseimbangan itu tidak mudah dan butuh proses. Untuk menuju keseimbangan itu, diperlukan sebuah energi yang dalam bahasa sastra disebut dengan “tamasya pikiran”. Artinya, sebuah renungan atau kontemplasi secara komprehensip terhadap suatu ajaran dharma yang diperoleh dari pengetahuan yang pertama yaitu dari tahu apa yang dikatakan. Tamasya pikiran adalah wisata termurah yang tidak butuh biaya apapun yang diwariskan semesta untuk umat manusia. 

Sebagai contoh, Hindu mempunyai kalimat sakral yang wajib diyakini dan dipercaya oleh seluruh umatnya yakni “panca sraddha”. Saya yakin sebagian besar umat Hindu di Indonesia  pastilah hafal dasar keyakinan  tersebut. Kefasihan dalam hafalan itu baru sebatas “tahu apa yang dikatakan”. Apakah salah? Tentu tidak! Artinya pengetahuan kita baru sampai pada tahap pertama. Jika kita baru sampai pada tahap pengetahuan ini, biasanya kita akan sering lupa akan sraddha yang ketiga, yaitu “karmaphala”. Padahal kalimat itu satu rangkaian dalam panca sraddha. Artinya pengetahuan dan pemahaman kita kurang lengkap dalam pengamalannya.

Salah satu akibat dari kealpaan kita terhadap hukum karma, adalah kita sering berpikir, berkata-kata, dan berbuat di luar koridor dan tuntunan agama. Artinya, kita tidak sadar, sedang atau baru mulai menanam karma buruk, yang suatu saat buah dari tanaman itu apabila sudah matang akan dipanennya sendiri. Biasanya pada saat panen buah karma buruk itulah, penyesalan akan datang. Kenapa dalam kehidupan ini saya kurang beruntung, ditimpa kesialan yang bertubi-tubi, kenapa nasib saya seperti ini, kenapa karma saya seperti itu. Padahal dalam hidup saya selalu berbuat baik, sering membantu orang, rajin sembahyang, kenapa begini, kenapa begitu, dan akan muncul kenapa-kenapa yang lain. Singkatnya banyak pertanyaan yang muncul di benaknya akibat dampak penyesalan itu.

Pecinta dharma yang berbahagia. Setiap manusia dalam kehidupan ini mempunyai tabungan karma baik dan karma buruk akibat wasana karma dalam kehidupan sebelumnya. Dalam pandangan dharma, karma buruk dan karma baik mempunyai bank yang berbeda dalam penyimpanannya. Jika kita menabung karma baik, tentu tabungan itu akan bertambah bahkan ada kompensasi berupa bunga. Semakin banyak tabungan kita, bunganya pun semakin bertambah. Suatu saat jika bungga itu sudah berbuah, maka kita sendiri akan memanennya. 

Sebaliknya, jika kita terus menanam karma buruk, tananam itu pun akan bertambah subur dengan ranting-ranting yang bercabang ke sana ke mari. Setelah tiba waktunya tananam itu berbunga dan berbuah matang, kita sendiri akan memanennya. Pada saat panen inilah timbul banyak pertanyaan dalam dirinya. Tanpa ia sadari bahwa semua itu adalah hasil tanamannya. 

Pertanyaannya, apakah kita bisa menghapus karma buruk? Tentu bisa! Bagaimana caranya? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benaknya.

Dalam ajaran dharma, ada banyak metode untuk menghapus karma buruk itu. Salah satu yang termudah adalah berhenti menanam karma buruk, teruskan menabung karma baik. Tabungan karma buruk kita akan berkurang seiring waktu. Ibarat kita menabung di bank dengan sisa saldo 100 ribu rupiah, jika kita tidak menambahnya maka 100 ribu itu akan berkurang setiap bulannya. Tabungan yang mengendap itu akan kena pajak bank, administrasi bank, yang lama-kelamaan akan habis. Jika tabungan karma buruk sudah habis, maka kita bersiap-siap akan memetik bunga pada bank yang berbeda berupa panen buah karma baik kita. Itulah salah satu cara termudah agar penyesalan tidak datang kemudian. 

Apabila anda kurang yakin dengan hukum karma ini, anda bisa dibuktikan dengan meditasi  past life regression. Tentunya sebagai manusia awam harus didampingi oleh ahlinya. Karena apa? Karena metode past life regression tidak semudah yang kita bayangkan. Jika kita lakukan sendiri tanpa didampingi ahlinya, jangan-jangan kita tidak bisa kembali ke alam nyata ini. Itulah kompleksitas pengetahuan past life regression ini.  Dengan metode ini, kita bisa mengetahui dari mana, siapa, dan apa yang kita pernah lakukan di masa lalu, bahkan kehidupan di masa lampau pun bisa terlihat dan terjawab.

Pecinta dharma yang berbahagia. Pandangan tattwa agama Hindu menyebutkan bahwa  hukum karmaphala inilah sebagai penentu kehidupan kita sekarang maupun kehidupan kita berikutnya, apakah kita akan samsara atau lahir lagi ataukah memutus rantai samsara itu? Jawabannya ada dalam diri kita masing-masing, itu adalah sebuah pilihan.

Terakhir, saya akan sharing pengetahuan tentang sloka dan sumber dari dasar keyakinan kita, yang berbunyi:

Ekam eva advityam brahman (Chandogya Upa. mandala VI adyaya 2 sloka 1)
Atmana esa prano jayate (Prasna Upanisad Mandala III Adhyaya 3)
Loka’yam karma bandhanah (Bhagawadgita  Adyaya III Sloka 9)
Samsara moksa sthtiti bandha hetuh (Svetasvatara Upanishad Adhyaya 6 sloka 16)
Atmano moksartham jagadhita ya ca.( Rig Weda)

Artinya:

Hanya satu Tuhan tidak ada duanya
Sumber kehidupan (prana)  di dunia ini adalah atman
Dunia dan kehidupannya terikat dengan hukum karma
Tuhan adalah penyebab belenggu samsara (kelahiran,kematian dan pembebasan)
Untuk keselamatan diri dan untuk kesejahteraan manusia di bumi.

Dari sloka inilah lahirnya kelima dasar keyakinan kita yang di sebut panca sraddha. Setiap umat Hindu dan umat yang kembali ke ajaran dharma wajib mengsakralkan dalam pengamalannya. Jika semua itu dijalankan dengan benar, maka  ajaran dharma akan menjadi pusaka, menjadi pustaka bagi kehidupan manusia dan bukan menjadi petaka dalam keberlangsungan kehidupan manusia di bumi ini. 

Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga dapat bermanfaat buat kita semua, sebagai jalan mulat sarira atau intropeksi diri dalam pemahaman akan dasar keyakinan kita. Om Santih Santih Santih Om 

Ida Bagus Arjana (Rohaniwan Hindu)