Al-Ahwal, 10 Kondisi Tangga Ruhani Sufi Raih Rida Ilahi

Jakarta (Kemenag) --- Ada kondisi-kondisi tertentu yang dialami atau dijalani para sufi dalam meraih Rida Ilahi. Kondisi ini dijelaskan oleh Abdurrauf Al-Sinkili dalam kitabnya Tanbih Al-Masyi.

Hal ini dijelaskan oleh Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Oman Fathurahman melalui utasan dalam akun twitternya @Ofathurahman yang bertahuk #TanggaRuhani. Setelah menjelaskan tentang Al-Bidayah, Al-Abwab, Al-Mu’amalah, Al-Akhlak, Al-Ushul, dan Al-Audiyah, tiba giliran Oman Fathurahman menjelaskan persinggahan tangga ruhani ketujuh, yaitu: Manzilah Al-Ahwal yang berarti “sejumlah kondisi”.

Kondisi pertama, al-Mahabbah (cinta). Yakni terpautnya hati pada yang Dicintai (Allah), hingga pasrah dan menolak mencintai lainnya. “Cinta adalah penanda tuma’ninah; hidup jadi punya tujuan. Cinta kepada Allah: lisan berzikir dan selalu rasakan kehadirannya,” demikian Oman mengawali utasannya sebagaimana dikutip Humas dari akun @Ofathurahman dengan beberapa penyesuaian, Senin (10/5/2021)..

Al-Ghairah (cemburu) menjadi kondisi kedua. Ini adalah keadaan gugurnya kesanggupan karena iri dan terbatasnya kesabaran karena mencinta. Hamba yang cemburu bagi Allah, tidak sanggup melakukan hal yang bisa mengalihkan dari-Nya. “Ia tidak bersabar akibat cinta terhadap-Nya yang teramat,” jelas Kepala Pengasuh Pesantren Al Hamidiyah Sawangan Depok ini.

Ketiga, al-Syauq (rindu). Maksudnya, dorongan hati bergelora untuk bertemu Kekasih. Rindu lahir karena cinta. Kekuatan rindu tergantung dari kadar cinta. “Rindu hamba pada Allah lahirkan harapan bertemu dengan-Nya. Rindu berganti kesenangan saat sudah bersua,” tuturnya.

Tangga ruhani keempat pada persinggahan ini adalah al-Filq (resah): gelisah melepas rindu. Al-Harawi menjelaskan, al-Filq adalah kerinduan yang menjadi-jadi hingga tak terkendali. Resah pada Allah: rindu hamba pada-Nya yang tak terperi. “Keresahan akibat rindu, berubah menjadi kesenangan saat bertemu,” jelas Oman.

Kelima, al-‘Athasy (haus). Yaitu, rasa suka yang teramat atas sesuatu yang diinginkan. Jika jiwa hamba makin resah karena rindu pada Sang Kekasih, lahirlah keadaan hati yang menggelepar seperti kehausan, ibarat orang merindukan seteguk air di tengah padang pasir.

Keenam, al-Wajd (ekstase). Ini adalah kondisi jiwa yang menggelora karena menyaksikan hal agung yang menggetarkan. Sisi kemanusiaan hamba tenggelam dan lenyap dalam lautan makrifat, berhenti sejenak dari dunia dan diri. “Al-Wajd adalah keselarasan antara indera dengan ruh,” papar Oman.

Ketujuh, al-Dahsy (terperanjat). Kebingungan yang mencengkeram jiwa seorang pencinta karena terpesona Keagungan yang dicintai (Allah). Al-Dahsy adalah kondisi antara khauf dan raja’ dalam jiwa. Setelahnya, hamba rasakan tenteram, senang, dan bahagia.

Kedepalan, al-Hayman (kagum). Yakni tersungkur saking kagum dan terperanjat oleh keagungan sang Kekasih (Allah). Musa as tersungkur ketika Tuhan menampakkan diri-Nya (tajalli) pada gunung (al-A’raf: 143). “Al-Hayman lebih dahsyat dari al-Dahsy,” jelasnya.

Al-Barq (kilat) menjadi kondisi yang kesembilan. Kondisi ini berupa cahaya yang Allah tanamkan dalam hati pada awal perjalanan spiritual hamba, dan menuntunnya menuju hadirat-Nya. Ia tenggelam di dalam-Nya. Musa as melihat cahaya, ia hampiri, ia pun mendapat nubuwwah (Taha: 9-10).

Terakhir atau yang kesepuluh, al-Dzawq (kenikmatan). Yakni, rasa nikmat yang lahir karena dekat dengan Kekasih (Allah). Inilah awal dan tanda-tanda tajalli-Nya. “Al-Dzawq lebih langgeng dari al-Wijd dan lebih agung dr al-Barq. Al-Dzawq lahirkan kebahagiaan jiwa,” tandas Oman mengutip QS al-Syura: 48.