Berjumpa dengan Allah dalam Kedukaan

Saudaraku yang terkasih. Injil pada hari ini mengisahkan pengalaman para murid bertemu dengan Yesus sesudah kebangkitan-Nya. Yesus datang di antara para murid yang berkumpul dalam ruangan terkunci karena ketakutan mereka terhadap orang Yahudi. Pada pagi hari, mereka melihat makam kosong yang menjadi tanda kebangkitan Yesus.

Yesus memberi salam pada para murid dan menunjukkan tangan dan lambung-Nya. Para murid yang melihat Tuhan bersukacita, kecuali Thomas yang saat itu tidak berada di sana. Ia hanya mendengar kesaksian murid lain dan memutuskan untuk tidak percaya karena belum berjumpa secara pribadi dengan Yesus dan mencucukan jarinya di bekas luka Yesus. 

Delapan hari kemudian, Thomas ikut berkumpul di ruangan itu dan Yesus kembali datang di tengah-tengah mereka. Yesus meminta Thomas untuk mencucukan jari di luka-luka-Nya agar dia percaya. Setelah mengalami peristiwa tersebut, Thomas terkejut dan mempercayai apa yang dikisahkan oleh teman-temannya dan berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku!”.

Saudaraku yang dikasihi Tuhan. Ketika mengalami perjumpaan dengan Tuhan, kita mungkin abai atau menyangkal karena Tuhan dapat hadir melalui situasi yang tidak kita kehendaki. Tanpa disadari, kita menutup diri dari rahmat Allah dalam kehidupan sehari-hari. Seperti Thomas, kita justru sibuk mencari eksistensi Allah dan menantang Allah bahkan dalam doa-doa. Apakah kita menyadari hal tersebut? Apakah kita ingat bagaimana kita berdoa ketika diliputi dalam amarah dan kekecewaan?

Kita dapat belajar dari Thomas melalui perjumpaan dengan Yesus yang hadir di dalam kehidupan kita sehari-hari. Kesaksian iman dalam perjumpaan-perjumpaan dengan Yesus memperkaya iman kita dari hari ke hari Kita dapat membiarkan diri mengalami perjumpaan dengan Allah melalui hal-hal di sekeliling kita, bahkan melalui orang atau situasi yang tidak kita kehendaki.

Perasaan-perasaan negatif yang menyelimuti kita sering membutakan hati. Seperti Thomas yang masih berkabung selepas kematian Yesus, ia menyangkal kesaksian sesama murid yang berjumpa dengan Yesus. Ketika dilanda bencana atau musibah, kita hanya sibuk berkutat pada kesedihan dan ketakutan, bahkan mungkin perasaan marah dan kecewa. 

Saudaraku yang dikasihi Tuhan. Dalam suasana Paskah ini, marilah kita membuka diri untuk menyadari dan menerima kehadiran Allah agar menghimpun semangat dalam melewati kesedihan atau keterpurukan. Mari kita membuka hati agar mampu bersaksi atas kebangkitan Yesus dalam kehidupan masa ini. 

A.H. Yuniadi (Kasubdit Penyuluhan)