Eny Yaqut Ajak DWP Sumsel Lebih Sering Menilai Diri, Bukan Orang Lain

Palembang (Kemenag) --- Penasehat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag, Eny Retno Yaqut mengingatkan jajarannya untuk menjadi pribadi yang lebih sering menilai diri sendiri, bukan orang lain.

Pesan ini disampaikan Eny Retno, panggilan akrabnya, saat berdiskusi dengan anggota DWP Kantor Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Diskusi ini dikemas dalam bentuk seminar bertajuk 'Perempuan Aktor Penting dalam Upaya Diseminasi Moderasi Beragama'. Seminar berlangsung di aula MAN 3 Palembang.

"Saya mengajak semua Ibu-Ibu DWP di Sumsel ini khususnya, untuk terlebih dahulu melihat dan menilai diri sendiri, sebelum melihat orang lain,” pesan Eny Retno di Palembang, Selasa (15/11/2022). 

Eny Yaqut menyampaikan bahwa setiap individu dalam alam pikiriannya mempunyai pandangan sendiri-sendiri dalam menilai dan melihat berbagai hal di sekelilingnya. Eny Yaqut menyebutkan hal ini sebagai 'cognitive bias'. 

Cognitive Bias itu terdiri atas egocentric memory (alamiah melihat bukti informasi), egocentric myopia (absolut), egocentric rightrousness (superior), egocentric hypocrisy (inkonsisten), egocentric oversimplication (kompleksitas), dan egocentric blindness (alamiah memperhatikan fakta).

“Moderasi itu intinya memanusiakan manusia. Semua agama mengajarkan kita untuk mengangkat dan menjaga harkat martabat manusia," terangnya.

Di hadapan jajarannya, Eny Retno juga mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara yang majemuk dan beragam, baik dari sisi agama, budaya, dan bahasa. Kondisi keragaman dan keberagamaan ini bisa menjadi potensi konflik antar sesama. Untuk itu perlu adanya perekat yakni dengan konsep nilai-nilai Moderasi Beragama.

Sebelumnya, Ketua DWP Kemenag Sumsel, Emilia Syafitri Irwan menyampaikan selamat datang kepada Ibu Eny Yaqut dan rombongan yang telah berkunjung ke Bumi Sriwijaya.

"Sumatera Selatan ini terdiri dari banyak suku, seperti suku Komering, Palembang, semendo, gumai, lintang, kayu Agung, lematang, pasemah, sekayu, rawas, Banyuasin, Jawa dan lain-lain," kata Emilia.

Emilia juga menyampaikan bahwa walau Sumsel ini beragam suku, kondisi kehidupan yang berkembang berjalan rukun dan kondusif. Sehingga, Sumsel dijuluki sebagai wilayah zero konflik, meskipun di tengah beragam perbedaan.

Seminar Moderasi Beragama ini diikuti oleh 150 peserta, terdiri dari DWP Kankemenag, PTKN dan PTKS/PTKN, IGRA dan MI hingga MA. Tampak hadir juga ketua DWP Kemenag RI Farikha Nizar Ali, Kakanwil Kemenag Prov Sumsel, Syafitri Irwan, seluruh Kepala Bidang Kanwil Kemenag Sumsel, Kepala Kemenag Kota Palembang H. Abdul Rosyid, seluruh Ketua DWP Kemenag Kab/Kota se Sumatera Selatan, baik secara luring maupun daring.