Gembala yang Baik

Di tengah berbagai persoalan yang menghimpit saat ini, terutama dampak pandemi Covid-19, membuat kemanusiaan kita terluka dan menyebabkan sulit bersosialisasi dan beraktivitas. Banyak manusia yang tergerus harkat dan martabat kemanusiaannya karena kesulitan ekonomi, kesulitan pekerjaan, serta kesulitan sosial lainnya. Bahkan banyak manusia saat ini kehilangan kesadaran diri, mengalami stres, depresi yang akut, bahkan ada yang terganggu kejiwaannya.

Manusia–manusia yang kehilangan harkat dan martabat kemanusiaan ini bagaikan kawanan domba di padang rumput yang tersesat, tidak tahu lagi jalan untuk kembali menuju kandang sendiri. Bahkan ketika tiba di depan kandang, domba–domba itu tidak bisa membedakan pintu masuk dan jendela. Sungguh-sungguh domba-domba itu tersesat dan hilang orientasi.

Kita semua manusia dipanggil menjadi gembala untuk menolong domba-domba yang tersesat. Kita dipanggil menjadi gembala untuk memastikan bahwa semua kawanan domba selamat dari terkaman harimau dan hewan buas lainnya. Kita dipanggil menjadi gembala yang baik. Gembala yang baik mengenal semua kawanan dombanya, dan kawanan dombanya mengenal suara gembalanya dengan baik. Sehingga ikatan kuat tercipta di antara mereka, yakni gembala yang baik dan domba-dombanya.

Kita semua di tengah komunitas, lingkungan pekerjaan, masyarakat kecil, dan masyarakat luas dipanggil menjadi gembala yang baik. Yaitu, gembala yang mampu mengenali secara baik persoalan yang terjadi, mampu memberi solusi, menolong yang harus ditolong, serta rela berkorban demi keselamatan mereka. Gembala yang baik tidak tergantung pada status sosial, jabatan, kekuasaan, atau harta benda. Gembala yang baik berlaku untuk siapa saja. Kemauan, kerelaan berkorban untuk menolong dan menyelamatkan sesama, sangat diperlukan menjadi gembala yang baik.

Kita semua dapat menjadi gembala yang baik sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas yang dimiliki. Tuhan tahu bahwa bibit-bibit menjadi gembala yang baik ada dalam diri kita. Itulah sebabnya Tuhan memanggil kita menjadi gembala yang baik. Yang menjadi soal adalah: apakah kita merespons dan mengiyakan panggilan Tuhan itu?

Saudara–saudara terkasih. Panggilan menjadi gembala yang baik sudah, sedang, dan akan berlangsung sepanjang hidup kita. Mungkin kemarin kita belum merasa terpanggil, saat ini pun kita dipanggil dan masa yang akan datang pun tetap dipanggil. Mari kita membuka hati, pikiran, dan perasaan kita. Suara, getaran dari Tuhan tak pernah berhenti. Mari kita rasakan dan respons dengan baik.

Gereja Katolik secara khusus melakukan perayaan Minggu Panggilan, memberi pesan kepada kita semua bahwa Tuhan menginginkan panggilan-Nya kepada kita menjadi gembala yang baik, kita respons dengan penuh suka cita berdasarkan kerelaan, keikhlasan berkorban untuk keselamatan sesama manusia.

Melalui perayaan Minggu Panggilan ini, semoga kita merasakan panggilan Tuhan untuk menjadi gembala yang baik terhadap domba-domba yang tersesat untuk diselamatkan dunia akhirat. Semoga Tuhan memberkati kita semua. Amin.

 

Exsuperantia Rifai Andayani (Ditjen Bimas Katolik)