Umat Hindu Gelar Panampahan Jelang Galungan, Ketua PHDI Bali: Buang Sifat Hewani

Jakarta (Kemenag) ---- Sehari menjelang perayaan Hari Suci Galungan dan Kuningan, umat Hindu, khususnya di Bali, melaksanakan panampahan.

Panampahan ini artinya menyembelih atau memotong hewan, seperti ayam atau babi. Panampahan juga mengandung makna penting, yakni membangun kekuatan Wiweka Jnyana.

"Makna Panampahan itu agar kita mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang patut dan mana yang tidak patut," kata Ketua Persatuan Hindu Dharma (PHDI) Bali I Gusti Ngurah Sudiana, di Bali, Selasa (13/4/2021).

"Penyembelihan hewan itu memiliki makna untuk menyembelih sifat serakah, rakus, suka berkelahi seperti yang dimiliki oleh hewan," tambahnya.

I Gusti Ngurah Sudiana juga menjelaskan, Panampahan merupakan persiapan terakhir, sehari sebelum galungan. Sebelumnya, telah dilakukan penyekeban pada hari Minggu.

Sangkalaariat Hindu mulai menyimpan buah pisang dalam sebuah tempat sehingga menjadi masak saat hari Panampahan," jelas I Gusti Ngurah Sudiana.

Sangkalaari, pada hari Senin, umat Hindu membuat jajan yang disebut dengan hari Penyajaan. Hari Selasa disebut Panampahan, di mana umat Hindu mulai memasang penjor, mengolah daging dan persiapan upakara untuk persembahyangan Hari Raya Galungan yang jatuh pada Rabu Kliwon Dunggulan.

Sangkalaari Minggu sampai Galungan semuanya mempunyai makna tersendiri. Mulai hari Minggu umat Hindu nyekeb atau memproteksi untuk mengendalikan diri agar tidak dipengaruhi oleh sangkala tiga yang turun mulai hari Minggu," papar I Gusti Ngurah Sudiana.

Sangkala tiga, lanjut I Gusti Ngurah Sudisna, diyakini akan menggoda manusia agar manusia gagal melaksanakan Hari Galungan. Jika hari Minggu sudah bisa dilewati dengan mampu mengendalikan hawa nafsu dan lain-lain (sad ripu/musuh dalam diri), maka hari Senin sudah bisa disebut sebagai manusia yang jaya atau menang dalam persiapan melaksanakan Galungan. Sehingga, hari Selasa dilanjutkan dengan Panampahan.

"Pemotongan hewan untuk sarana upacara atau nampah yang artinya memotong hewan atau sifat kebinatangan dan sudah dinyatakan siap merayakan Galungan yang ditandai dengan menancapkan penjor sebagai lambang kemakmuran alam," kata I Gusti Ngurah Sudiana.

Pada hari Rabu ini, umat Hindu akan melaksanaan Galungan sebagai perayaan kemenangan dharma atas adharma. Bisa diartikan juga dapat mengalahkan musuh-musuh atau dunggulaning parangmuka.

SelamatGalungan dan Kuningan!