Jurnal UIN Banda Aceh & Malang Terbaik di Bidang Hukum dan Arsitektur

Jakarta (Kemenag) --- Dua jurnal terbitan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) masuk kategori jurnal terbaik se-Asia di bidang Hukum dan Arsitektur. Prestasi ini dirilis Scimago Journal and Country Rank dalam laman resminya https://www.scimagojr.com/, pada 11 Mei 2022.

Dua jurnal ilmiah tersebut adalah ‘Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam’ terbitan UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan ‘Journal of Islamic Architecture (JIA)’ milik UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Keduanya merupakan jurnal internasional bereputasi yang telah terindeks Scopus sejak 2021.

Setelah setahun, Scimago menyatakan keduanya layak masuk dalam pemeringkatan jurnal dunia. Jurnal Samarah dinyatakan layak memperoleh predikat Quartile 3 (Q3) dengan nilai SJR 0,199. Atas penilaian itu, Samarah menjadi jurnal ilmiah terbaik di Indonesia dalam bidang ilmu hukum, dan peringkat keempat terbaik se-Asia. 

Sementara JIA terbitan UIN Malang, di tahun pertama terindeks Scopus, mengukir predikat Quartile 3 (Q3) dalam pemeringkatan jurnal tingkat dunia dengan nilai SJR 0,1. Di tingkat dunia, hanya dua jurnal bidang arsitektur Islam yang berhasil terindeks dalam Scopus dan terekam dalam pemeringkatan ini. Selain JIA, terdapat pula International Journal of Islamic Architecture yang diterbitkan di Inggris.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Muhammad Ali Ramdhani, mengapresiasi para pimpinan PTKI yang telah membuktikan kualitas jurnal terbaiknya di tingkat global. “Saya memberikan apresiasi dan penghargaan yang tulus atas capaian yang membanggakan ini,” ungkap Dirjen Pendidikan Islam yang juga besar UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, di Jakarta, Jumat (13/5/2022).

“Ketercapaian reputasi jurnal yang tidak hanya di bidang religious studies (studi keagamaan), tetapi juga di bidang hukum dan arsitektur, ini menunjukkan betapa integrasi ilmu pengetahuan agama dengan sains dan sosial humaniora benar-benar nyata,” papar pria yang biasa disapa kang Dhani itu.

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis), Amin Suyitno, menyatakan bahwa konsistensi dunia perguruan tinggi dalam kontribusi akademik di berbagai bidang demikian nyata. “Jika kemarin kita dinobatkan sebagai jurnal terbaik se-Asia di bidang studi-studi keagamaan, kini kita ditasbihkan masuk sebagai jurnal terbaik di bidang hukum dan arsitektur. Ini menunjukkan disiplin keagamaan telah mampu berkontribusi secara nyata dalam membangun relasi antara agama dan ilmu pengetahuan,” ungkap Suyitno.

Menurut guru besar UIN Raden Fatah Palembang ini, setidaknya ada 2 (dua) kontribusi besar dunia perguruan tinggi keagamaan Islam, yakni membangun relasi yang harmonis antara Islam dan negara dan relasi Islam dan ilmu pengetahuan. Relasi Islam dan negara akan melahirkan muslim yang moderat dan cinta tanah air, sementara relasi Islam dan ilmu pengetahuan akan melahirkan agamawan yang luas ilmu pengetahuannya. 

“Inilah di antara kontribusi substantif dunia PTKI yang tidak bisa dilakukan oleh perguruan tinggi lainnya. Dan, hari ini, jurnal PTKI telah membuktikan salah satu dari kontribusi besar tersebut,” ungkap Suyitno.

Para rektor pun mengungkapkan kebanggaan atas capaian jurnal-jurnal yang dibinanya. Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Warul Walidin, menyatakan bahwa capaian Samarah sebagai jurnal hukum terbaik di Indonesia dan Asia adalah buah dari kerja keras dan kerja cerdas tim yang sangat sinergis. Dirinya menggarisbawahi beratnya tantangan mengelola jurnal ilmiah terstandar dan terindeks internasional.

“Semoga istiqamah dan berjuang lebih keras lagi dan lebih gigih lagi untuk mencapai peringkat yang lebih baik. Jurnal ilmiah merupakan instrumen terpenting saat ini dan sebagai jendela yang mencerminkan mutu, produktivitas dan mobilitas akademik,” harapnya.

Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Zainuddin berharapan capaian JIA menjadi motivasi bagi seluruh pengelola jurnal ilmiah di PTKI, khususnya di UIN Malang. Ada 28 jurnal lain di kampusnya yang sedang didorong untuk menjadi jurnal ilmiah bereputasi mengikuti jejak JIA sebelumnya.

“Saya juga memberi apresiasi yang setinggi tingginya kepada tim pengelola jurnal yang telah bekerja keras sehingga dapat meningkatkan grade-nya. Harapan saya semoga dalam waktu dekat akan terbit jurnal-jurnal bereputasi internasional di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sehingga dapat menambah poin menuju international reputation and recognition,” harap Zainuddin.

Koordinator Subdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Suwendi, menyebutkan bahwa dalam durasi 4 (empat) tahun terakhir reputasi jurnal mengalami kenaikan yang demikian tinggi. “Pada tahun 2018, baru ada 5 jurnal yang bereputasi internasional. Di awal 2022, jumlahnya sudah mencapai 11 jurnal internasional bereputasi dan terindeks di Scopus yang dengan sendirinya masuk ke dalam kategori terakreditasi Sinta-1. Untuk meraih Scopus, dibutuhkan keuletan, kesabaran, dan ketelitian yang prima,” ungkap Suwendi. 

Menurut Suwendi, kesebelas jurnal internasional bereputasi itu sebagai berikut. [1] Journal of Indonesian Islam (JIIs), UIN Sunan Ampel, Surabaya Jawa Timur; [2] Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies (IJIMS), IAIN Salatiga Jawa Tengah; [3] Qudus International Journal of Islamic Studies (QIJIS), IAIN Kudus, Jawa Tengah; [4] Al Jami’ah, UIN Sunan Kalijaga Daerah Istimewa Yogyakarta; [5] Studia Islamika, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; [6] Journal of Islamic Architecture, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Jawa Timur; [7] Jurnal Al-Ahkam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; [8] Jurnal Samara UIN Ar-Raniri Banda Aceh; [9] Islam Guidance and Counseling Journal IAIM-NU (Institut Agama Islam Ma’arif Nahdlatul Ulama) Metro Lampung; [10] Al-Ihkam, IAIN Madura, Jawa Timur; dan [11] Jurnal Psikohumaniora, UIN Walisongo, Semarang, Jawa Tengah.

Editor-In-Chief Samarah, Mursyid Djawas, menyampaikan bahwa raihan ini membuktikan bahwa pengelola jurnal siapa pun dan di mana pun, bisa meraih yang terbaik. Jurnal Samarah yang diterbitkan oleh kampus di ujung Barat Indonesia, Provinsi Aceh ternyata mampu berprestasi di tingkat nasional dan internasional.

“Capaian ini akan memantik kemajuan kampus-kampus PTKI di Indonesia khususnya dalam bidang hukum Islam,” harap Mursyid.

Harapan yang sama juga diutarakan oleh Co-Editor-In-Chief JIA, Ernaning Setiyowati. Dirinya berharap JIA akan menjadi jurnal terdepan di bidang arsitektur, dan masuk ranking 10 besar di Asia. Selain Scopus, saat ini JIA juga sedang dalam proses penilaian indeksasi jurnal bereputasi internasional lainnya seperti Web of Science. 

“Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pimpinan di kampus yang telah memberikan segala dukungan dan bantuan untuk peningkatan kualitas JIA. Dan juga terima kasih yang sebesar-besarnya untuk Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI yang selalu memberikan bantuan dan dukungan untuk kemajuan JIA dan seluruh jurnal di bawah Kementerian Agama,” ungkap Ernaning.