Kemenag Bekali Penerima Beasiswa Santri Wawasan Kebangsaan dan Penguatan Moderasi 

Bekasi (Kemenag) --- Sejak 2004, Kemenag menggulirkan Program Beasiswa Santri Berprestasi (BPSB). Program ini telah melahirkan ribuan sarjana santri.

Selain perkuliahan di berbagai perguruan tinggi, para penerima beasiswa santri ini juga mendapat pembekalan tentang wawasan kebangsaan dan penguatan moderasi beragama.

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Waryono Abdul Ghofur menyampaikan, santri-santri yang sedang menempuh studi di Perguruan Tinggi hendaknya selalu berpegang teguh pada ajaran Rasulullah untuk menghindari sikap berlebih-lebihan.

"Rasulullah menyampaikan tentang (konsep) ad-diinul haniif, cara beragama yang moderat dan tidak tathorruf, tidak melangkahi batas dalam keyakinan ataupun perilaku," kata Waryono saat membuka Pembinaan Moderasi Beragama dan Wawasan Kebangsaan Bagi Mahasantri Zona Jawa Barat angkatan I di Bekasi, Kamis (23/9/2021).

Giat ini diikuti puluhan santri penerima PBSB Kemenag RI. Pembinaan digelar dengan menerapkan protokol kesehatan.

Sikap tatharruf atau berlebih-lebihan dalam beragama, lanjut Waryono, akan menggriring kepada ekstremisme, tepatnya menerapkan agama secara kaku dan keras hingga melewati batas kewajaran baik dalam pendapat, atau perbuatan.

Sebaliknya, Waryono berharap agar para Mahasantri dapat berfikir lebih luas dalam memahami agama. Waryono minta mahasantri tidak hanya berkutat pada ranah furu'iyah, tetapi mampu menerjemahkan pesan-pesan agama dalam misi kemanusiaan dan keadilan sosial.

"Karena bangsa ini adalah bangsa terbuka sejak tempo dulu, jauh sebelum era kemerdekaan. Masalah ikhtilaf furu'iyah itu sudah selesai dengan sikap keterbukaan. Nah untuk saat ini kita harus lebih fokus mengurusi masalah sosial, ekonomi, dan pengembangan ilmu pengetahuan" tuturnya.

Oleh karena itu, Waryono berpesan agar Mahasantri PBSB memanfaatkan waktu belajarnya seefektif mungkin, dan harus memupuk semangat mencari ilmu dalam setiap waktu dan tempat. Dengan terus memperdalam ilmu, Mahasantri PBSB diharapkan menjadi ahli dalam bidangnya masing-masing.

"Tekunilah ilmu yang sekarang, sehingga ilmunya menjadi faktor pengobat dan pengungkit bagi kemakmuran bangsa. Kekayaan bangsa yang luar biasa ini akan bisa lebih dinikmati ketika kita bisa mengolahnya sendiri," tutur Waryono.

Hal senada disampaikan Kepala Subdirektorat Pendidikan Pondok Pesantren, Basnang Said. Menurutnya, mahasantri PBSB selayaknya menjadi agen-agen moderasi di lingkungan kampus. Bekal ilmu agama dan sikap moderat yang dipelajari di pesantren harus ditularkan kepada rekan-rekan mahasiswa lainnya.

Karena itu, Basnang menekankan agar para Mahasantri dapat aktif berorganisasi. Sehingga, mereka mendapatkan wadah untuk belajar sekaligus mengaktualisasikan gagasan-gagasan moderasi di kehidupan kampus.

"Anda hari ini dan ke depan mendapatkan kesempatan yang luar biasa untuk menimba ilmu di Perguruan Tinggi, maka manfaatkanlah waktu dan kesempatan ini sebaik mungkin," tuturnya.

Basnang Said menyampaikan, giat Pembinaan Moderasi Beragama dan Wawasan Kebangsaan bagi Mahasantri diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren untuk menyasar peserta dari mahasiswa-mahasiswa baru penerima Beasiswa Santri Berprestasi Kemenag tahun 2021.

"Kegiatan ini akan dilaksanakan dalam tiga angkatan. Angkatan pertama ini mencakup zona Jawa Barat dan Jakarta, dilaksakan selama tiga hari, 23-25 September 2021," terang Basnang Said.

Hadir dalam kegiatan tersebut di antaranya perwakilan peserta mahasantri dari Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Nahdlatul Ulama, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan beberapa perguruan tinggi lain di wilayah Jabodetabek.