Keselamatan Memerlukan Pertobatan

Saudara-saudari yang terkasih. Saat Tuhan Yesus berjalan berkeliling kota sambil mengajar menuju Yerusalem, Ia dihadapkan dengan sebuah pertanyaan yang menggelitik tentang “Tuhan sedikit sajakah orang yang diselamatkan?”  Tuhan Yesus dengan ringan menjawab:  "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.”

Akhir-akhir ini, bangsa kita tengah dihebohkan dengan beberapa skandal besar yang di antaranya melibatkan aparat penegak hukum dan tokoh agama. Penegak hukum yang seharusnya memberi teladan taat akan hukum justru melanggarnya. Demikian pula tokoh agama yang tugasnya memberi teladan hidup religius kepada pengikutnya, namun menjadi tidak bermoral dan tidak beradab.

Dua fakta tersebut hendak menegaskan kepada kita bahwa status sosial, religius, dan jabatan seseorang belum tentu menjamin hidup religius dan moralitas yang baik pula. Status sosial, religius, dan jabatan itu justru disalahgunakan demi kepentingan dan hawa nafsu pribadi. Mereka dengan mudah memutarbalikkan hukum dan ayat-ayat suci demi melegitimasi tindakannya. Orang-orang yang demikian justru lebih jahat dan berbahaya daripada penjahat yang sesungguhnya.

Orang-orang yang “sok taat hukum” dan “sok alim” dikritik dan dikecam oleh Tuhan Yesus dalam Injil Lukas. Di mata manusia, mereka tampak masyhur dan suci, dihargai, dan dielu-elukan. Namun, nyatanya di mata Allah mereka tak ubahnya “seonggok sampah” yang menjijikkan. Nasib mereka akan sama halnya dengan orang-orang yang mengetuk-ngetuk pintu namun tidak dibuka oleh si Empunya Rumah, karena Dia tidak mengenal mereka.

Sebagai orang Kristiani, kita pun sering bangga karena meyakini dan percaya bahwa Yesus Kristuslah Tuhan dan Juru Selamat. Dengan meyakini dan percaya belumlah cukup karena harus diiringi dengan sikap hidup dan moral yang baik pula. Seperti kata Pengkhotbah “Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati”.

Kita berharap Tuhan semakin mengenal kita dengan hampir setiap Minggu bahkan setiap hari “Makan Bersama Dia” melalui Perayaan Ekaristi. Namun sayangnya, Dia justru belum mengenal kita karena sikap hidup dan moral kita yang bobrok. Mengikuti Perayaan Ekaristi, “Makan Bersama Tuhan”, seharusnya mengubah hidup kita menjadi lebih baik, menumbuhkan pertobatan, menanamkan sikap mawas diri, menyelaraskan kehidupan rohani dengan kehidupan nyata, mengendalikan diri dan hawa nafsu, serta mampu menjadi terang dan garam di mana pun berada.

Tak ada manusia di dunia ini yang sempurna. Bahkan orang suci sekali pun pernah berbuat dosa. Namun mereka dengan rendah hati mau bertobat dan mengakui segala kesalahannya, sehingga hidup mereka pun diubah menjadi baru yang penuh makna dan inspiratif. Tak ada kata terlambat untuk bertobat, karena melalui pertobatan pintu yang sesak itu niscaya terbuka lebar.

Rosentina Lopes, S.Pd. (Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat)