Kisah Pahlawan: Abbasia, Guru Ngaji yang Suka Berbagi

Ia bernama Abbasia. Tingginya sekitar 160 cm, geraknya sudah tak gesit lagi. Jalannya sudah mulai pelan dengan langkah yang tak lebar. Kulitnya yang kuning langsat, sudah mulai keriput, meski hidungnya tetap tampak mancung. 

Pandangannya masih jeli melihat huruf-huruf Al-Qur’an. Telinganya pun masih jelas mendengar, terutama ketika ada kesalahan bacaan anak-anak yang belajar mengaji Al-Qur’an. Rambutnya sudah memutih semua. Kondisi fisik tersebut, tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap aktif melakukan aktivitas sehari-harinya sebagai guru mengaji anak-anak.

Penduduk mengaku bahwa Abbasia adalah guru mengaji yang paling lama di dusunnya. Abbasia mengajar sudah lebih dari 50 tahun, sejak usianya belum genap 30 tahun. Kini usianya sudah lebih 80 tahun dan ia masih menjadi salah satu guru mengaji di Dusun Rappogading Utara, Desa Lampoko, Kabupaten Polewari Mandar, Provinsi Sulawesi Selatan.

Perempuan yang tidak bisa membaca tulisan latin itu tidak tahu pasti waktu (tanggal, bulan, dan tahun) kelahirannya. Ia lahir dari keluarga Mandar yang berlatar belakang petani. Ayahnya bernama Salle, sementara ibunya bernama Kindo Rukaiyya. Ia anak kedua dari dua bersaudara. Saudara perempuannya bernama Rukaiyya.

Abbasia tidak memiliki latar belakang pendidikan formal. Itu menyebabkan ia tidak mampu membaca huruf latin. Pendidikannya hanyalah pendidikan Al-Qur’an. Dia belajar dan mengaji kepada salah satu guru di kampungnya yang bernama Pua Hama’. “Pole dialawenama’ mi’guru membaca koro’an (Dari beliaulah (Pua Hama’) saya belajar membaca Al-Qur’an),” ucap perempuan yang di usianya saat ini sama sekali tidak menggunakan kacamata untuk membaca Al-Qur’an atau mengajari anak-anak mengaji.

Naulle nasawa’ simata’ membacanama’ di’e koro’an anna’simata seha’ bai mata’u (Sepertinya semakin sering membaca Al-Qur’an, akan semakin membuat mata ini sehat,” terangnya.

Baca juga: Kisah Pahlawan: Syarif Hidayat, Mengajar Berbekal Dua Liter Beras

Seperti biasa, usai sembahyang Zuhur, para santri akan berdatangan ke rumahnya untuk mengaji. Kadang mereka berkumpul di ruang tamu, di teras, dan terkadang di bawah kolong rumah Abbasia. Setelah kumpul, pengajian dimulai dan segera terdengar suara Al-Qur’an dibacakan. 

Abbasia memang tinggal di sebuah rumah panggung dengan ukuran kurang lebih 5 x 15 meter persegi. Rumah panggung tersebut terbuat dari kayu dan beratapkan daun rumbia, berdinding papan dan alisi (terbuat dari pelepah rumbia). Di rumahnya tidak ada listrik. Abbasia hanya memasang lampu kecil dengan bantuan aliran listrik dari tetangga samping rumahnya.

Bagi Abbasia, mengajar ngaji menjadi kesenangan tersendiri. Dia yakin, kebaikan untuknya tidak akan berhenti mengalir selama santri-santrinya terus mengamalkan ilmu yang diajarkan dengan terus membaca al-Qur’an. Para tetangga melihat Abbasia sebagai sosok yang sangat baik. Sebab, dia rela mengorbankan waktunya untuk mengajar dan membantu orang lain. 

Para santrinya pun lintas generasi. Ada santri yang sudah berumur dan baru belajar mengaji, kebanyakan adalah anak-anak. Aktivitas mengajar Al-Qur’an dilakukan Abbasia setiap hari. Ia tidak mengenal hari libur. Model pengajiannya tidak jauh berbeda dengan pengajian lainnya. Santri datang secara bergantian dan dibimbing bergiliran. Jika para santri datang bersamaan, maka yang lainnya akan diminta Abbasia untuk mengulangi bacaan sebelumnya (muthala’ah) sebelum dipanggil untuk membaca Al-Qur’an. Waktu mengajinya dimulai dari siang hingga sore hari. Waktu malam digunakan Abbasia untuk beristirahat.

Menurut Hamzah, salah satu santri angkatan 1990-an, Abbasia dikenal sosok guru mengaji yang baik, pemberi dasar dalam mengenal huruf-huruf Hijaiyah. “Abbasia guru yang sangat ramah. Sampai sekarang setiap kali lewat di rumahnya, beliau selalu lebih dulu menyapa dan mengajak singgah,” ucap laki-laki Mandar yang saat ini tengah kuliah di Makassar.

“Beliau tidak segan-segan memberi apa yang ia punya untuk orang lain. Jika tidak ada barang yang ia punya, ilmu dan apa yang ia bisa kerjakan untuk orang lain, pasti akan beliau lakukan,” sambungnya. Hamzah mengaku ada satu pesan Abbasia kepadanya yang selalu dia ingat. Yaitu, agar dia selalu membantu orang lain semampu dan sebisanya.

Seperti kebanyakan guru mengaji di Mandar, para santri Abbasia memiliki tradisi khusus. Misalnya, ketika mencapai surat-surat tertentu dalam Al-Qur’an, mereka melakukan acara Maccera (syukuran) dengan menyembelih ayam, membuat songkol (nasi ketan) dan menyediakan berbagai jenis pisang untuk dibacakan doa. Hidangan itu disiapkan untuk dimakan bersama anggota keluarga. Sebagian dari makanan itu dibawa ke rumah guru mengaji. Hal ini dilakukan beberapa kali selama proses mengaji hingga khatam. 

Selain Maccera, orang tua santri yang khatam, biasanya akan membuat syukuran anakny adengan membuat acara khataman Al-Qur’an. Biasanya di bulan Maulid, bersamaan dengan memperingati hari lahir Rasulullah, ada juga santrinya yang menggelar acara khataman di luar bulan Maulid. Biasanya itu dilakukan oleh orang tua santri yang mampu, karena mereka mengglar acara khataman dengan menyewa Sayyang Pattu’du (Kuda Menari). Santri yang khatam, akan diarak keliling kampung dengan kuda menari. Setelah keliling, santrinya akan datang ke rumah guru untuk sungkeman.
 

Irfan Kurniawan
Tulisan ini diambil dari buku “Mendidik Tanpa Pamrih: Kisah para Pejuang Pendidikan Islam” yang diterbitkan Ditjen Pendidikan Islam, Kemenag, tahun 2015.