Memaknai Perbedaan & Moderasi

Perbedaan bukan turun dari langit, namun tumbuh dari pikiran manusia. Biasanya mekanisme otak lebih mudah mengenali perbedaan ketimbang kesamaan. Saat melihat lelaki dan perempuan berdiri sejajar, kita akan mudah menyebutkan perbedaan keduanya. Padahal lelaki maupun perempuan punya banyak kesamaan ciri. Rambut di atas kepala, sepasang mata dan telinga, satu hidung, dua tangan, dan seterusnya. Bakat alamiah ini membuat kita gemar mengkategorisasi dan mengklasifikasi apapun jua. 

Pada kehidupan lampau, bakat ini berguna untuk membedakan tumbuhan mana yang bisa dimakan, mana yang tidak. Atau hewan apa yang dapat diburu, didomestikasi, dan yang harus dihindari. Kini kita menemukan lebih banyak klasifikasi yang dicipta manusia, termasuk manusia itu sendiri. Untuk menentukan perbedaan Saya dan Anda tanyakan saja apa ras saya? Apa gender, suku, budaya, agama, dan politic interest saya?

Sesungguhnya perbedaan terjadi karena sudut pandang berbeda antar si pengamat. Seperti kisah kuno tentang “orang buta dan gajah”. Alkisah terdapat sekelompok orang buta yang belum pernah melihat seekor gajah, lalu diminta mendeskripsikan gajah berdasarkan apa yang disentuhnya. Orang yang menyentuh telinga gajah mendeskripsikan, “gajah itu besar, luas, lebar seperti permadani”. Orang kedua yang meraba belalai gajah berkata “gajah itu mirip pipa lurus bergema. Tetapi orang yang memegang kaki gajah berkata, “Gajah itu kuat dan tegak seperti tiang”. 

Perbedaan sudut pandang dan keterbatasan pengetahuan dapat mendistorsi pemahaman utuh tentang fisiologi gajah. Kita yang tidak buta tentu dapat mendeskripsikan gajah lebih baik dari ketiga orang buta itu. Kualitas deskripsi bergantung dari suplai informasi. Semakin minim suplai informasi akan semakin bias. Ketika bias informasi disampaikan antar individu maka bias akan kian melebar dan menjauhkan informasi dari substansinya. 

Ruang dan waktu juga dapat menyebabkan perbedaan cara pandang. Misalkan urusan moralitas. Pada abad pertengahan, tidak ada seorangpun berpikir menyiksa budak adalah bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia. Seorang raja atau bangsawan yang memperistri puluhan perempuan juga dianggap lumrah dan bukan pelanggaran moral. Budak adalah properti bagi tuannya. Sebagaimana halnya properti, seorang budak dapat disimpan, dipindahtangankan, dipinjam pakai, atau bahkan dibuang. Apapun kacamata moralitas Anda saat ini tidak berlaku bagi realitas moral saat itu. Dalam rentang pendek hidup manusia tidak ada yang percaya akan ada masa di mana perbudakan akan berakhir. Namun abad 20 menjadi titik balik, ketika nilai-nilai kemanusiaan bernama Humanisme terdefinisi dengan baik dan dijunjung tinggi. 

Humanisme mengubah standar Moralitas menjadi lebih baik. Penghapusan praktik perbudakan menjadi agenda utama sejumlah Negara. Hak-hak dan kedudukan perempuan disetarakan. Perempuan mulai dikenal sebagai ilmuwan, politisi, hingga ekonom. Bahkan beberapa di antaranya menjadi pemimpin negara. Cara pandang dunia berubah. Namun tidak ada transisi sempurna, masih terdapat satu dan dua kasus praktik perbudakan dan kekerasan terhadap perempuan. Namun jumlahnya amat kecil dan tidak mengganggu kesimpulan umum kita tentang kesetaraan. Sebagai manusia yang hidup pada masa transisi, kita perlu mengawal moralitas baru ini agar tidak kembali ke masa kelam itu.

Tantangan Zaman
Setiap zaman punya tantangannya sendiri. Jika kita mampu lepas dari tema perbudakan dan ketidakadilan gender abad pertengahan, pekerjaan berat berikutnya adalah Fundamentalisme; suatu cara pandang yang merasa kelompoknya lebih superior atas kelompok lain. Mereka menganggap sebagai agen yang membawa pesan langsung Tuhan. Penafsiran teks kitab suci yang dipahami adalah sebenar-benarnya penafsiran. Di luar itu sesat. Maka sepanjang waktunya dilakukan untuk memerangi kesesatan. 

Tuhan dipersepsikan bukan hanya menciptakan perbedaan, tapi tingkatan-tingkatan. “Tuhan yang maha kuasa menciptakan ras-ras putih, hitam, kuning, melayu, dan merah; dan Dia menempatkan mereka di benua terpisah. Fakta bahwa dia memisahkan ras menunjukkan dia tidak berniat untuk pencampuran ras.” Kekeliruan ini melahirkan semangat pemurnian ras. Pada masa lampau dijadikan Nazi untuk memberangus ras lain, selain ras Aria. Bagi gerakan fundamentalisme, semangat pemurniannya adalah agama. Atas nama pemahamannya, segala yang berbeda harus dilenyapkan. Jika terkooptasi dengan kekuasaan, maka kekuasaanya yang direbut.

Di tanah air ada ragam kelompok fundamentalisme. Dari yang tertutup, hingga semi terbuka. Baik yang berjubah komunitas diskusi, organisasi kemasyarakatan, hingga kelompok terorisme. Mereka melakukan pengrusakan kecil untuk menakuti banyak orang. Namun aksi terorisme hanya opsional. Menanamkan dan memenangkan pengaruh jauh lebih penting. Sistem pemerintahan beserta penguasanya dianggap zalim. Rasa tidak aman dan tidak percaya masyarakat terhadap rezim mesti dibangun. 

Untuk melakukannya udara kedamaian perlu dicemari. Sebab kedamaian dalam pluralitas dianggap semu; bagai bom waktu yang sewaktu-waktu meledak, di mana pemicunya ada di tangan tiap-tiap orang. Maka keberagaman harus dibatasi. Tidak boleh ada kelompok kepercayaan lain mendirikan gedung apalagi menyelenggarakan ibadahnya. Toleransi adalah omong kosong kemunafikan relasi antar tetangga berbeda agama. Sedangkan Tuhan tidak menghendaki kemunafikan. Tanpa disadari kita memasuki kompetisi propaganda dengan fundamentalis tanpa diketahui apa aturan mainnya dan bagaimana ujungnya. 

Tidak ada yang salah dengan semangat pemurnian agama. Bagaimanapun juga pergumulan hidup membuat kita terkadang harus berkompromi dengan keadaan, sehingga kerap melakukan sejumlah pelanggaran norma. Lalu, mencari aneka pembenaran agar terlihat lumrah dan alamiah selayaknya manusia. Setiap umat beragama sepatutnya melakukan pemurnian diri menjalankan kehidupan beragama. Memurnikan berarti menjernihkan suatu yang tercemar. Namun dalam perjalanan menuju ke sana kita harus menyadari ada sesuatu yang tidak bisa dipaksakan. Perbedaan cara pandang bukan aib manusia, melainkan jalan menuju penghayatan tertinggi pentingnya rukun bertetangga. Kedamaian ibarat kado di atas batang pohon pinang licin di mana perlu kerjasama sejumlah orang untuk sampai kepuncaknya. 

Penutup
Kedamaian bukan jeda antar perang, tapi keniscayaan. Untuk mempertahankannya, perlu gagasan lebih kuat yang mampu mengikat simpul-simpul perbedaan. Pilihan rasional kita saat ini adalah Moderasi Beragama. Bukan sekedar sikap ataupun semangat, melainkan gerakan. Gerakan sadar mewujudkan iklim moderasi agar perdamaian tumbuh subur. Gerakan Moderasi Beragama diperlukan pada area di mana banyak perbedaan di sana. 

Kita tidak hendak menyatukan suatu yang menjadi prinsip atau dogma, tapi kita punya cita-cita pencerahan sama, menjadi manusia unggul dan berkualitas di tengah perjalanan panjang spesies kita. Moderasi ibarat tongkat Nabi Musa yang membelah lautan perbedaan untuk mempersilahkan kita lewat menuju terang kedamaian. Kita tidak bisa menghentikan pikiran berbeda, tapi kita bisa menemukan titik mana kita tetap bersama.

Martin H. Siagian (ASN Ditjen Bimas Kristen Kementerian Agama, Senior GMKI)