Menag Nilai Tradisi Haul Wujud Hubungan Batin dan Jaringan Keilmuan Kiai-Santri

Jakarta (Kemenag) --- Muslim Indonesia memiliki tradisi luhur yang terus dilestarikan hingga saat ini, yaitu Haul atau peringatan tahunan atas wafatnya seseorang. Menag Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, dalam konteks pesantren, haul merupakan tradisi luhur yang mencerminkan hubungan batin sekaligus jaringan keilmuan kiai dan santri.

Hal ini disampaikan Menag saat memberikan sambutan secara virtual dalam Haul dan Tasyakkur Khatmil Qur’an, Juz ‘Amma, dan Alfiyah Ibnu Malik yang digelar Pesantren KH Aqil Siradj (KHAS), Senin (6/9/2021) malam. 

Haul ini diikuti Pengasuh Pondok Pesantren KHAS (Kyai Haji Agil Siradj),  KH. Muhammad Musthofa Aqil Siradj, Bupati Cirebon, Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj,  KH. Ni’amillah Aqil Siradj, serta para santri dan alumni Pondok Pesantren KHAS. 

Menurut Menag, Haul dan Tasyakkur Khatmil Qur’an, Juz ‘Amma, dan Alfiyah Ibnu Malik ini setidaknya memiliki makna tentang wujud kesadaran kolektif atas penguatan eksistensi dan komitmen untuk senantiasa berterima kasih dan merekatkan silaturahim, baik dalam hubungan kerabat keluarga orang tua-anak maupun kiai santri. 

“Begitu juga dengan jaringan intelektual kiai-santri, maupun hubungan batin dengan orang-orang yang telah memberikan pengaruh dalam kehidupan ini,” ujar Menag. 

Ditambahkan Menag, Khatmil Qur’an, Juz ‘Amma, dan Alfiyah Ibnu Malik juga merupakan tradisi yang mampu melacak validitas ilmu dan silsilah atau jaringan pengetahuan. "Dalam mencari ilmu, kita perlu berguru kepada orang-orang yang memiliki silsilah dan kevalidan ilmu pengetahuan yang jelas. Sehingga, insya Allah, meraih ilmu yang barokah dan manfaat. Hal ini sama sekali berbeda dengan belajar melalui media sosial, misalnya, yang belum tentu valid akan keilmuan dan tradisi akademiknya," jelas Menag. 

Di mata Menag, haul dan tasyakkur ini merupakan sebuah tradisi agung yang lekat dengan dunia pondok pesantren. Dunia pondok pesantren adalah dunia yang menanamkan keluhuran akhlak dan budi pekerti yang mulia, serta dunia pendidikan yang menanamkan komitmen kebangsaan yang teruji.

"Bangsa Indonesia patut bersyukur dengan kehadiran pondok pesantren. Melalui pesantren, komitmen keislaman dan kebangsaan selalu saling menguatkan," ujarnya.

Menag mengajak kaum santri untuk mendoakan dan meneladani sosok Almaghfurlah KH. Agil Siradj dan Almarhumah Nyai Hj. Afifah Harun, serta  dua putra yang juga sudah wafat,  yakni Almarhum KH. Ja’far Shadiq Agil Siradj dan Almarhum KH. Ahsin Syifa Agil Siradj. "Mereka merupakan orang-orang teladan, yang telah banyak memberikan pembelajaran bahwa betapa nilai seseorang itu sangat dipengaruhi oleh keikhlasan dan dedikasi untuk melahirkan generasi penerus yang berilmu pengetahuan luas dan berkarakter," sambung Menag.

"Selamat atas pencapaian para santri dan lapisan masyarakat yang luar biasa. Semoga ilmu yang diraihnya memberi manfaat dan barokah," tutup Menag.