Mengenang Muzammil Basyuni, Karier Diplomat Seorang Santri 

Duta Besar KH.M. Muzammil Basyuni meninggal dunia Rabu 28 Maret 2018 pukul 09.35 WIB di Jakarta. Saya bersyukur kenal dengan almarhum walaupun tidak lama, tapi berkesan di hati. Sosok pribadi beliau yang hangat dan ramah, tidak mudah dilupakan.

Putra dari K.H. Basyuni Masykur, seorang ulama di Rembang Jawa Tengah itu semasa muda pernah menuntut ilmu di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah Pondok Modern Darussalam Gontor, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan University of Baghdad Irak. Muzammil Basyuni lahir di Rembang 7 Oktober 1947. Ia adalah adik dari Muhammad Maftuh Basyuni, mantan Menteri Agama. 

Muzammil meniti karier sebagai pegawai di Departemen Luar Negeri sejak 1974. Penugasan perdana ke luar negeri sebagai Letda Tituler/Perwira Interpreter Arab dengan gelar diplomatik Atase Lokal UNEF (United Nations in the Service of Peace) di Sinai, Mesir tahun 1975 - 1976. Sekembali dari Sinai, dia diangkat menjadi Pjs. Kasubag Penyusunan Rencana Pusdiklat Departemen Luar Negeri. Pada tahun 1977, dia ditugaskan sebagai interpreter bahasa Arab Presiden Soeharto pada kunjungan kenegaraan ke negara-negara Arab (Kuwait, Arab Saudi, Suriah, Mesir, dan Yordania). 

Sekitar tahun 1984, Muzammil mendapat penugasan sebagai Kasubid Penerangan KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) Tunis dengan gelar diplomatik Atase dan kemudian Sekretaris Tiga. Pada tahun 1988, dia menjabat Kasi KSE-OKI-Timur Tengah pada Direktorat Jenderal Ekonomi dan Luar Negeri. 

Karir eselon III Muzammil dimulai tahun 1991. Saat itu, dia diberi amanah sebagai Kabid Ekonomi KBRI Brunei Darussalan dengan gelar diplomatik Sekretaris Dua dan selanjutnya dipromosi menjadi Sekretaris Satu. Pada tahun 1995, dia diamanahi jabatan Kepala Bagian Pertambangan dan Energi pada Biro Ekonomi Sekretariat Nasional ASEAN. Tahun 1999 ditempatkan sebagai Kabid Ekonomi KBRI Madrid dengan gelar diplomatik Counsellor dan Minister Counsellor. Puncak kariernya menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia Untuk Republik Arab Suriah berkedudukan di KBRI Damaskus tahun 2006 – 2010.

Mengutip wawancara majalah Tazakka tahun 2012 seputar perjalanan kariernya dari santri hingga menjadi Duta Besar, Muzammil menuturkan, “Khairukum anfa'ukum linnas, demikian yang saya kutip dan sering saya dengar dari salah seorang pendiri Pondok Modern Gontor, K.H. Imam Zarkasyi; bahwa sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi umat manusia. Saya masih terngiang-ngiang seruan Kyai Gontor: bukan untuk tujuan tertentu belajar di Gontor, mau apa belajar di Gontor? Bukan untuk jadi presiden, miliarder, pejabat, pegawai, tetapi ‘jadi orang’. Ini jelas sebagai peran seorang santri dalam hidupnya. Apapun dan di manapun seseorang santri pasti dibutuhkan, tidak mencari pekerjaan, tapi dicari pekerjaan,” ujarnya. 

Muzammil sosok diplomat yang matang karena aneka pengalaman tugas di dalam dan luar negeri. Sebagai diplomat, ia teguh dalam prinsip dan luwes dalam pendekatan. Salah satu keunggulannya sebagai Duta Besar Republik Indonesia adalah kemahiran berbahasa Arab. 

Dikutip dari buku Sekilas Aktivitas Dubes RI Damaskus 2008, Dubes H.M. Muzammil Basyuni menyampaikan sikap Pemerintah Indonesia atas Agresi Israel terhadap Gaza melalui pidato berbahasa Arab diliput oleh Stasiun televisi Satelit Suriah di KBRI Damaskus, 31 Desember 2008. Dubes Muzammil memberikan pernyataan kepada seluruh masyarakat Suriah mengenai keprihatinannya dan mengutuk keras serangan Israel terhadap Gaza. Serangan dengan menggunakan kekuatan militer adalah sangat berlebihan dan tidak proporsional. Pemerintah Indonesia juga meminta kepada Pemerintah Israel dan Pemerintah Palestina untuk memulai kembali proses dialog dan perdamaian. 

Dalam kesempatan lain, semasa bertugas di Suriah, Dubes Muzammil mengatakan kalau saja benar-benar ada kesadaran bangsa Arab dan umat Islam untuk bersatu-padu, maka dapat dipastikan bahwa tidak akan terjadi serangan zionisme Israel ke Jalur Gaza. 

Dubes Muzammil, sebagaimana dikutip dari bukunya, tanggal 1 Januari 2008, menyapa pirsawan TV Satelit Suriah untuk program “Albaladu Baladak” menyatakan bahwa Suriah adalah negara yang aman dan nyaman, masyarakatnya ramah, sopan dan toleran, serta memiliki banyak situs dan obyek wisata terutama wisata rohani/reliji, baik bagi umat Muslim maupun Kristiani. Masyarakat dunia kemudian menyaksikan betapa Suriah berubah menjadi negeri konflik, pemberontakan dan tanah air yang tidak aman. Semua itu terjadi akibat bara api konflik dan kekerasan yang dipicu tangan-tangan jahil dari dalam dan dari luar.

Muzammil tentu sangat prihatin dengan situasi negara yang pernah dialaminya dalam kondisi aman. Menurut data sampai akhir 2017, perang di Suriah telah membunuh lebih dari 340.000 orang sejak meletus pada 2011, termasuk di dalamnya 100.000 lebih penduduk sipil. Perang di Suriah telah menghancurkan sebagian besar ruang sosial dan infrastruktur negara serta menyebabkan jutaan orang mengungsi.  

Suatu ketika saya bertanya kepada beliau, “Seorang yang menjabat Duta Besar setelah pensiun tetap masih dipanggil Pak Dubes?” Jawab Muzammil, “Dalam pergaulan internasional panggilan Duta Besar melekat seumur hidup. Berbeda dengan menteri, setelah selesai menjabat tidak dipanggil menteri lagi.” Saya ingat sewaktu pelepasan jenazah mantan Dubes di Kuwait dan mantan Menteri Agama Munawir Sjadzali, Menteri Luar Negeri N. Hassan Wirajuda dalam pidatonya berkata, “Selamat Jalan Duta Besar Munawir Sjadzali”. 

Tanda Penghargaan dari dalam dan luar negeri yang pernah diterima almarhum, antara lain dari Panglima United Nations in the Service of Peace  (UNEF) tahun 1975, Bintang Satya Lencana Santi Dharma dari Menhankam/Pangab RI tahun 1975, Bintang Order of Kuwait Fourth Class dari Emir Kuwait tahun 1977, Piagam Penghargaan dari Menteri Luar Negeri Adam Malik (1976), Bintang Fourth Class of the Order of Merit dari Presiden Mesir Anwar Sadat tahun 1977, Bintang Satyalancana Karya Satya 20 tahun dari Presiden RI Soeharto tahun 1997, serta Bintang Syrian Order of Merit Medal of the Excellent Degree dari Presiden Basyar Al-Assad tahun 2010.

Perjalanan karier diplomatnya ke berbagai belahan dunia ditutup dengan pengabdian “mengurus masjid negara”, Masjid Istiqlal. Muzammil mendapat amanah sebagai Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal (BPPMI) dan dilantik oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada 22 Januari 2016. 

Setelah pensiun sebagai Duta Besar, masih terus menimba ilmu. Ia mengambil program doktor (S3) di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Suatu hari tanpa sengaja saya bertemu Muzammil di Stasiun Kereta Gambir. Ia mau berangkat ke Yogya. Saya mengantar tamu, Dr. Akhmad Soleh, seorang penyandang disabilitas tunanetra. Saya menitip tamu tersebut sama Pak Muzammil. 

Muzammil meraih gelar doktor dalam ujian sidang terbuka UGM tanggal 4 Juni 2016. Ia lulus setelah mempertahankan disertasi berjudul “Peran Indonesia Dalam Menyelesaikan Konflik Timur Tengah (Kasus Konflik Israel-Palestina)”. Disertasi Muzammil merupakan sumbangan pemikiran dan informasi yang bermanfaat untuk mendukung pelaksanaan diplomasi dan peran politik luar negeri Indonesia sehingga menurut hemat saya layak diterbitkan.  

Sewaktu menerima aktivis Lembaga Kemanusiaan Medical Emergency Rescue-Committee (MER-C) di kantornya di Masjid Istiqlal tanggal 19 Februari 2016 sehubungan rencana pembangunan rumah sakit di Tepi Barat, Palestina, Muzammil sangat mendukung rencana tersebut. “Saya terkejut ketika menerima kabar MER-C berhasil membangun rumah sakit di Gaza. Ketika saya menjadi Duta Besar Luar Biasa, saya pernah beberapa kali mencoba untuk memasuki area Masjid Al-Aqsha, tapi hasilnya nihil karena ketatnya pengamanan. Pernah suatu kali saya mendapat kesempatan itu, tetapi harus dibayar dengan mendonorkan darah kepada Israel, saya tolak itu. Maka dari itu, saya sangat mengapresiasi keberhasilan MER-C,” ujarnya. 

Di masa beliau selaku Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal menggantikan Drs. H. Mubarok, M.Si., diselenggarakan perayaan hari jadi (milad) Masjid Istiqlal yang ketiga, akhir Februari 2017. Perayaan Milad Masjid Istiqlal pernah diadakan tahun 1991 dan 1995.

Dalam rentang waktu 2015 – 2017, kami bertemu di dalam Tim Kelompok Kerja ICMI untuk pendirian Bank Wakaf. Pokja Bank Wakaf secara rutin mengadakan rapat di Kampus Universitas Al-Azhar Indonesia di Komplek Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Rapat biasanya dijadwalkan Jumat sore atau hari lain sesuai kesepakatan. Muzammil termasuk anggota Pokja yang rajin datang, di samping yang lain, seperti Dubes Dr. Zainulbahar Noor, dan lain-lain. Semangat mengabdi dan silaturahimnya dengan berbagai kalangan patut dicontoh.

Sampai terakhir saya bertemu sebelum beliau jatuh sakit, bahan percakapan kami ialah tentang perkembangan bank wakaf. Semoga gagasan bank wakaf seperti yang dicita-citakan dan dirancang oleh tim ICMI, dimana modalnya benar-benar dihimpun dari dana wakaf untuk pembiayaan modal usaha bagi rakyat kecil dan UMKM terwujud pada waktu yang tepat dengan persiapan teknis yang matang.

Di lembaga pendidikan Islam, Muzammil salah satu pembina Pesantren Modern Tazakka Batang Jawa Tengah. Seperti pernah diutarakannya, ia masuk pesantren dan menjadi santri karena pilihan pribadinya. 

Di tengah kesibukan pengabdian dalam urusan umat, sekitar Juni 2017 beliau masuk rumah sakit. Dalam waktu yang sama saya juga mengalami sakit sehingga dirawat di RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo. Pada hari saya pulang dari rumah sakit, dalam perjalanan ke rumah, saya singgah di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta membezuk Pak Muzammil. Beliau senang sekali dikunjungi dan memberi tahu barusan Pak Zainulbahar Noor juga ke sini sebelum saya tiba. 

Pada 17 Februari 2018, saya mengunjunginya di kediaman. Ketika  mau pamit, Pak Muzammil memberi isyarat agar kami berdoa bersama. Pak Muzammil dan Ibu Hj Diana Murni Muzammil mengaminkan doa yang dipimpin Ustad Mas’ud A. Mustari, Lc, MA yang saya ajak menemani ke rumah Pak Muzammil. Saat itulah perjumpaan terakhir saya dengan almarhum. Saya merenungkan, salah satu ciri orang baik dan ikhlas dalam persahabatan dengan sesama manusia ialah siapa saja yang kenal merasa dekat dengannya. 

Saat Allah memanggilnya dalam perawatan di RS Siloam Semanggi, jenazah almarhum Muzammil dibawa ke Masjid Istiqlal untuk dishalatkan. Ikut menshalatkan dan menyampaikan pidato belasungkawa atas nama pemerintah ialah Wakil Menteri Luar Negeri, Abdurrahman Mohammad Fachir. 

Esok harinya, Kamis (29/03,  pukul 09.00 WIB, jenazah almarhum dimakamkan di TPU Tanah Kusir Jakarta Selatan. Sebelum diberangkatkan dari kediaman, dishalatkan di masjid dalam komplek perumahannya. Direktur Timur Tengah, Sunarko, mengucapkan pidato pelepasan jenazah atas nama keluarga besar Kementerian Luar Negeri.

Sejumlah tokoh dan mantan pejabat hadir di tempat pemakaman, antara lain: Salahuddin Wahid (Gus Sholah), M. Din Syamsuddin, Zainulbahar Noor, Nasaruddin Umar, Bahrul Hayat, Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Senior Duta Besar Wirjono Sastrohandojo  menyampaikan sambutan perpisahan atas nama Forum Duta Besar. 

Selamat Jalan Duta Besar Muzammil Basyuni. Dengan iringan doa, semoga ditempatkan oleh Allah SWT di tempat yang mulia sebagai jiwa yang tenang dan damai kembali kepada-Nya. ***

M. Fuad Nasar
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf