Merdeka dari “Etnisitas” Digital

Pendidikan terkait erat dengan kualitas pembangunan manusia dan peradaban. Dalam sebuah ungkapan ritmis dan sekuensial, Mahatma Gandhi pernah memberi ujaran yang sejalan dengan asumsi tersebut, bahwa pikiran, ucapan, perilaku, dan karakter pada akhirnya akan membentuk jalan hidup seseorang. Dalam kehidupan nyata, siswa akan menghadapi tantangan yang akan menguji kualitas pembelajaran dan karakter yang membentuknya di lembaga pendidikan.

Karakter adalah identitas dan laku penghayatan seumur hidup. Pada sisi lain, upaya menanamkan karakter pada siswa merupakan tugas penting lembaga pendidikan. Dengan begitu, tidak berlebihan jika dikatakan pendidikan adalah episenter kehidupan.

Karakter siswa dan bagaimana lembaga pendidikan, khususnya guru, membentuk karakter tersebut, menghadapi tantangan yang sangat tidak mudah dewasa ini. Sebelum datangnya pandemi Covid-19, mentalitas dan karakter siswa telah diuji oleh derasnya arus internet dan digitalisasi di semua bidang. Pada saat yang bersamaan, anak zaman sekarang lekat dengan cara pandang VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity). Ketiganya mendorong kemungkinan kondisi negatif yang terbentuk dari kerumitan dan kerentanan kondisi sosial-budaya. 

Dalam konteks pembelajaran, pandemi Covid-19 membuka kemungkinan sulit lainnya. Anak dan remaja sebagai digital native telah beberapa waktu belakangan berada dalam dominasi asuhan pembelajaran dan kehidupan digital. Pola pengasuhan pembelajaran digital dengan segala dampaknya, sangat mungkin menjadikan pakem digital sebagai “etnisitas” baru dalam benak mereka. 

Krisis Kepercayaan

Etnisitas baru ini merujuk pada kondisi di mana anak dan remaja menjadi sangat tergantung secara digital untuk konsepsi diri dan komunalitas maya mereka. Dalam situasi tersebut, hampir semua yang membentuk konsep bersama dalam etnisitas digital didefinisikan secara maya: belajar, bermain, berkeluh kesah, hingga membentuk komunitas. 

Sejak belia, kedekatan komunal mereka dibentuk oleh adiksi online games, uang digital, haru-biru imajiner media sosial, dan kedekatan artifisial aplikasi messaging. Karakter serbaonline seperti ini tidak menyisakan ruang yang memadai untuk perkembangan individu yang orisinal, tangguh, dan berkarakter, karena mereka tumbuh dalam pelbagai kemudahan dan proses instan sebagai ciri khas budaya digitalisme.     

Sebagai entitas maya, kesemuanya bukanlah realitas sesungguhnya. Internet dan digitalisme telah berhasil memberi jarak dengan realitas atas nama perkembangan peradaban dan kini ditambah force majeur pendidikan maya sebagai dampak pandemi. Namun demikian, dalam hampir dua tahun proses pembelajaran dan interaksi sosial yang dominan dilakukan secara online, sangat mungkin mentalitas dan semangat diri siswa dan anak Indonesia berada pada titik kelelahan dan kebosanan yang menjadikan mereka mengalami krisis kepercayaan saat ini. 

Kepercayaan tersebut telah direbut “makhluk” digital dalam berbagai rupa kesenangan dan kebersamaan maya. Untuk itu, dibutuhkan nalar untuk membebaskan dan memerdekakan diri dari konsep etnisitas semu tersebut. Upaya pembebasan ini tidak berarti menisbikan sisi kemanfaatan digitalisme, namun mengimbanginya dengan sentuhan emotif dan kemanusiaan.    

Sentuhan Emotif

Salah satu yang perlu mendapat perhatian bersama adalah perlunya sentuhan emotif pada kondisi etinisitas digital. Sentuhan ini setidaknya berpijak pada beberapa hal. 

Pertama, pentingnya lembaga pendidikan,  terutama guru, untuk bukan hanya menuntaskan materi pengajaran, namun juga memperhatikan kondisi sosial-emosional siswa. Kebermanfaatan digital dalam hal memudahkan penyampaian materi pembelajaran dan menjembatani keterbatasan interaksi perlu dimbangi dengan upaya komunikasi emotif yang bukan hanya berisi materi pembelajaran.             

Kedua, menumbuhkan rasa saling percaya. Sekian waktu berada dalam kepengasuhan digital dengan dukungan sarana komunikasi dan interaksi online, anak-anak tersebut sangat mungkin berada dalam kesepian dan kesulitan dalam menemukan diri sendiri. Lembaga pendidikan, beserta segenap pemangku kepentingan, patut membantu siswa dalam membangun kembali kepercayaan terhadap proses pendidikan dan keyakinan akan kondisi yang lebih positif ke depan. 

Ketiga, membangun kabajikan bersama untuk menghadapi kenyataan disrupsi teknologi. Perkembangan internet dan digitalisasi pada beragam aspek kehidupan hadir dengan semua dampak positif dan negatif secara bersamaan. Hal ini memerlukan sikap dan kebajikan tersendiri; bahwa sebagaimana ketidakpastian adalah kepastian itu sendiri, maka menyadari hidup bersama kerentanan digital adalah kenyataan hidup sesungguhnya kini.   

Perkembangan teknologi informasi dengan internet dan disrupsi digitalisme harus diterima  sebagai kenyataan dan dihadapi sebagai bagian dari gerak peradaban yang mengandung ketidakpastian, namun juga menyimpan harapan baik. Pada titik ini, penting kiranya ditekankan bahwa pada diri setiap anak yang berkarakter terdapat kehendak dan sikap untuk menjadikan diri sebagai penguasa dan pengontrol atas rupa-rupa perkembangan teknologi informasi dan digitalisme di dalamnya dengan nalar positif. Makna dasarnya adalah menjadikan perkembangan teknologi sebagai sarana kolaborasi dengan kontrol dan kepercayaan pada diri sendiri, serta tetap menjadikan sarana kebersamaan antarindividu sebagai wahana bersosialisasi sesungguhnya.    

Pada akhirnya, perlu disadari bahwa pada mulanya jagat internet dan teknologi digital pada dasarnya berkembang dan didesain oleh dan untuk orang dewasa. Kini, perkembangan pesatnya telah secara luas memengaruhi hidup dan masa depan anak-anak, dan dalam beberapa hal bahkan mewarnai pembentukan karakter mereka dalam komunalisme maya dengan segala dampaknya.  Oleh karenanya, keluarga, lembaga pendidikan, dan para pemangku kepentingan lainnya perlu mendorong dan memastikan produk, praktek, dan kebijakan digital yang mampu mewakili dan merefleksikan kebutuhan anak secara nyata.

 

Saiful Maarif, Asesor SDM Aparatur Ditjen Pendidikan Islam Kemenag