Peranan Agama dalam Kehidupan Keseharian Umat

Agama berperan sangat penting dalam mengatur sendi-sendi kehidupan manusia dan mengarahkannya kepada kebaikan bersama. Agama dan beragama adalah satu kesatuan namun memiliki makna yang berbeda. 

Agama merupakan sebuah ajaran kebaikan yang menuntun manusia kembali kepada hakekat kemanusiaannya. Beragama artinya kita berupaya belajar untuk mengamalkan ajaran agama dalam setiap aspek kehidupan, agar terjalin hubungan yang indah dan harmonis antar sesama, alam semesta maupun dengan Tuhan.

Perspektif agama dan beragama dalam keimanan Khonghucu tersurat di dalam Kitab Zhongyong (Tengah Sempurna) bab Utama : 1. Yang berbunyi: "Tian Ming Zhi Wei Xing. Shuai Xing Zhi Wei Dao. Xiu Dao Zhi Wei Jiao" (Firman Tian itulah dinamai watak sejati. Berbuat mengikuti watak sejati itulah dinamai menempuh Jalan suci. Bimbingan menempuh jalan suci itulah dinamai Agama)

Agama Khonghucu  mensyarakatkan tuntunan moralitas sebagai bagian iman secara keseluruhan. Tak ayal, moralitas yang ditekankan agama Khonghucu bersifat mengikat kepada setiap penganutnya dan umat memiliki kewajiban untuk terus belajar membina dirinya agar benih-benih Kebajikan yang terkandung dalam watak sejati memancar keluar lewat prilaku baik melalui ucapan maupun perbuatan. Sebagaimana yang tersurat dalam Kitab Zhong Yong Utama: 1 di atas, Firman Tian itulah yang dinamai Watak Sejati.

Watak Sejati (Xing) adalah karunia Tian yang berupa benih-benih Kebajikan, yakni : Cinta Kasih, Kebenaran, Kesusilaan dan Kebijaksanaan. Mengzi berkata, "Rasa hati berbelas kasihan tiap orang mempunyai, rasa hati malu dan tidak suka  tiap orang mempunyai, rasa hati hormat dan mengindahkan tiap orang mempunyai dan rasa hati membenarkan dan menyalahkan tiap orang juga mempunyai. Adapun rasa hati Berbelas-Kasihan itu menunjukkan adanya benih Cinta Kasih, rasa hati Malu dan Tidak Suka itu menunjukkan adanya benih kesadaran Menjunjung Kebenaran, rasa hati Hormat dan Mengindahkan itu menunjukkan adanya benih Kesusilaan, dan rasa hati Membenarkan dan Menyalahkan itu menunjukkan adanya benih Kebijaksanaan. Cinta Kasih, Kebenaran, Kesusilaan dan Kebijaksanaan itu bukan hal-hal yang dimasukkan dari luar ke dalam diri, melainkan diri kita sudah mempunyainya. Tetapi seringkali kita tidak mau Mawas Diri. Maka dikatakan, "Carilah dan engkau akan mendapatkannya, Sia-siakanlah dan engkau akan Kehilangan!.  Sifat orang memang kemudian berbeda-beda, mungkin berbeda berlipat dua sampai lima atau bahkan tidak terhitung; tetapi itu tidak dapat dicari alasan kepada Watak Sejatinya". (Mengzi VI A : 6.7) Watak Sejati (Xing) itulah karunia Tian kepada setiap insan. 

Berbuat mengikuti watak sejati itulah dinamai menempuh Jalan Suci. Pengamalan akan watak sejati (benih-benih Kebajikan) dalam kehidupan, inilah yang dinamai hidup menempuh Jalan Suci. Ajaran agama lah yang mencerahkan umat akan Watak Sejati (Xing) karunia Tian yang bersemayam di dalam dirinya dan wajib untuk ditumbuh-kembangkan dalam kehidupan. Menumbuh kembangkan watak sejati dengan cara membina diri secara berkesinambungan.

Bimbingan menempuh Jalan Suci itulah dinamai agama. Tuntunan agar manusia  dapat selaras dengan hakikat kemanusiaannya itulah tujuan dari beragama. Manusia dibimbing oleh ajaran mulia para Nabi agar segenap kehidupan yang dijalaninya harmonis, berupaya menjaga agar ucapan senantiasa selaras dengan perbuatan . 

Secara lebih terperinci, pentingnya peranan agama dalam kehidupan keseharian umat, akan dapat dipahami dalam poin-poin berikut:

Pertama, ajaran agama berperan dalam menghidupkan nilai-nilai luhur moralitas. Agama Khonghucu mempunyai tujuan untuk menghidupkan nilai-nilai moralitas agar umat menjadi Berbudi Pekerti, dapat menjadi insan Confusian yang tidak hanya berguna buat dirinya pribadi, tetapi akan dapat menjadikan dirinya berguna buat keluarga, masyarakat, agama, bangsa, dan negara. Ajaran  Agama Khonghucu menitikberatkan akan nilai-nilai luhur yang menuju kepada prinsip-prinsip kebaikan. Hal ini terjabarkan dalam ajaran Delapan Kebajikan, yakni: 1. Xiao (Berbakti), 2. Ti (Rendah Hati), 3. Zhong (Satya), 4. Xin (Dapat Dipercaya), 5. Li (Susila), 6. Yi (Kebenaran), 7. Lian (Suci Hati), dan 8. Chi (Tahu Malu).

Kedua, agama menjadi sumber kekuatan semangat bagi umat dalam menjalani rutinitas kehidupan. Nilai-nilai spiritualitas agama dapat menghidupkan kekuatan dalam diri umat untuk mampu menghadapi pelbagai permasalahan hidup, dan berperan sebagai benteng kokoh yang melindunginya dari serangan keputusasaan dan hilangnya harapan.

Di dalam kitab Yi Jing, Babaran Agung A  IV : 22-22 tersurat, "Beroleh perlindungan Tuhan YME, Rahmat, tiada yang tidak membawa Berkah". Nabi bersabda, "Perlindungan berarti Bantuan. Yang diberi bantuan Tuhan YME, ialah orang yang Patuh-Taqwa. Yang diberi bantuan manusia ialah orang yang mendapat Kepercayaan."

Ayat Suci di atas akan menjadikan umat berusaha untuk memperoleh bantuan dalam setiap permasalahan hidupnya, baik bantuan dari sesama maupun bantuan dari Tuhan. Namun, untuk mendapatkan bantuan dari Tuhan, umat harus bertakwa. Selain bersembahyang dan beribadah, mengimplementasikan ajaran agama dalam kehidupan adalah salah satu bentuk takwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. 

Ketiga, agama berperan menjadi pegangan dan pedoman hidup bagi umatnya, sekaligus  menjadi tolak ukur yang mengatur tingkah laku penganutnya dalam kehidupan sehari-hari. Baik atau tidaknya tindakan seseorang, tergantung pada seberapa taat dan seberapa dalam penghayatan terhadap ajaran agama yang diimaninya.  

Di saat umat menghadapi suatu cobaan dan penderitaan dalam hidupnya, iman yang kuat terhadap agama akan dapat menguatkannya. Penderitaan dan cobaan yang dialaminya, diyakininya sebagai ujian dari Tuhan untuk menjadikannya orang Besar (berhasil sukses).

Tertulis di dalam Kitab Mengzi Vi B : 15, "Begitulah kalau Tuhan YME hendak menjadikan seseorang Besar, lebih dahulu disengsarakan batinnya, dipayahkan urat dan tulangnya, dipaparkan badan kulitnya, dimiskinkan sehingga tidak punya apa-apa, dan digagalkan segala usahanya. Maka dengan demikian digerakkan hatinya,diteguhkan watak sejatinya, dan bertambah pula pengertiannya tentang hal-hal yang ia tak mampu......"

Dari ayat di atas, umat akan dapat memahami bahwa cobaan dan penderitaan hidup yang dialaminya adalah tangga yang disediakan Tuhan untuk meninggikannya. Maka Agama berfungsi sebagai benteng yang kokoh, yang menjadi pelindung kehidupan umat dari badai kehidupan. 

Keempat, agama berperan membentuk perilaku keseharian umat.  Ajaran Agama Khonghucu mengedepankan ajaran moral dan etika untuk membentuk kepribadian umat agar lebih dapat memahami hakikat kemanusiaannya,  memanusiakan manusia.  Zi  Gong, seorang murid nabi bertanya, "Adakah satu kata yang boleh menjadi pedoman sepanjang hidup?". Nabi bersabda, Itulah Tepasalira! (memahami sesama). Apa yang diri sendiri tiada inginkan, jangan diberikan kepada orang lain." (Lunyu XV : 24)

Dalam menjalani kehidupan ini, ajaran agama Khonghucu mengajarkan kepada umatnya, bahwa apapun yang terjadi adalah karena buah dari perbuatan diri sendiri. Moralitas umat akan terbentuk menjadi baik, bila umat senantiasa membina dirinya dengan mempedomani ajaran agama yang diimaninya. Selain itu untuk menjalani kehidupan ini dengan penuh harmoni, umat Khonghucu harus senantiasa berupaya membina dirinya agar dapat berhenti pada Tempat Hentiannya masing-masing.  Di dalam Kitab Daxue Bab III ayat 2 dan 3 tersurat;

Di dalam Kitab Sanjak (Shujing) tertulis, "Berkicau burung kepodang, hingga jauh di gunung rimbun." Nabi bersabda, "Seekor burung hanya, namun tahu dia Tempat Hentian. Teralahkah Manusia oleh seekor burung?"

Di dalam Kitab Sanjak tertulis, "Sungguh agung dan luhur Raja Wen-Bun, betapa gemilang budinya karena selalu di Tempat Hentian. Sebagai Raja ia berhenti di dalam Cinta Kasih; sebagai menteri berhenti pada sikap Hormat (akan tugas); sebagai anak berhenti pada sikap Bakti; sebagai ayah berhenti pada sikap Kasih Sayang; dan di dalam pergaulan dengan rakyat senegeri berhenti pada sikap Dapat Dipercaya."

Peranan agama dalam hidup keseharian umat sangatlah besar. Dalam menjalani rutinitas kehidupan ini, kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani menjadi kebutuhan dasar bagi manusia. Ajaran agama dan mengamalkan ajaran agama adalah sarana untuk memenuhi kebutuhan rohani bagi umat Khonghucu.

Keseimbangan antara jasmani dan rohani akan menghasilkan harmonisasi dalam kehidupan ini. Dengan mempedomani ajaran agama dalam kehidupan, akan menjadikan kita mampu untuk dapat  menghormati dan menghargai perbedaan diantara sesama. 

Huang Yi Shang Di. Wei Tian You De. Shanzai.

Js. Ngiat Hiung (Penyuluh Agama Khonghucu non PNS Bangka Belitung)
 


TERKAIT

Konsep Dasar Beragama Hindu

Akhir Zaman: Quo Vadis?

Iman yang Berkemenangan

Pahlawanku adalah Inspirasiku

Punia Pandemi