Pintu Selalu Terbuka

Saudara-saudari yang terkasih. Saat ini kita sudah memasuki Hari Minggu Prapaskah V. Hari Minggu Prapaskah ini kita hayati sebagai masa pertobatan. Kita mempersiapkan diri untuk memperingati sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus yang menebus dosa umat manusia. 

Bacaan hari ini mengingatkan kita pada masa Allah menuntun umat Israel yang terkadang menjauhkan diri dari-Nya. Kendati demikian, Allah tetap menyertai dan mengasihi umat Israel serta menawarkan keselamatan. Allah senantiasa memberikan kesempatan pada umat-Nya untuk meninggalkan kehidupan di masa lalu untuk hidup dalam dunia yang baru, yakni dunia dalam kasih Allah. 

Kita juga diajak untuk mengetahui kesaksian Paulus. Seperti kita ketahui, sebelum menyandang nama Paulus, ia adalah seorang pemburu pengikut Kristus. Namun dalam perjalanan hidupnya, ia merasakan bahwa Allah telah menangkap dirinya dan membawa hidupnya pada pertobatan. Paulus menanggapi panggilan Allah dengan bertobat: “melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku”. 

Kasih Allah diwahyukan dalam diri Yesus pada Perjanjian Baru. Seorang perempuan dibawa ke hadapan Yesus karena tertangkap sedang berbuat zinah untuk mendapat hukuman. Namun Yesus mengasihi dan mengampuni perempuan itu dengan berkata, “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Dalam kehidupan kita saat ini, kita mungkin tahu bahwa ada tindakan yang membawa kita jauh dari Allah. Pertanyaan saat ini adalah: apakah kita selalu ingat dan sadar bahwa Allah senantiasa mengampuni kita? Apakah hal itu justru membuat kita semakin nyaman menjauhkan diri dari Allah? 

Allah tidak terlihat di persimpangan jalan, menunggu di bawah pohon rindang sambil berkacak pinggang. Allah juga tidak menampakkan diri di etalase toko sambil memerhatikan kita menyeberang jalan. Namun ketika kita mengalami kejatuhan dalam hidup atau memilih untuk menjauh dari kasih-Nya, Allah tidak meninggalkan kita. Kasih Allah menerima setiap kita dalam segala keadaan. Allah senantiasa menyediakan tempat bagi kita untuk berbalik dari kesalahan dan menjalani pembaruan hidup dalam kasih-Nya.

Kita bisa merasakan kasih Allah dalam berbagai hal, mulai yang sederhana hingga yang kompleks. Allah menyapa kita dalam angin yang berhembus, dalam sosok rekan kerja yang membantu kita, bahkan dalam figur pemimpin yang mendorong kita untuk mengembangkan potensi-potensi diri. Apakah kita juga kerap mengabaikan sapaan Allah dan memilih untuk menjauhi kasih-Nya? Pintu pengampunan selalu terbuka untuk kita. Sebuah kursi kosong selalu menunggu kita agar kembali duduk bersama-sama dalam perjamuan dengan Allah.

Sebagai anak-anak Allah, segala perbuatan kita diharapkan berakar dari rasa syukur atas perjumpaan dengan Allah. Apakah kita akan menunggu lebih lama lagi untuk memasuki kehidupan baru dalam kasih Allah yang memberdayakan hidup kita? Marilah kita mempersiapkan batin kita untuk menyambut Paskah Tuhan dengan sungguh-sungguh menyadari kesalahan dan menjalani pertobatan.

A.H. Yuniadi (Kasubdit Penyuluhan)