UIN Yogyakarta Akan Beri Gelar Doktor HC untuk Sri Paus dan Grand Syekh Al Azhar

Jakarta (Kemenag) --- Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta berencana memberikan gelar kehormatan Doktor Honoris Causa (HC) kepada sejumlah tokoh agama dunia.

“Kita sudah ajukan, dan yang kita ajukan alhamdulillah mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Semoga ini mendapat pengaruh pada tingkat nasional dan internasional,” kata Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Al Makin saat beraudiensi dengan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas melalui zoom, Senin (26/7/2021).

Al Makin menyampaikan bahwa Doktor (HC) akan diberikan kepada Sri Paus, Vatikan dan Grand Syekh Al Azhar. “Kami dari pihak UIN SUKA Yogya sudah bertemu dan berkoordinasi dengan Mensesneg, Menlu dan pihak terkait. Semua menyambut baik untuk pemberian gelar kehormatan ini,” kata Al Makin.

“Terkait teknis pemberian gelar kehormatan Doktor (HC) bisa dengan zoom, atau dengan menghadirkan kedua tokoh agama dunia ini ke Indonesia. Jika kedua tokoh agama dunia ini berkenan hadir di Indonesia, akan memberi inpact luar biasa bagi dunia Internasional,” tambah Al Makin.

Romo Baskara T Wardaya juga mendukung rencana yang sudah disampaikan Rektor UIN SUKA Yogya, Al Makin. Sebab, pemberian gelar kehormatan Doktor (HC) kepada tokoh agama dunia akan berpengaruh besar bagi bangsa dalam mengembangkan dan membangun sikap toleransi dan moderasi.

“Sudah saatnya kita bersinergi untuk kemanusiaan,” kata Romo Baskara T Wardaya.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas pada prinsipnya, medukung dan mendorong rencana pemberian gelar kehormatan Doktor (HC) kepada kedua tokoh agama dunia ini. Tentu dengan memperhatikan regulasi yang ada, agar tidak ada yang mempersoalkan di kemudian hari.

“Kehati-hatian itu jauh lebih penting. Jika sesuai regulasi, secara administrasi bisa diberi gelar kehormatan, saya mendorong ini untuk ditindaklanjuti,” kata Gus Yaqut.

Bagi Gus Yaqut, pemberian gelar kehormatan Doktor (HC) bagi tokoh agama dunia ini sejalan dengan rencana Presiden Joko Widodo pada tahun 2022 sebagai tahun toleransi.

“Ini nyambung dengan pencanangan Presiden pada 2022 sebagai tahun toleransi. Pemberian gelar kehormatan kepada kedua tokoh, momentumnya sangat kuat. Menghadirkan kedua tokoh di Indonesia menjadi opsi pertama,” tambah Gus Yaqut.

Untuk itu, Gus Yaqut meminta kepada Rektor UIN SUKA Yogyakarta dan Dirjen Pendis mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. “Media Kemenag siap membantu, agar resonansi dan keinginan ini berjalan dengan baik,” kata Gus Yaqut.

Tampak hadir dalam zoom, Dirjen Pendis M Ali Ramdhani, Kapus PKUB Nifasri dan Direktur Diktis Suyitno.