Yaqut Cholil Qoumas

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas akhir Februari lalu menjadi tokoh yang ramai diperbincangkan menyusul terbitnya SE Menteri Agama Nomor 05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pegeras Suara di Masjid dan Mushola. Pusat perbincangan tentangnya bukan pada esensi edaran itu sendiri, tetapi contoh yang digunakannya saat menjawab pertanyaan wartawan di Pakanbaru terkait edaran yang dikeluarkannya 08 Pebruari 2022 tersebut.

Ia menjadi sorotan atas komitmennya dalam menjaga hubungan antar umatberagama yang lebih harmonis. Artikel ini menyajikan sebuah catatan prospektif atas upayanya mewujudkan Semangat Baru Kementerian Agama dan Kementerian Agama Baru. 

***

Yaqut Cholil Qoumas memang seorang menteri. Menteri Agama Republik Indonesia. Secara subyektifitas, beliau adalah menteri saya, karena saya ASN Kementerian Agama. Dalam raker Kementerian Agama jika harus menyebut Menteri Agama, saya lebih suka menyebutnya Gus Menteri ketimbang nama lengkapnya yang sedikit susah bagi lidah saya. Karena di republik ini slip of mind lebih mudah dipahami ketimbang slip of tongue. Kesleo lidah -terutama menyangkut kehidupan beragama- akan cepat menjadi satu isu politik yang ditanggapi luas, bahkan bisa berakhir di bui, betapapun dalam hal lain, sebuah slip of tongue selalu bisa menjadi pengalaman baru yang menggairahkan. 

Sebelum menjadi Menteri Agama, ia anggota DPR-RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Namun jauh sebelum itu saya lebih mengenalnya sebagai Ketua Umum PP GP Ansor.  Di kalangan sahabat Ansor dia dikenal sebagai Gus Yaqut. Dia juga tokoh Nahdlatul Ulama. Saya memang menyukainya. Bukan karena dia menteri saya. Ada pameo yang mengatakan, kita menyukai anak-anak karena kepolosannya, kita menyukai orangtua karena kebijaksanaannya. Kita menyukai anak muda karena semangatnya.

Saya menyukai Gus Yaqut karena semangat pendobrakannya bersama Ansor terutama berkenaan dengan pluralisme dan demokrasi. Dengan pujian atau dengan sinisme, pernyataannya yang bergelora, ingin menjadikan agama sebagai inspirasi bukan aspirasi yang digunakan menjadi alat politik, baik untuk menentang pemerintah, merebut kekuasaan, maupun mungkin untuk tujuan-tujuan yang lain, ketika ditunjuk Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Agama, cepat mendapat simpati. Demikian juga tekadnya melindungi hak-hak kaum minoritas di Indonesia; niatnya untuk mencegah penyebaran populisme Islam di Indonesia dan mewujudkan semangat persaudaraan, menunjukkan bahwa ia  terpanggil menjadi wacana alternatif.

Dalam sambutan perdananya sebagai Menteri Agama pada HAB Kementerian Agama, 3 Januari 2021, ia tampil dengan wacana “Semangat Baru Kementerian Agama dan Kementerian Agama Baru.” Ia tidak ingin Kementerian Agama yang ada namanya agama, namun tidak mencerminkan agama dalam tata kelola, seperti kata Gus Dur, Kementerian Agama itu seperti pasar, semua ada, kecuali agama. 

***

Sebagai Menteri Agama ia musti mengayuh di antara kompromi-kompromi yang selama ini melingkupi Kementerian Agama, namun gebrakannya mengesankan. Ia sejatinya seorang pemimpin gerakan yang tak suka dengan penalaran yang rigorios seorang filosof dan kehati-hatian yang nyelimet dari seorang ahli fiqih. “Saya akan menjalankan manajemen barisan,” katanya kepada seluruh jajaran Kementerian Agama. “Kalau yang di depan berjalan dengan kaki kanan yang melangkah duluan, maka yang di belakang akan ikut melangkah dengan kaki kanan. Bila ada yang keberatan melangkah bersama kami silahkan keluar dari barisan.”  Bahkan tak tanggung-tanggung ia menegaskan akan menerapkan manajemen kereta api, melindasi saja apa-apa yang menghalangi gerak maju tekadnya mewujudkan kehidupan yang rukun antar umatberagama.

Tentu bisa dibayangkan, apa yang terjadi. Karena itu tidak sedikit juga orang yang sejak awal penunjukkannya sebagai Menteri Agama, sebut saja Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, yang dalam diskusi Newsmeker by Medcom.id, Sabtu, 26 Desember 2020 mengingatkan Gus Yaqut agar meninggalkan gaya kepemimpinan saat menjadi Ketua Umum PP GP Ansor. Gus Yaqut harus paham dengan fungsi menteri. Gayanya harus diubah, dulu mungkin bukan pejabat negara, jadi gagah-gagahannya diganti. 

Tetapi ia sepertinya memiliki prinsip tersendiri. Dengan mengutip kritik Gus Dur, Kementerian Agama itu ibarat pasar, semua ada kecuali agama, ia sebenarnya tidak hanya sekadar mengingatkan pejabatnya akan kelemahan struktural Kementerian Agama tetapi bertekad membantu membebaskan aparaturnya dari perbudakan yang ingin menjadikan Kementerian Agama sebagai alat kepentingan. Ini tentu tidak mudah, mungkin juga bagaikan menempuh jalan tak ada ujungnya. Ada banyak yang disfungsional, struktur bisa disfungsional, undang-indang bisa disfungsional. 

Untuk mengembalikan agama ke pangkuan Kementerian Agama dibutuhkan keberanian yang luar biasa dengan langkah-langkah yang kadang bisa mengakibatkan konflik. Tapi seperti presiden Jokowi, ia bukan tipe pemimpin yang yang mau distel untuk tetap berada pada tempatnya demi mempertahankan statusquo. Maka  ia menyeruak keluar dari kerumunan pasar untuk membebaskan orang-orangnya. Ia menyeruak keluar dari barisan untuk melihat kesatuan gerak barisannya. Juga untuk memastikan adakah ketakutan akan konflik yang menghalangi-halangi jajarannya mewujudkan Semangat Baru Kementerian Agama dan Kementerian Agama Baru. Mengapa?

***

Sebagai anak ideologis Gus Dur, kita boleh mengatakan ia juga seorang tokoh civil society. Orang memang menyebut ia menteri dari PKB. Tapi kekuatan utamanya adalah karena ia sebenarnya datang dari arus bawah. 

Ia memang datang dari tempat tak terduga, dan karena itu bagi saya ia salah satu kejutan Tuhan bagi bangsa ini. Ketika, atmosfir kehidupan beragama dipenuhi dengan perlombaan agama-agama memaksakan pengakuan atas eksistensinya ke ruang publik dengan menggunakan aksi-aksi kekerasan atau terorisme, ia tampil sebagai antitesa yang membuat orang disadarkan kembali akan dimensi politis dari agamanya yang sudah lama diingkari atau disepelekan. Agama sejatinya menginspirasi, karena agama untuk kemanusiaan.

Agama menginspirasi bukan karena di negeri ini agama masih dijadikan bagian dari pendefinisian diri warga, atau bendera ketidakpuasan terhadap pemerintah. Ia ingin menjadikan agama sumber kekuatan untuk memperjuangkan perubahan situasi; sebagai inspirator dan motivator memperjuangkan pembebasan dari praktik ketidakadilan. Sebagai pemimpin banser ia agakanya sadar betul bahwa koalisi situasi ketertindasan dan identifikasi diri sebagai orang beragama mengandung potensi perlawanan yang kuat. Asal dilakukan secara agamawi, bukan sebagai kekuatan politik ketiga atau keempat.

Maka tak mengherankan kalau ia mulai membentuk tunas-tunas di tengah situasi yang terkulai oleh koyaknya rasa persaudaraan. Ia menguak barisan dan menyodorkan intisari. Banyak pemikir menyodorkan konsep dan memotivasi orang untuk untuk hidup berdamai, tetapi  ia menyodorkan intisari. Orang beragama musti bersaudara. Bersaudara berarti ada kesediaan berbagi, ada kepedulian satu sama lain, juga ada kerendahan hati untuk saling memahami dan menumbuhkan harapan. Moderasi beragama dibuatnya menjadi inter-hope-dialogue, dialog antar dan mengenai harapan. Cara setiap umat beragama seyogyanya senantiasa menjadi penyulut harapan dan bukan horor yang menakutkan dan memangkas semangat hidup bersaudara.

***

Mungkin rencananya tidak seratus persen benar, tetapi ia harus berbuat sesuatu untuk negeri ini dari rongrongan orang-orang yang mengganggu toleransi dan menampik pluralisme. Dan untuk itu ia bersedia menyeruak barisan. Ia tak mengekor kerumunan orang banyak. Ia memimpinnya. Ia tidak melaporkan berita. Ia membuat berita. Di negeri ini, informasi negatif itu bebas. Informasi positif harus kita cari sendiri, tetapi bagi Gus Yakut ia tak perlu mencari informasi positif, ia menciptakannya sendiri.

Kerukunan beragama tidak dilihatnya sebagai kondisi tidak adanya pertentangan yang berkepanjangan dalam hubungan antar umat beragama. Baginya -setidaknya sependek ingatan saya mengikuti arahannya - kerukunan adalah suasana di mana semua umat beragama di negara ini hidup saling memahami dan sanggup menyelesaikan perbedaan pendapat di antara mereka secara damai. Kerukunan dalam arti ini hanya dapat terwujud di dalam kebebasan. 

Tanpa kebebasan beragama, kerukunan antarumat beragama yang diciptakan tidak lebih dari sekadar kehidupan berdampingan yang dipaksakan. Kerukunan hidup umat beragama yang langgeng dan bermutu menuntut pengakuan dan jaminan kebebasan beragama. Dalam pandangan ini ia melihat melihat segala sesuatunya hidup. 

Kesediaan kita menjadi umat beragama yang baik tergantung dari kerendahan hati kita untuk keluar dari struktur diri yang tertutup dan menjumpai yang lain sebagai saudara. Ia tahu benar bahwa selama ini setiap Direktorat di Kementerian Agama telah hidup bertetangga. Namun itu belum cukup. Setiap jajaran Kementerian Agama dan umatberagama mesti menjadi saudara bagi yang lain dan bertanggungjawab satu terhadap yang lain sebagai saudara. Maka ia dengan tahu dan mau mencitakan diskursus untuk menghasilkan konvergensi dan konsensus dalam kehidupan berasama tanpa masing-masing harus merasa kehilangan jati dirinya yang khas.

***

Mewujudkan Kementerian Agama Baru bukan hal yang mudah. Bukan karena ibarat menegakkan benang basah, tetapi lebih pada adanya “hair splinting politics” yang terlihat dalam fragmentasi kepentingan di tubuh Kementerian Agama, pun kalangan umat beragama. Maka ia merupakan sebuah on going formation – pembentukan tak kunjung henti. 

Tapi on going formation, bukan sebuah remedial teaching. Pembentukan yang berkesinambungan mewujudkan Kementerian Agama Baru membutuhkan seorang professional yang tanggap atas keadaan riil Kementerian Agama saat ini dan ambang batas harapan masyarakat, sehingga bisa menggenjot aparaturnya bekerja di atas ambang batas itu.  Non vestimentum virum ornat, sed vir vestimentum, kata orang Latin. Bukan pakaian yang memberi arti pada seseorang, akan tetapi dia yang memberi arti pada pakaiannya. 

Tampaknya Yaqut Cholil Qoumas dengan penuh kesadaran sedang menciptakan citranya sendiri dan dengan itu juga membangun citra Kementerian Agama yang dipimpinnya, untuk mewujudkan Indonesia Maju sebagai baldatun thayyibatun dalam peri kehidupan yang rukun dan berkebebasan. Dengan menyadari semua itu, sebagai masinis lokomotif kereta Kementerian Agama - mungkin ia terpaksa harus melindas semua yang menghalangi jalannya - tetapi itu tak membuat dirinya kehilangan roh dari setiap agama yang dilayaninya. 

 

JB Kleden (Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Kupang)