Rabu, 24 April 2013 –
Yordania Tawarkan Indonesia Kerjasama Wisata Religi

Jakarta (Pinmas) – Prof. Dr. Abdul Salam Al Abbadi, mantan Menteri Wakaf dan Urusan Islam Kerajaan Yordania menawarkan kepada Indonesia untuk menjalin kerja sama dalam bidang pariwisata religi, karena banyak warga Indonesia berkunjung ke negara itu untuk melihat langung tempat-tempat bersejarah Islam.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam jumpa pers seusai pembukaan Konferensi tentang Islam, Peradaban dan Perdamaian yang dibuka Menteri Agama Suryadharma Ali di Hotel Borobudur Jakarta, Selasa (23/4).

Pertemuan dengan kalangan media massa itu juga dimanfaatkan Abdul Al Abbadi untuk menjelaskan tentang tingginya animo warga Indonesia ke negeri yang penuh dengan sejarah Islam. Karena itu, menurut Al Abbadi, alangkah baiknya jika Jemaah haji Indonesia seusai menunaikan ritual haji, ketika hendak kembali ke tanah air dapat menyempatkan diri untuk bertandang ke Yordania.

“Bisa dikemas dalam bentuk wisata berkelompok,” pinta mantan Menteri Wakaf dan Urusan Islam Kerajaan Yordania itu.

Ia pun menjelaskan, Raja Yordania akan memfasilitasi Jemaah dari Indonesia jika menyempatkan untuk berkunjung ke Masjidil Aqsa. Dalam sejarah, Masjid Al-Aqsa merupakan tempat suci ketiga oleh umat Islam selain Masjidil Haram (Mekkah), Masjid Nabawi (Madinah). Umat Muslim percaya bahwa Muhammad diangkat ke Sidratul Muntaha dari tempat ini setelah sebelumnya dibawa dari Masjid Al-Haram di Mekkah ke Al-Aqsa dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.

Karena itu diharapkan Indonesia dapat membuat program pariwisata ke Yordania lebih baik. “Kami akan memberi fasilitas,” ia menjelaskan.

Menanggapi hal itu, Menteri Agama Suryadharma Ali memberi apresiasi kepada Kerajaan Yordania, khususnya Raja Abdullah, yang telah memelihara tempat-tempat bersejarah di negara itu. Umat Islam di Indonesia memang sangat menaruh perhatian besar terhadap tempat sejarah Islam di kawasan Timur Tengah, termasuk di Yordania. Pengetahuan tentang tempat bersejarah bagi umat Islam itu sudah diajarkan sejak umat Islam belajar di Pondok Pesantren dan Madrasah. Karena itu, ke depan, ia akan mengupayakan adanya program wisata religi ke Yordania.

Antikekerasan

Menjawab pertanyaan seputar masih adanya umat melakukan tindakan kekerasan atas nama agama Islam, Al Abbadi mengatakan, pihaknya akan membentangkan konsep penangkal pada konferensi yang berlangsung selama dua hari itu.

“Karena untuk ini, saya datang membawa para akhli untuk menjelaskan tentang itu,” katanya.

Tapi yang jelas, pihaknya sangat mengutuk tindakan kekerasan atas nama agama. Sebab, Islam tak mengajarkan kekerasan seperti itu.

Menteri Agama juga mengatakan, pihaknya sangat mengutuk setiap aksi kekerasan atas nama agama. Tidak dibenarkan tindakan seperti itu. Dan Indonesia sendiri —yang terdiri dari 17000 pulau, 1200 suku, 720 bahasa daerah dan agama-agama, — sebagai negara majemuk sangat memperhatikan toleransi. Indonesia mampu menjaga kesatuan dengan tetap saling hormat-menghormati kehidupan agama yang berkembang.

Itu bisa ditunjukan ketika berlangsung musabaqah tilawatil Quran di Ambon. Ketika MTQ di daerah itu berlangsung, pihak gereja menyerahkan penginapan untuk dijadikan tempat para kafilah. Demikian sebaliknya ketika berlangsung pesta kesenian paduan suara gereja, yang menjadi panitia adalah umat Islam, cerita Suryadharma Ali. ‘Jika ada konflik, menurut dia, itu wajar selama tidak ada yang “mengompori”, mengipasi sehingga masalahnya tak berkembang besar. Ia berharap model kerukunan di Indonesia dapat menginspirasi peserta kongres.(ant/ess)

FAQ
Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 0.018278 detik
Diakses dari alamat : 103.7.12.72
Jumlah pengunjung: 12029813
Lihat versi mobile
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
© Copyright 2013. Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.