Rabu, 29 Mei 2013 –
Beasiswa PBSB antar Anak Pekerja Serabutan Kuliah Kedokteran

Jakarta (Pinmas) —- Saya awalnya tidak pernah mempunyai pandangan sama sekali tentang kedokteran. Bahkan, kata-kata kedokteran itu saja tidak pernah terlintas dipikiran saya. Dengan ikut PBSB, alhamdulillah yang tadinya tidak pernah bermimpi menjadi dokter, sekarang saya akan coba tanamkan dalam diri agar bisa menjadi dokter yang berjiwa santri.

Demikian kisah Fivi merasai keraguannya pada nasib baik yang mengantarkan dirinya menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran ketika dihubungi melalui telepon, Senin (27/05).

Nama lengkapnya Fivi Rohmatin. Santri Pondok Pesantren Nahdlatut-Thalibin, Tayu Pati ini kini tercatat sebagai Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam (UNISMA) Malang. Fivi mendapatkan kesempatan ini setelah lolos dalam seleksi Program Beasiswa Santri Berprestasi yang diselenggarakan Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ditjen Pendidikan Islam, Kementerian Agama.

Terlahir dari keluarga yang serba kekurangan, membuat Fivi mengaku tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang dokter. Maklum, bapaknya hanya pekerja serabutan, tergantung pada musim panen.

“Bapak kerjanya serabutan. Kerjanya tergantung musim. Kalau musim jagung, jualan jagung bakar. Kalau ada yang panen padi, jualan jeraminya,” terangnya setengah terisak.

“Kalau tidak ada jagung atau padi, melakukan gancar atau memungut sisa panenan singkong untuk dijual lagi,” imbuhnya.

Namun, kondisi keluarga yang demikian tidak mematahkan semangat anak pertama dari dua bersaudara ini untuk belajar. “Tetap semangat dan optimis. Allah pasti punya jalan yang terbaik untuk kita,” tegasnya.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Nahdlatut-Thalibin KH Ahmad Nadzif (Gus Nadzif) menjelaskan bahwa Fivi masuk dalam lima besar anak berprestasi di pondoknya. Gus Nadzif juga membenarkan bahwa kondisi ekonomi keluarganya cukup memprihatinkan.

“Santri pesantren kami (secara umum) bisa dikatakan menengah ke bawah dari sisi perekonomian,” terangnya.

Terkait PBSB Kementerian Agama, Gus Nadzif menilai bahwa program tersebut sudah tepat sasaran. “Program itu diperuntukan bagi yang tidak mampu dan dari pesantren murni. Betul-betul tepat sasaran karena kenyataannya memang begitu,” terang Gus Nadzif.

Ditemui di kantor Kemenag, Penanggung Jawab Program Beasiswa Santri Berprestasi, Imam Safei, menjelaskan bahwa PBSB memang dimaksudkan untuk memacu potensi para santri berprestasi dari pondok pesantren. Untuk PBSB di Unisma Malang, lanjut Imam, dikhususkan bagi santri pondok pesantren yang mempunyai tradisi pembelajaran kitab kuning yang kuat.

“Harapannya, selain kuat dalam tafaqquh fid-din, mereka juga bisa menjadi ahli di bidang sains dan teknologi,” terang Imam.

PBSB sudah berjalan sejak tahun 2005. Hingga tahun ini, sudah ada 2700 santri pesantren yang berkesempatan kuliah di beberapa perguruan tinggi negeri bergengsi, mulai dari UIN, UI, ITB, UGM, dan lainnya.

Fivi kini sedang menjalani Program Matrikulasi di Unisma Malang sebagai persiapan awal sebelum memasuki masa perkulian di bulan September mendatang. “Terima kasih Kementerian Agama,” ucap Fivi.(mkd)

FAQ
Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 0.011870 detik
Diakses dari alamat : 103.7.12.72
Jumlah pengunjung: 11159152
Lihat versi mobile
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
© Copyright 2013. Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.