Bekerja Tanpa Cela

Anākulā ca kammantā Etammangalamuttaman. Bekerja tanpa cela, Itulah Berkah Utama. (Manggala Sutta)

Bekerja merupakan dambaan bagi setiap individu. Bekerja bukan hanya terkait dengan pendapatan semata tetapi lebih dari itu adalah aktualisasi diri, sebuah kebutuhan dasar bagi setiap manusia. Dengan bekerja manusia dapat hidup secara terhormat dan bermartabat. Terlebih bagi seorang kepala keluarga bekerja merupakan semacam kewajiban hidup yang harus dijalani. Dengan bekerja manusia merasa bermanfaat, berguna bagi diri sendiri dan keluarga.

Dalam konteks kehidupan sosial, manusia yang bekerja akan dipandang memiliki peran penting bagi kelangsungan hidup yang dijalani. Sebaliknya, seseorang yang tidak bekerja dianggap berpotensi merugikan diri sendiri dan orang lain. Menganggur merupakan beban mental dan sosial yang sangat berat untuk ditanggung. Berbagai gunjingan negatif sering ditimpakan. Sejatinya menganggur bukan merupakan bentuk kejahatan tetapi cukup membebani seseorang dalam menempuh kehidupan berumah tangga yang memiliki berbagi kebutuhan mendasar. 

Dalam ajaran Buddha bekerja saja tidak cukup. Bekerja membutuhkan panduan nilai-nilai yang mendasarinya sehingga tidak bertentangan dengan prisip kebenaran. Bekerja bukan hanya menjadi aktivitas ekonomi tetapi sekaligus sebagai bagian integral dari aktivitas spiritual. Dalam ajaran Buddha khususnya empat kebenaran mulia (cattari arya saccani) mata pencaharian benar (samma ajiva) merupakan salah satu solusi pembebasan dari derita kehidupan.  Sistematika empat kebenaran mulia menempatkan pencaharian benar sebagai jalan (magga) yang harus dikembangkan (S.V,421-422). 

Dalam konteks ini terlihat jelas bahwa Buddha sangat realistis memandang kehidupan, tidak memandang rendah aktivitas mata pencaharian sebagai aktivitas duniawi melainkan melihatnya sebagai bagian integral dari kehidupan religius. Penghidupan benar merupakan bagian besar dari moralitas atau sila. Dengan menjalankan kehidupan benar maka prinsip bekerja akan lebih dijiwai oleh spirit kebenaran  bukan spirit keserakahan. Memahami hal ini secara mendalam maka seorang perumah tangga yang bekerja keras dengan penuh semangat dan kesadaran telah menempuh sebuah jalan spiritual jalan pembebasan. Tanpa memahami prinsip mendasar ini maka bekerja akan mudah sekali dikotori oleh tiga racun kekotoran batin misalnya kebencian (dosa)  akan persaingan, keserakahan (lobha) akan penumpukan harta serta kebodohan (moha) berupa kecerobohan, ketidakcermatan dalam bekerja. 

Idealisme bekerja menurut Dhamma adalah bekerja tanpa cela, dalam terminologi bahasa pali disebut anakula. Bhikkhu Khantipalo dan Dr. Soni (2010) dalam penjelasan Maha Manggala Sutta  mengartikan anakula sebagai sebuah pekerjaan,  kesibukan dan mata pencaharian yang tidak membawa konflik atau pertentangan, dapat dijalani dengan damai tenang tanpa menyebabkan kebingungan mental. Tidak menimbulkan konflik dalam hal ini adalah sebuah pekerjaan yang tidak merugikan diri sendiri dan makhluk lain sehingga dikategorikan sebagai sebuah berkah (manggala). Anakula juga dapat diartikan sebagai sebuah pekerjaan yang bersih bebas dari pelanggaran sila.  Terdapat beberapa pekerjaan yang dikatakan melanggar moralitas atau sila sehingga layak untuk ditinggalkan atau lebih baik mencari alternatif pekerjaan lain. Bisnis yang dilarang menurut Dhamma adalah memperdagangkan senjata, memperdagangkan manusia, binatang untuk disembelih, minuman keras dan racun (A.III. 207). Jika dicermati dengan seksama, kelima bisnis tersebut akan bermuara pada kerugian baik bagi diri sendiri dan pihak lain.

Selain mengacu pada jenis pekerjaan yang tidak tercela secara moral, anakula atau tanpa cela juga mengacu pada kualitas dalam mengerjakan sebuah pekerjaan. Ukuran tanpa cela adalah gabungan antara jenis pekerjaan yang bersih dari pelanggaran sila dengan kualitas menjalani pekerjaan dengan baik atau profesional. Kualitas pekerja yang diliputi dengan spirit kejujuran, dedikasi, kedisiplinan secara berkesinambungan akan menyempurnakan kualitas tanpa cela dari sebuah pekerjaan. Pekerjaan menjadi sebuah nilai religius yang tinggi karena menggabungkan aspek jenis pekerjaan yang bersih secara moral dan dikerjakan juga dengan cara yang bersih secara moral. Dengan kata lain jenis pekerjaan benar dan dikerjakan dengan cara yang benar. Bila prinsip ini dapat dipedomani oleh seseorang yang bekerja maka akan tercipta sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan bermartabat. Sehingga dalam konteks ajaran Buddha bekerja tanpa cela adalah sumber dari berkah yang agung. 

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.