Belenggu bagi Gharavasa

Asajjhāyamalā manta anuṭṭhānamalā gharā. Malaṁ vaṇṇassa kosajjaṁ pamādo rakkhato malaṁ. Tidak menghafal adalah noda pembaca mantra, lalai mengurus adalah noda rumah tangga, lalai merawat adalah noda untuk kecantikan, dan kelengahan adalah noda si penjaga. (Dhammapada, Syair 241)

Dalam kehidupan beragama Buddha, terdapat dua jalan atau pilihan kehidupan, yaitu: kehidupan sebagai gharavasa dan kehidupan sebagai pabbajita

Gharavasa (umat perumah tangga) adalah umat Buddha yang memilih kehidupan berkeluarga, memiliki/mencari nafkah sebagai pedagang, petani, tukang, pegawai, dan sebagainya. Sedangkan pabbajita adalah umat Buddha yang meninggalkan kehidupan berumah tangga, hidup selibat sebagai bhikkhu/bhikkhuni. Masing-masing pilihan kehidupan ini mempunyai peran masing-masing dalam kehidupan beragama maupun bermasyarakat.

Kehidupan sebagai gharavasa merupakan kehidupan yang dipilih sebagian besar umat Buddha. Kehidupan sebagai gharavasa bertujuan mewujudkan keluarga yang bahagia sejahtera (hitaya sukkhaya) dalam bingkai keyakinan terhadap Buddha Dharma. Karena itu, dalam rangka mewujudkan tujuan bahagia dan sejahtera tersebut, umat Buddha wajib berpegang teguh pada ajaran Buddha, terutama ajaran yang berkaitan dengan kehidupan perumah tangga.

Dalam Anguttara Nikaya IV:281 disebutkan empat dhamma yang sangat bermanfaat bagi perumah tangga, yaitu:

1. Rajin dan bersemangat dalam bekerja/mencari nafkah;

2. Berhati-hati dan waspada menjaga harta yang telah diperolehnya, agar aman tidak dicuri;

3. Memiliki sahabat-sahabat yang baik; dan

4. Menempuh hidup sesuai dengan penghasilan, tidak kikir, dan tidak terlalu boros.

Selain itu, gharavasa juga wajib memiliki sifat-sifat yang baik, yaitu: sacca, yaitu kebenaran/kejujuran dalam berkata dan berbuat; dama, yaitu mampu penyesuaian diri/melatih diri ke arah yang baik; khanti, yaitu kesabaran, diartikan juga sebagai ketekunan dalam bekerja; dan caga, yaitu kedermawanan, kemurahan hati. (Samyuttanikaya I:215)

Kehidupan sebagai gharavasa juga tidak lepas dari gangguan-gangguan atau belenggu kehidupan yang dapat menghambat bahkan menghancurkan tujuan dari kehidupan hitaya sukkhaya. Tidak melaksanakan atau lalai melaksanakan lima sila Pancasila Buddhis (tidak membunuh, tidak mengambil barang yang tidak diberikan; tidak berbuat asusila; tidak berbohong/bicara dusta; dan tidak minum minuman keras).

Orang yang tidak mengurus rumahnya dengan baik, berakibat rumah kotor, barang tidak tertata rapi dan digunakan untuk bersembunyi serangga maupun binatang lainnya sehingga kemudian terjadi pembunuhan. Pencuri dan pelanggar asusila cenderung suka berbohong. Peminum minuman keras akan kehilangan kesadarannya, mabuk sehingga tidak terjaga keselamatan dirinya maupun hartanya.

Mencari nafkah dengan cara-cara yang tidak benar atau dengan cara-cara yang merugikan diri sendiri maupun orang lain, tidak berhati-hati/ceroboh, malas, boros dan suka berfoya-foya, memiliki teman-teman yang buruk, merupakan belenggu dalam kehidupan berumah tangga. Karena itu, umat Buddha yang baik harus senantiasa waspada dan tidak lalai dalam mengurus kewajiban-kewajiban dalam keluarganya agar tercapai kehidupan yang bahagia sejahtera (hitaya sukkhaya).

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.


TERKAIT

Agama dan Pelayanan

Kesetiaan

Siap Menjadi Tanda Kehadiran Tuhan

Bila Umat Tuhan Merendahkan Dirinya

Belenggu Penderitaan

Meneliti Hakikat Masalah Kehidupan