Beryajna dengan Mantra dan Doa 

Om Swastiastu. Om Awignamastu Namo Sidam. Om Varkatunda Mahakaya Suryakotisamaprabha. Nirwignam Kuru Me Dewa Subha Karyesu Sarvada. Oh Dewa Yang Bersinar Dengan Gading Yang Melengkung. Dengan Tubuh Yang Besar. Dengan Kemilauan Jutaan Cahaya Matahari, Buatlah Usahaku
Dan Semua Kegiatanku Bebas Dari Segala Rintangan.

Tulisan ini mengangkat tema Beryajna dengan Doa, Mantra, dan Mengulang Nama Suci Tuhan.

Yajna merupakan korban suci tulus iklas dan memiliki lima jenis, yaitu: Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya, Bhuta Yadnya, dan Pitra Yadnya. Dalam Bhagawan Gita, persembahan yang harus ada dalam Yadnya terdiri atas Patram, Puspam, Palem, dan Toyam

Pertanyaannya, apakah  jika kita tidak memiliki persembahan tidak akan melakukan Yajna? Tentu saja tidak. Sebab, banyak sekali cara manusia beryadnya. Salah satunya adalah berdoa, mengucapkan mantra, dan mengulang menyebut Nama Suci Tuhan.

Dalam Pustaka suci Manawa Dharma Sastra Bab II Ayat 85, Brahman bersabda: Widhi yajnajjapayajno, wicisto dacabhir gunaih, upamcuh syacchatagunah, saharso manasah smrtah. Artinya: Upacara Yadnya terdiri atas pengucapan doa dan mantra, sepuluh kali lebih berfaedah dari pada melaksanakan yadnya menurut aturan Veda, Doa puji yang diucapkan tak terdengar oleh orang lain, seratus kali jauh lebih baik dan pengucapan dalam bathin seribu kali lebih kebaikanya.

Untuk memudahkan memahami makna dari Seloka tersebut, saya akan menyampaikan cerita yang dikutip dari purana, yang berjudul Markandeya Purana.

Dikisahkan, hiduplah seorang Pasangan Brahmana bernama Rsi Mrikandu dan istrinya yang bernama Marudmadi. Pasangan brahmana ini selalu melakukan yadnya dengan cara membaca doa, mantra, dan mengulang nama Dewa Siwa setiap hari agar para dewa berkenan memberikan keturunan yang saputra. Atas Yajdnya yang dilakukan, Dewa Siwa pun berkenan hadir di hadapan pasangan brahmana ini dan menanyakan keinginan mereka. 

Pasangan Brahmana ini mengajukan permohonan, Oh Dewa Siwa kelahiran hamba di bumi terasa tidak sempurna dikarenakan hamba tidak memiliki keturunan. Perkenankanlah hamba diberikan keturunan. Dewa Siwa menyanggupi permintaan pasangan brahmana tersebut dan menanyakan, apakah engkau memilih seorang putra yang umurnya sangat panjang akan tetapi memiliki kecerdasan yang terbatas atau engkau memilih anak yang cerdas, terpelajar, dan berbakti, akan tetapi memiliki mungkin hanya memiliki umur yang sangat pendek, yaitu 12 tahun.

Pasangan Brahmana ini memilih pilihan yang kedua, dan diberi nama Markandeya. Markandeya tumbuh menjadi anak yang cerdas dan selalu mengutamakan yadnya dalam bentuk doa, mantra pujian ke hadapan Dewa Siwa, tak kenal waktu. Menjelang hari kematianya akan tiba, Ayah Markandeya dan ibunya sangat khawatir akan takdir kematian Putranya. Sesuai dengan tugasnya, Dewa Yama sang penyabut nyawa datang secara khusus untuk menyabut atma dari Markandeya. Tali kekang penyabut nyawa dilemparkan ke arah leher Markandeya. Akan tetapi tali ini seolah tak memiliki kekuatan untuk menyabut nyawa Markandeya.

Di hadapan Markandeya, munculah Dewa Siwa. Dengan marah, dia berkata, Wahai Adipati Yama, Janganlah engkau menyabut nyama dari anak ini. Anak ini selalu memujaku bahkan tak memikirkan akan kematianya. Maka dari itu, aku menganugrahkan anak ini untuk hidup abadi dan aku akan memberikanya pengetahuan yang maha suci. Kelak anak ini akan tumbuh menjadi seorang Rsi yang mampu menyusun sebuah purana. Purana ini akan aku beri Nama Markandeya Purana.

Dari cerita tersebut, dapat kita ketahui bahwa yadnya dapat ditempuh dengan jalan berdoa, mengucap mantra, dan nama suci Tuhan. Dalam Bhagawan Gita Adiyaya IV Sloka 11, Brahman bersabda, Ya yatha mam Prapadyante tams thathaiwa bhajamy aham mama Vartmanuvartante manusyah partha sarvasah. Artinya, bagaimanpun jalan manusia mendekatiku akan aku terima wahaiarjuna. Manusia mendekatiku pada segala jhalan dharma.

Pernahkan kita mencoba mencari tahu Yajna apa yang paling utama? Itu adalah mempersembahkan atma terlebih dahulu, sesuai dengan panca sembah. Pertama, Om Atma tatwatma Suddhamam Swaha (Ya Tuhan, hamba mempersembahkan Atama ini sebagai Yadnya) dan dilanjutkan dalam panca sembah yang terakhir Om Dewa Suksma Parama Acintya ya Nama Swaha (Ya Tuhan, saya akan kembali kepadamu yang maha gaib).

Om Ksantavyah kayiko dosah, ksantavyo vacika mama, ksantavyo manaso dosah  tat pramadat ksamamsva mam. Artinya, Ya Tuhan ampunilah dosa perbuatan hamba, dosa perkataan hamba, dosa pikiran hamba, dosa kelalaian hamba, semoga damai, damai, damai           
 
I Made Ika Janarta (Mahasiswa Institut Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram)