Cinta yang Bijaksana

“Mâtâ yathâ niyam puttam, Âyusâ ekaputtamanurakkhe, Evampi sabbabhûtesu, Mânasambhâvaye aparimânam. Bagaikan seorang ibu yang mempertaruhkan jiwanya,  melindungi anaknya yang tunggal, demikianlah terhadap semua makhluk dipancarkan pikiran cinta tanpa batas.” (Metta Sutta, Bait 7)

Cinta adalah bahasa pertama yang dikenali manusia sebelum bahasa yang lain. Ibu menyusui bayi yang baru lahir adalah perkenalan bahasa cinta bagi sang bayi dan praktek cinta bagi ibu. Hubungan bayi dan ibu menggambarkan dengan sangat nyata bagaimana cinta memberikan kehangatan, perlindungan, dan kebahagiaan bagi kedua belah pihak. Dengan kata lain, cinta adalah bahasa purba dan sekaligus bahasa masa depan bagai keberlangsungan hidup dan peradaban manusia. Kehidupan tidak mungkin lestari, bertahan lama tanpa adanya cinta. 

Cinta melibatkan perasaan keterhubungan antara satu pihak dengan pihak yang lain. Dalam hal ini, cinta merekatkan, menyatukan, berlawanan dengan benci yang menjauhkan, memisahkan. Bara dari kebencian akan semakin membakar dan membelenggu manusia untuk terus memproduksi permusuhan. Untuk memadamkan, api kebencian ini tidak mungkin dilawan dengan api kebencian. Sebaliknya, itu hanya dapat dipadamkan dengan tidak membenci atau spirit cintalah yang dapat memadamkanya. “Kebencian tak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian, tetapi kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci, inilah satu kebenaran abadi” (Dhammapada. Syair 5).   

Secara alamiah manusia membutuhkan cinta dalam dua aspek sekaligus, yaitu: mencintai dan dicintai. Kekurangan dua aspek ini akan sedikit banyak membebani manusia dalam menjalani kehidupanya. Seseorang yang kekurangan dalam hal dicintai baik oleh pasangan, teman, keluarga dan lingkunganya, akan merasa terbuang, tercampakkan, dan merasa tidak dibutuhkan. Sebaliknya, seseorang yang gagal dalam mencintai, menyalurkan dan mengekspresikan cintanya juga akan menderita. Hal ini menunjukkan bahwa manusia membutuhkan keduanya, baik dicintai maupun mencintai. Dicintai dan mencintai perlu dilakukan secara seimbang sehingga akan mampu menyumbangkan kebahagiaan. 

Walaupun cinta sangat diperlukan dalam menggapai kebahagiaan, namun tidak sedikit kisah cinta yang berujung pada kehancuran dan bahkan penderitaan tragis. Letak permasalahan sesungguhnya bukan pada kesalahan dari hadirnya rasa cinta, tetapi pada aspek absennya  kebijaksanaan. Cinta yang tidak beriringan dengan kebijaksanaan akan kehilangan makna cintanya. Cinta yang buta tanpa kebijaksanaan cenderung membelenggu, mengikat tidak membebaskan. Cinta dalam hal ini menjadi selfis bukan altruistik. Cinta hanya topeng dari dorongan egoisme mementingkan diri sendiri semata bukan kemuliaan ingin membahagiakan pihak lain. Menjadi budak memanjakan ego sehingga akan terasa mengekang, hasrat terlalu memiliki dan mengendalikan pihak yang dicintai. Bila hal ini terjadi maka pihak yang dicintai dan mencintai sama-sama akan menderita. 

Syair Dhammapada sangat jelas menggambarkan cinta palsu ini, sebuah cinta yang membelengu dan tidak membebaskan. “Dari cinta timbul kesedihan, dari cinta timbul ketakutan, bagi orang yang telah bebas dari rasa cinta, tiada lagi kesedihan maupun ketakutan” (Dhammapada. Syair 213).

Cinta menjadi sempurna bila beriringan dengan kebijaksanaan. Merpati dapat terbang dengan indah karena memiliki sayap yang utuh di bagian kanan dan kiri. Demikian pula cinta adalah salah satu sayap kehidupan yang membutuhkan sayap lain berupa kebijaksanaan untuk dapat menghantarkan manusia menuju kebahagiaan. Cinta yang bijaksana adalah cinta sesungguhnya yang mendamaikan, membahagiakan dan bahkan membebaskan. 

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.