Jangan Mengambil Keputusan untuk Menyenangkan Diri Sendiri

Sārañ ca sārato ñatvā asārañ ca asārato, te sāram adhigacchanti sammāsaṅkappagocarā. Mereka yang mengetahui kebenaran sebagai kebenaran dan ketidak-benaran sebagai ketidak-benaran, maka mereka yang mempunyai pikiran benar seperti itu akan dapat menyelami kebenaran. (Dhammapada, Syair 12)

Hidup yang kita jalani saat ini merupakan hasil dari keputusan yang pernah kita ambil sebelumnya. Apapun keputusan yang telah diambil, maka kita harus siap untuk menerima dan melaksanakan konsekuensi dari hasil keputusan tersebut.

Keputusan adalah salah satu bagian penting yang pasti akan selalu ada dalam kehidupan kita yang terus mengalami perubahan ini. Saat seseorang dihadapkan pada berbagai pilihan ataupun permasalahan, diperlukan suatu ketetapan hati untuk memutuskan pilihan terbaik ataupun solusi terbaik dari permasalahan yang dihadapinya.

Proses pikiran dan mental untuk menentukan pilihan terbaik ataupun solusi terbaik akan memberikan satu hasil final yang disebut keputusan. Keputusan yang diambil akan berperan penting menentukan langkah selanjutnya guna mencapai tujuan yang akan dicapai.

Selama seseorang masih menjalani kehidupan, berbagai pilihan ataupun permasalahan akan selalu datang silih berganti dan keputusan pun akan senantiasa dibutuhkan seiring datangnya berbagai pilihan ataupun permasalahan yang harus dihadapi.

Untuk mengambil satu keputusan bukanlah hal yang mudah. Faktor pertimbangan yang melandasi pengambilan keputusan menjadi salah satu hal penting yang hendaknya menjadi pegangan; selain tentunya hasil dari keputusan itu sendiri.

Ada tiga macam pertimbangan yang sering digunakan dalam mengambil keputusan. Pertama, Attadhipateyya yaitu mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan dan pengalaman diri sendiri di mana hasil keputusan itu kadang-kadang benar tetapi juga kadang-kadang salah.

Kedua, Lokadhipateyya yaitu mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan dari orang banyak atau masyarakat luas dimana hasil keputusannya bisa benar tetapi bisa juga salah.

Terakhir, Dhammadhipateyya yaitu mengambil keputusan dengan menjadikan Dhamma sebagai petunjuk, maka hasil keputusannya pasti benar dan tidak mungkin salah. Menurut Dhamma, keputusan dikatakan benar jika keputusan itu tidak hanya bermanfaat dan berguna bagi diri sendiri, tetapi juga dapat bermanfaat dan berguna untuk orang banyak.

Untuk itu, sebagai makhluk sosial yang senantiasa menjalin komunikasi dan berinteraksi dengan orang banyak, kita hendaknya tidak mengambil keputusan yang hanya menyenangkan diri sendiri tetapi merugikan orang banyak. Karena mengambil keputusan untuk menyenangkan diri sendiri hanya akan memberikan beragam penderitaan.

Marilah sebagai umat Buddha kita menjadikan Dhamma yang merupakan kebenaran universal sebagai pedoman bagi kita dalam menjalani kehidupan ini. Termasuk menjadikan Dhamma sebagai petunjuk dalam mengambil keputusan. 

Dengan memahami dan mempraktikkan Dhamma serta memiliki keteguhan pikiran yang sadar setiap saat dan berkesadaran penuh dalam setiap aspek kehidupan akan sangat membantu kita membuat keputusan yang rasional dan benar yang akan bermanfaat untuk diri sendiri dan bermanfaat untuk orang banyak serta akan mendatangkan kebahagiaan.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

 

Caliadi (Dirjen Bimas Buddha)


TERKAIT