Kasih Sayang

Atthamhi jatamhi sukha sahaya, tutthi sukha ya itaritarena. Punnam sukhan jivitasahkhayamhi, ssabbassa dukkhassa sukham pahanam. Sungguh bahagia mempunyai kawan pada saat kita membutuhkannya; sungguh bahagia dapat merasa puas dengan apa yang diperoleh; sungguh bahagia dapat berbuat kebajikan menjelang kematian; dan sungguh bahagia dapat mengakhiri penderitaan. (Dhammapada, Syair 331)

Sabbe satta dukkha pamuccantu” yang berarti semoga semua makhluk bebas dari penderitaan senantiasa menjadi perenungan umat Buddha sehari-hari. Hal ini merupakan upaya untuk mengembangkan sikap kasih sayang (Karuna) kepada semua makhluk. Suatu sikap dan perilaku baik dalam kehidupan agar dapat mengerti dan memahami penderitaan makhluk lain, sehingga menjadi tergerak melakukan perbuatan baik untuk menolongnya.

Pada masa pandemi Covid-19 ini, yang telah berlangsung cukup lama, menjadikan kehidupan sedikit terganggu. Laju pertumbuhan ekonomi melambat yang mengakibatkan adanya kesenjangan dalam kehidupan sosial. Tidak banyak orang yang mampu bertahan dengan baik, di tengah-tengah gencarnya upaya pemerintah dalam mengatasi kondisi itu. Sehingga dapat dikatakan saat ini kita sedang menderita.

Sebagai insan sosial, janganlah kemudian menutup mata dan telinga. Tidak melihat tetesan air mata kesedihan, ratapan tangis kepiluan yang mengisi suasana penderitaan. Mungkin di dalam dirinya terbersit bahwa saya juga mengalami penderitaan yang sama, namun setidaknya setiap orang tidak lagi terikat oleh sikap mementingkan diri sendiri, yang membuat hatinya beku dan kaku, yang tidak mampu melepaskan diri dari kemelekatan egoismenya.

Dalam situasi demikian, sebagai umat Buddha, kita diajarkan untuk melatih kasih sayang. Melalui pengembangan kasih sayanglah yang dapat mengatasi kemelekatan egoisme, mengikis sikap mementingkan diri sendiri untuk membuka pintu hati yang luas menuju pembebasan. Kasih sayang akan dapat menyingkirkan beban berat yang menghimpit, juga memberikan harapan kepada mereka yang berada dalam penderitaan.

Guru Agung Buddha mengajarkan kepada para siswanya untuk menghindari keinginan membunuh, melatih diri hidup dengan penuh pertimbangan dan  perenungan, mengembangkan kasih sayang demi kebahagiaan semua makhluk. Wujud dari kasih sayang tersebut dapat dilakukan melalui pemberian, seperti memberikan sedekah kepada orang yang menderita kekurangan.

Memberikan perawatan kepada orang yang sakit juga merupakan bentuk kasih sayang, sebagaimana yang dicontohkan oleh Guru Agung Buddha dalam merawat sendiri siswanya yang sakit. Atas apa yang telah beliau lakukan kemudian diajarkan kepada semua siswanya bahwa “ia yang merawatku adalah ia yang merawat orang sakit”.

Teladan kasih sayang juga dapat ditemukan dalam kisah Nigrodhamiga Jataka, diceritakan pengorbanan rusa emas di taman kerajaan. Untuk menyajikan daging rusa bagi raja dilakukan melalui undian. Pada saat itu undian jatuh pada rusa betina yang sedang mengandung. Melihat kondisi tersebut, rusa emas kemudian menawarkan dirinya sendiri sebagai pengganti kepada Raja.

Berikut sepenggal kutipan cerita: “Rusa Emas,” kata Raja, “saya belum pernah melihat, bahkan di antara para manusia, seseorang dengan kebaikan hati, cinta kasih dan belas kasih sebesar yang engkau miliki. Hal ini membuat saya merasa senang terhadap keberadaanmu. Bangkitlah! Saya bebaskan nyawamu dan nyawa rusa betina itu.”  Rusa emas telah menyelamatkan nyawa rusa betina, nyawa anak yang dikandungnya dan juga rusa lainnya. Rusa emas juga telah menyelamatkan nyawanya sendiri.

Sesungguhnya, karena kasih sayanglah yang mendorong orang menolong orang lain dengan ketulusan hatinya. Orang yang memiliki kasih sayang tidak hidup untuk dirinya sendiri, namun juga untuk makhluk lain. Orang-orang yang layak diberikan kasih sayang bukanlah semata-mata orang yang berkekurangan ekonomi, namun juga orang yang memiliki sikap serakah, yang maunya menang sendiri. Dengan kata lain bahwa mengembangkan kasih sayang itu ditujukan terhadap semua makhluk yang menderita yang sengsara baik lahir maupun batin.

Kasih sayang membuat kita bersyukur dan menghargai diri sendiri. Kasih sayang dapat memberikan pengalaman yang baik tentang penderitaan, sehingga menguatkan kita untuk menghadapi persoalan kehidupan. Semoga kasih sayang senantiasa tumbuh dalam hati kita. Kasih sayang yang merupakan keluhuran hati dan pikiran yang mengerti, memahami, dan bersedia untuk membantu.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

 

Caliadi (Dirjen Bimas Buddha)