Komitmen pada Perjanjian

Orang yang setia dan bertanggungjawab terhadap sesuatu hal dapat dikatakan ia adalah orang yang mempunyai komitmen. Hal itu bisa terjadi karena adanya komitmen dengan Tuhan, komitmen dengan diri sendiri, komitmen dengan orang lain, dan komitmen dengan alam. Orang yang memiliki komitmen pada kinerja kerjanya dapat diimplementasikan dalam lima nilai budaya kerja Kementerian Agama, yakni integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab, dan keteladanan. 

Jelas bagi kita, bahwa komitmen bukanlah suatu hal yang mudah. Ini dikaitkan dengan dengan komitmen pada perjanjian atau sumpah ketika dilantik menduduki suatu jabatan. Dengan mengangkat satu tangan membentuk huruf v di atas Alkitab, menjadikan kita memiliki komitmen, berjanji untuk menjalankan tugas jabatan dengan penuh amanah dan sukacita iman. 

Kisah Abram dalam Kejadian 15 : 1 – 21 berisi komitmen Tuhan dengan Abram dan Komitmen Abram dengan Tuhan. Ada beberapa janji Tuhan untuk Abram. Pertama, janganlah takut menunjukkan kehadiran-Nya memberi ketenangan. Kedua, Tuhan menjadi perisai yang melindunginya. Ketiga, Tuhan menjanjikan upah yang sangat besar. Apapun yang dikerjakan Abram, Ia akan memberkati pekerjaannya dan memberikan upah baginya. 

Keempat, Ia menjanjikan keturunan kepada Abram di usia 75 tahun. Dalam proses kesetiaan menanti 25 tahun, di usia 100 tahun Abram memiliki anak bernama Ishak dari istri Sarai. Keturunannya akan menjadi bangsa yang besar seperti banyaknya bintang di langit dan namanya menjadi masyhur. Bukan hanya itu saja, Abram dan keturunannya menjadi umat yang diberkati Tuhan dengan menempati negeri yang panjangnya dari sungai Mesir sampai sungai Efrat. 

Nah, ini adalah jaminan yang sungguh luar biasa. Ketika Abram merespon janji Tuhan, maka ia berkomitmen untuk setia dan melakukan apa yang firmankan-Nya. Abram menjadi orang yang diberkati dengan kesetiaan imannya dan ia diperhitungkan Tuhan sebagai kebenaran. Ia dikenal sebagai Bapa orang beriman.

Sebagai umat Tuhan yang mengabdi kepada bangsa dan negara, pastinya kita memiliki komitmen iman dan janji untuk menjalankan tugas dan tanggungjawab dengan sikap takut akan Tuhan dan mengandalkan Tuhan dalam setiap pekerjaan yang kita emban. Janji penyertaan-Nya berlaku bagi yang taat dan setia melakukan firman-Nya di semua ranah kehidupan. Giatlah bekerja dan berkomitmen secara disiplin, tegas, jujur, dan setia melakukan tugas dan fungsi sebagai warga negara. 

Mengenai komitmen bahwa kita sudah bekerja dengan baik, mungkin ini butuh proses dan tidaklah mudah. Sebaliknya jika dilakukan dengan sukacita iman, maka semuanya akan diperhitungkan Tuhan melalui upah di setiap pekerjaan dan keturunan yang diberkati Tuhan sehingga berdampak positif dengan nama baik keluarga. 

Ingatlah, bahwa Tuhan sebagai perisai yang melindungi dan menyertai kita. Tetaplah teguh pada komitmen iman. Memang sebagai manusia seringkali ada rasa keluh kesah dan kebimbangan hidup. Karena itu, manusia hanya bisa mengira-ngira, tetapi Tuhan yang menentukan jalan kehidupan. 


Pdt. Nency Aprilia Heydemans, S.Th., M.Si (Rohaniwan Kristen)