Mengikis Keserakahan 

Susukhaṃ vata jīvāma, Ussukesu anussukā. Ussukesu manassesu, Viharāma anussukā. Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa keserakahan di antara orang-orang yang serakah, di antara orang-orang yang serakah kita hidup tanpa keserakahan. (Dhammapada, Syair 199)

Keinginan merupakan hal yang wajar dimiliki oleh manusia. Akan tetapi, terkadang keinginan yang dimiliki tidaklah wajar. Keinginan yang tidak disesuaikan dengan kemampuan justru akan membelenggu hidup kita. 

Mengendalikan bentuk-bentuk keinginan yang sifatnya negatif harus dilakukan. Sebab, jika tidak dikendalikan, maka keinginan yang berlebihan akan berkembang menjadi keserakahan.

Keserakahan merupakan kekotoran batin yang ada dalam diri manusia yang timbul karena adanya keinginan untuk memiliki terhadap sesuatu secara berlebihan. Keserakahan ini jelas akan mengakibatkan penderitaan bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Orang yang dikuasai oleh keserakahan akan melakukan berbagai cara untuk memenuhinya, misalnya: membunuh, merampas, menipu, dan mengambil barang yang bukan menjadi hak milik. 

Kecenderungan manusia yang diliputi keserakahan beranggapan bahwa ketika kita mendapat sesuatu yang berlebih, maka itu akan membantu hidup lebih bahagia. Anggapan tersebut mungkin benar adanya, akan tetapi kebahagiaan yang diperoleh hanyalah bersifat sementara. Apalagi sesuatu yang didapatkan tersebut diperoleh dengan cara-cara yang kotor dan merugikan banyak orang, sehingga cepat atau lambat akan berakibat buruk bagi kita.

Membiarkan keserakahan yang ada dalam diri kita tentu tidak akan pernah ada habisnya. Apa yang kita miliki, fasilitas yang kita peroleh, maupun sesuatu yang semestinya kita terima tidak mampu meredam orang yang diliputi keserakahan. Orang yang diliputi keserakahan selalu akan mencari celah agar mendapatkan sesuatu yang lebih. Akhirnya kita mengabaikan nilai-nilai kejujuran untuk memperoleh sesuatu yang lebih dari yang semestinya kita terima. 

Karena keserakahan merupakan penyakit batin yang semestinya dikendalikan agar manusia hidup bahagia, maka Guru Agung Buddha mengajarkan umatnya untuk mencegah timbulnya keserakahan (lobha). Ada beberapa cara untuk mencegah timbulnya keserakahan:

1. Selalu hidup dengan penuh kewaspadaan (sati)

2. Berusaha untuk tidak menuruti keinginan

3. Mengembangkan perasaah puas dengan apa yang kita miliki (santuti)

4. Mengembangkan sifat malu untuk berbuat kejahatan (Hiri) dan takut akan akibat dari perbuatan jahat yang kita lakukan (Ottapa)

5. Mengembangkan kebajikan yang berlawanan dengan keserakahan seperti gemar berdana.

Keserakahan yang timbul sedikitpun tidak akan memberikan manfaat yang berarti dalam diri manusia. Mengembangkan hal-hal yang baik dan sesuai dengan Dhamma adalah hal yang mesti dilakukan oleh manusia agar memperoleh kebahagiaan lahir dan batin. Mereka yang mendalami Dhamma dalam dirinya, maka tidak akan diliputi keserakahan dalam kenikmatan indra (Sutta Nipāta 5.2: Ajitamāṇavapucchā).

Semoga kita senantiasa memiliki kepuasan terhadap apa yang kita peroleh dan kita miliki. Semoga kita terbebas dari keserakahan. Semoga semua makhluk berbahagia.

 

Caliadi (Dirjen Bimas Buddha)