Menjadi Ibu yang Kuat

Sukhā matteyyatā loke, atho petteyyatā sukhā; sukhā sāmaññatā loke, atho brahmaññatā sukhā. Berlaku baik terhadap ibu merupakan kebahagiaan dalam dunia ini, berlaku baik terhadap ayah juga merupakan kebahagiaan. Berlaku baik terhadap pertapa merupakan kebahagiaan dalam dunia ini, berlaku baik terhadap para Ariya juga merupakan kebahagiaan. (Dhammapada, Syair 332)

Hari Ibu diperingati setiap tanggal 22 Desember. Pada mulanya hari ibu diperingati untuk mengenang jasa dan semangat perempuan dalam perjuangan kemerdekaan. Kini, Hari Ibu diperingati untuk menghargai jasa-jasa kaum ibu dalam berbagai hal serta untuk menyatakan cinta kasih kepada para ibu.

Ibu adalah sosok yang sangat dihormati. Sebagai inspirator dalam keluarga dan masyarakat. Kita semua dilahirkan dari seorang ibu. Karenanya, ibu memiliki peran yang sangat penting dan tanggungjawab yang sangat besar dalam keluarga, baik bagi suami ataupun anak-anaknya. Selain mengatur urusan dan pekerjaan rumah tangga yang tidak ringan, juga dalam membangun kasih sayang, kehangatan dan kebahagiaan dalam keluarga. 

Ajaran Buddha mengajarkan bahwa seorang ibu memiliki kedudukan yang terhormat. Digambarkan sebagai tangga untuk naik ke surga (paramasakha), sebagai makhluk yang tertinggi (Brahma), dan seorang yang telah mencapai penerangan sempurna (Arahat).

Ibu menjadi guru pertama dan utama bagi anak-anaknya. Sosok yang paling berperan membentuk karakter dan etika moral anak-anaknya. Kualitas diri dan moral seorang ibu akan sangat mempengaruhi kualitas anak-anaknya sejak masih dalam kandungan hingga telah lahir.

Dalam sutta tentang cinta kasih (Karaniyametta Sutta) dijelaskan cinta kasih seorang ibu terhadap anaknya, yaitu: Sebagaimana seorang ibu mempertaruhkan jiwanya melindungi putra tunggalnya, demikianlah terhadap semua makhluk kembangkan pikiran cinta kasih tanpa batas. 

Cinta kasih seorang ibu tak termakan oleh waktu, tiada batas, dan tiada syarat. Seorang ibu rela mempertaruhkan jiwanya untuk keselamatan anak-anaknya, sejak anaknya belum lahir hingga anaknya telah lahir. Tanpa seorang ibu, seorang anak tidak akan memperoleh cinta kasih dan kasih sayang secara sempurna. 

Ibu dan anak memiliki jalinan emosional yang kuat. Seorang ibu senantiasa berharap, berdoa dan mengajarkan anak-anaknya agar kelak menjadi orang yang berbudi, orang yang sehat, menjadi orang yang bajik, menjadi orang yang bijak dan menjadi orang yang bahagia. 

Seorang ibu memiliki jasa yang amat besar dalam mengasuh, membesarkan, mendidik dan membimbing anak-anaknya. Memberikan banyak nasihat dan petuah kepada anaknya sedari kecil sebagai bekal menyongsong masa depan. 

Mengajarkan anak-anaknya untuk memiliki rasa malu berbuat jahat (hiri) dan takut akan akibat dari perbuatan jahat (ottappa). Mencegah anak-anaknya berbuat jahat yang dapat merugikan diri sendiri dan juga merugikan orang lain. Menganjurkan anak-anaknya berbuat baik bukan hanya kepada diri sendiri, tetapi juga berbuat baik kepada orang lain. Juga menanamkan nilai-nilai luhur Dhamma ajaran Buddha untuk dipraktikkan anak-anaknya sedari kecil dalam kehidupan sehari-hari. 

Nasihat dan bimbingan itu merupakan ujud cinta kasih ibu kepada anaknya. Akan terpatri dan membekas dalam ingatan anaknya yang menjadi semangat baginya menghadapi kehidupan.

Jasa orang tua sangatlah besar dan sulit untuk terbalas oleh anak-anak selama hidupnya. Dalam Anguttara Nikaya Bab IV ayat 2, Guru Agung Buddha menjelaskan besarnya jasa kebajikan yang tiada batas itu dengan ibarat anak menggendong kedua orangtuanya, Bila seorang anak menggendong ayahnya di pundak kiri dan ibunya di pundak kanan selama seratus tahun, maka anak tersebut belum cukup membalas jasa kebaikan yang mendalam dari orang tuanya.

Menjadi kewajiban seorang anak agar dapat mengungkapkan wujud rasa bakti nan tulus dengan menghargai dan memuliakan ibunya sebagai orang yang sangat berjasa besar dalam hidupnya. Dan mengembangkan cinta kasih tanpa batas kepada semua makhluk laksana cinta kasih seorang ibu kepada anaknya. 

Dari seorang ibu yang mempraktikkan nilai-nilai luhur Dhamma, akan lahir anak-anak yang memiliki karakter dan etika moral yang baik. Jadilah sosok ibu yang kuat, teguh, tulus dan tekun mempraktikkan Dhamma dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.

Selamat Hari Ibu. Terima kasih atas jasa perjuangan dan kebajikan para ibu dimanapun berada. Semoga para ibu senantiasa terberkahi kesehatan, semua cita-cita luhur tercapai dan berbahagia selalu. 

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.


TERKAIT

Mengendalikan Sapta Timira 

Persiapkanlah Jalan bagi Tuhan

Cinta yang Bijaksana

Sembahyang dan Doa

Mencapai Kebahagiaan Rohani