Menumbuhkan Karma Baik Dalam Hidup

Pāpañ ce puriso kayirā, na taṁ kayirā  punappunaṁ. Na tamhi chandaṁ kayirātha, dukho pāpassa uccayo.

Apabila seseorang telah melakukan perbuatan jahat, hendaklah ia tidak mengulangi perbuatan jahat itu, janganlah merasa senang melakukan perbuatan jahat, karena perbuatan jahat itu hanya akan membawa penderitaan. (Dhammapada, syair: 117)

Perbuatan dalam Bahasa Pali disebut “kamma” atau “karma” dalam bahasa Sanskerta. Di dalam lingkungan masyarakat kita, kata karma cenderung dipersepsikan dalam konotasi negatif atau  punishment/hukuman dari Tuhan. Kita sering mendengar seseorang mengatakan: “Semoga dia kena karmanya!” atau “Tahu rasa sekarang, dia kena karma!” –untuk seseorang yang telah melakukan sesuatu perbuatan jahat. Jarang sekali orang mengatakan: “Berbahagialah, dia telah mendapatkan karma yang setimpal” atau “Saya turut bahagia melihatnya mendapatkan karma baik sebagai orang sukses” – untuk orang yang telah berbuat baik. Umat Buddha mengenal karma sebagai “perbuatan” dalam konteks baik ataupun buruk. Umat Buddha juga percaya bahwa setiap perbuatan baik (karma baik) akan berbuah kebahagiaan, dan sebaliknya setiap perbuatan jahat (karma buruk) akan menimbulkan penderitaan. 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada kenyataan dan dilema bahwa apa yang kita lakukan, menurut kita sudah cukup baik, bermanfaat bagi banyak orang, dan membahagiakan, baik bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Namun demikian, ada saja segelintir orang yang tidak suka dan sebal atau bahkan membenci apa yang kita lakukan, sehingga kemudian kita menjadi uring-uringan dan merasa apa yang kita lakukan tidak berguna dan tidak bermanfaat. Apakah ini dikatakan sebagai karma buruk?

Menumbuhkan karma baik dalam hidup kita bukan dimulai dari persepsi orang tentang apa yang kita lakukan, melainkan dimulai dari cetana/niat kita sendiri ketika akan melakukannya. Karena itu penting bagi kita untuk memulai suatu perbuatan (action) dengan pikiran yang baik, yaitu pikiran yang tidak didahului dengan pikiran terburu-buru, penuh keserakahan, emosi dan kebodohan, ketakutan, serta kebencian yang pada akhirnya akan menimbulkan penyesalan. Selain itu, kita perlu melakukan silent sitting (meditasi) dan mengevaluasi apa yang telah kita ucapkan dan kita perbuat pada hari ini terhadap orang lain, yaitu dengan berpikir apakah yang kita ucapkan dan perbuat tersebut menyakiti, merugikan, menimbulkan penderitaan atau tidak. 

Guru Agung Buddha mengatakan bahwa pikiran adalah pelopor yang mendahului semua kondisi batin, apabila dengan pikiran jahat seseorang berkata atau berbuat melalui badan jasmani, maka penderitaan akan mengikutinya umpama roda kereta yang mengikuti jejak kaki lembu yang menariknya, sebaliknya bila dengan pikiran baik seseorang berbicara atau berbuat melalui badan jasmani, maka kebahagiaan akan mengikutinya, umpama bayang-bayang yang tidak pernah meninggalkan bendanya. 

Hukum karma atau hukum perbuatan sebab-akibat yang tidak mungkin keliru. Jika kita sedang melakukan suatu karma baik, namun pada saat yang sama kita mendapatkan musibah atau kondisi yang tidak menguntungkan, hal itu bukan berarti kita sedang memetik pahala dari karma baik, melainkan kita sedang menanam kebaikan tapi ada saat yang sama kita sedang memetik buah karma buruk. Umpama menanam pohon kelapa, pisang, dan sayur-sayuran, masing-masing pohon akan menghasilkan buah yang berbeda pada waktu yang berbeda-beda pula. Namun bisa saja dalam waktu yang sama kita akan memetik buah-buahan dan sayuran tersebut bersamaan. Karena itu walau dalam kondisi yang sulit dan tertekan, kita tetap perlu mempertahankan konsistensi dan komitmen untuk selalu melakukan perbuan baik, karena sekecil apaun kebaikan tersebut pada saatnya akan berbuah kebahagiaan, seperti yang dikatakan Buddha dalam Dhammapada syair: 118, Paññañ ce puriso kayirā, kayirāthetaṁ punappunaṁ, tamhi chandaṁ kayirātha, sukho puññassa uccayo, artinya: “Apabila seseorang telah melakukan perbuatan baik, hendaklah ia mengulangi perbuatan baik itu, merasa senang melakukan perbuatan baik, karena perbuatan baik itu akan membawa kebahagiaan”.

Semoga semua makhluk berbahagia.