Menumbuhkembangkan Toleransi Melalui Ajaran Cinta Kasih Hindu

Om Swastiastu. Umat Sedharma yang berbahagia. Dalam pandangan Hindu, menumbuhkembangkan toleransi merupakan kewajiban yang sangat penting untuk diperhatikan dan dilaksanakan. Toleransi yang dilandasi semangat dharma juga merupakan yadnya. Sebab, di dalamnya terkandung dimensi sosial dan ketuhanan yang universal.

Pertanyaannya, apa filosofis cinta kasih dan kasih sayang? Makna dan nilai-nilai apa saja yang terkandung di dalamnya? Bagaimana cara menumbuhkembangkan toleransi dalam kehidupan beragama?

Filosifis dari sikap cinta kasih dan kasih sayang adalah Tatwam Asi yang dilandasi toleransi. Artinya, aku adalah kamu, kamu adalah aku yang dipenuhi oleh rasa ketulusikhlasan.

Toleransi merupakan bagian yang sangat integral dalam setiap aktivitas umat Hindu, terutama pada tatanan sosial religius. Hal ini tidak mungkin dipungkiri oleh siapapun, mengingat manusia merupakan mahluk sosial yang hidupnya selalu memiliki ketergantungan satu dengan lainnya.

Agama-agama di muka bumi ini pada hakikatnya sangat menjunjung tinggi rasa cinta kasih dan kasih sayang. Dalam Kitab Suci Atharwaveda disebutkan bahwa "Janam bibhrati bahuda vivacasam, nanadharmanam prthivi yathaikasam, sahasram dhara dravinasya me dhumah, dhruveva dhenurana pasphuranti."

“Semoga bumi ini menjaga kelangsungan hidup manusia yang berbicara dengan berbagai bahasa, menjalankan ibadah yang berbeda-beda, yang tinggal di wilayah yang berbeda – beda pula. Hargailah mereka seperti halnya keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Dengan demikian, bumi menganugerahkan kemakmuran, bagaikan curahan susu yang tiada henti dihasilkan oleh sapi”.

Ketika umat manusia dengan sadar dan sungguh-sungguh membangun SDM yang berkualitas dan berakhlak mulia, seyogyanya mereka dapat mengedepankan toleransi. Orang bijak mengatakan bahwa lebih utama mendidik seorang putra yang suputra dari pada melakukan upacara yadnya 100 kali. Inilah salah satu pandangan Hindu yang dapat dijadikan sebagai acuan di zaman kali yuga dewasa ini.

Namun, bukan berarti upacara yadnya sebagai kegiatan beragama yang telah diwariskan secara turun temurun ditinggalkan? Sama sekali tidak. Tentu ini dapat dipedomani sebagai bagian dari revitalisasi agama menuju pemahaman yang imanen dan permanen sehingga dapat memosisikan diri dalam kehidupan beragama yang lebih menekankan pada aspek spiritual, bukan semata mata pada aspek ritual yang menekankan pada fisik dan materialnya belaka.

Hakikat manusia yang masih dipengaruhi oleh Asuri Sampad cendrung akan menonjolkan prilaku yang danawa. Akan tetapi jika daivi sampad menguasai sifat-sifatnya, tentu ia akan menjadi manusia yang Manawa, yakni toleran, bersahaja, dan bijaksana. Dengan demikian, ia akan menjadi mahluk sosial yang berjiwa sosial serta dapat mengembangkan perilaku toleransi secara wajar dan benar. Dia tidak angkara, bahkan sebaliknya, dia akan menjadi anresangsia. Dia tidak akan pernah mementingkan dirinya sendiri, yang sekaligus pula dapat menuntun menuju jagadhita berdasarkan satyam, sivam, sundaram (kebenaran, kesucian dan keindahan).

Agama Hindu sangatlah universal dan fleksibel. Di dalam agama Hindu terdapat perbedaan yang menyatu dalam ke-Esa-an, yaitu Eka Twa, Aneka Twa, Swalaksana Bhatara. Konsep perbedaan dalam persamaan inilah melahirkan rasa seia sekata dalam persaudaran yang disebut dengan Vasudeva Kutumbakam (kita semua bersaudara).

Pemahaman yang demikian itu pulalah sesungguhnya terkandung makna cinta kasih dan kasih sayang, yang di dalamnya agama sebagai iner power baginya, yang dapat mengalir kebahagiaan.

Hal ini sebagaimana tersebut dalam Regveda i.90, 6-7 “Madhuvata ntayate, madhu ksaranti sindhuvah, madhwir nah sanvosadhih”. Artinya, untuk dia yang menuruti Rtam (hukum alam) angin akan penuh dengan rasa manis, sungai mencurahkan rasa manis, begitu pula banyak pohon yang terasa manis untuk kita."

Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, di dalam ajaran Agama Hindu dikenal dengan istilah Dharma Agama dan Dharma Negara. Dharma Agama adalah wujud bakti umat Hindu terhadap kemahakuasaan Tuhan dalam memerankan ajaran Agama yang inovatif, kreatif, dan integratif. Sedangkan Dharma Negara adalah hak dan kewajiban, serta tanggung jawab umat Hindu sebagai warna  negara untuk senantiasa membela, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan sekaligus berbakti dan mengabdi terhadap nusa dan bangsa.

Untuk kedua persoalan ini, sangatlah dibutuhkan adanya toleransi yang patut dijunjung tinggi sebagai keragaman yang harmonis, dalam memandang keEsaan Tuhan. Ini sebagaiman disebutkan dalam Kitab Sutasoma “Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangruwa”. Dengan keanekaragaman ini tentu menjadi lahan subur untuk meningkatkan spiritualitas sebagai pemeluk hindu yang imanen.

Kesimpulannya, menumbuhkembangkan sikap toleransi melalui cinta kasih dan kasih sayang dalam kehidupan beragama dapat melahirkan rasa seiya dan sekata dalam suka dan duka. Bila kualitas bakti seseorang meningkat maka perilaku seseorang berada pada hakikat Dharma. Sebab, dia senantiasa memancarkan cinta kasih dan kasih sayang, bukan hanya kepada sesama manusia tetapi kepada seluruh mahluk ciptaan Tuhan.

Oleh karena itu marilah kita serukan secara luas kepada seluruh umat manusia untuk selalu memelihara sikap toleransi melalui cinta kasih dan kasih sayang di dalam kehidupan sehari – hari. Sekian dan terimakasih. OM Santih Santih Santih Om.

I Gusti Ayu Yunita Dewi (ASN Bimas Hindu)