Obsesi Kecantikan dan Ketampanan

Passa cittakataṁ bimbam arukāyaṁ samussitaṁ; Ᾱturaṁ bahusaṅkappaṁ yassa natthi dhuvaṁ țhiti. Lihatlah tubuh yang indah ini, banyak orang menganggapnya sangat berharga dan dirawat dengan sungguh-sungguh; tetapi sesungguhnya tubuh ini tidaklah kekal, penuh luka, ditopang oleh sekumpulan tulang dan mudah sekali diserang penyakit. (Dhammapada, Syair: 147)

Adalah hal yang wajar jika seseorang menyukai keindahan, kecantikan, maupun ketampanan. Tentu juga suatu kebahagiaan jika terlahir sebagai manusia dengan kecantikan maupun ketampanan. Andaikan bisa memilih sebelum lahir, maka kemungkinan besar kita memilih terlahir dengan wajah rupawan. Bahkan jika kita terlahir dengan wajah yang kurang rupawan pun kita akan berupaya agar menjadi lebih rupawan, indah, dan menyenangkan dengan berbagai upaya, misalnya perawatan wajah dan tubuh. 

Guru Agung Buddha Gautama semasa kehidupanya juga dikisahkan mempunyai fisik yang sempurna dengan 32 tanda khusus (maha purissa lakkhana). Semua itu didapat sebagai buah dari perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan sebagai Bodhisatta sebelum mencapai kebuddhaan. Ini artinya siapa pun yang melakukan kebaikan-kebaikan seperti yang Bodhisatta lakukan juga dapat memperoleh berkah keindahan fisik ini.

Dalam ajaran Buddha mencintai keindahan, ketampanan, kecantikan bukanlah suatu hal buruk. Menjadi buruk apabila timbul kemelekatan, obesesi (upadana) untuk terus-menerus memperoleh kecantikan dan ketampanan sehingga menolak realitas sifat alamiah yaitu segala sesuatu tidak kekal (anicca). Penolakan terhadap sifat ketidakkekalan akan menimbulkan penderitaan. 

Dalam satu kisah Dhammapada Atthakatha menyoal kecantikan (termasuk juga ketampanan) kita dapat merujuk cerita tentang Ratu Khema. Seorang permaisuri raja Bimbisara yang begitu mendambakan kecantikan. Memang Ratu Khema dalam berkali-kali kelahiran selalu terberkahi dengan wajah yang cantik. Kecantikan menjadi obsesinya dan bahkan menjadi sombong karena kecantikannya. Setelah mendengar syair pujian keindahan hutan Veluvana, Ratu Khema berniat membuktikan keindahan Veluvana. Di sana dia bertemu Sang Buddha yang sedang mengajarkan Dhamma. Ratu Khema melihat di samping Sang Buddha ada sesosok perempuan cantik yang melebihi dirinya. Dalam pikiran Ratu Khema, Sang Buddha tidak menyukai kecantikan tetapi kali ini justru terdapat wanita cantik di samping Sang Buddha. Tanpa sadar Ratu khema terus mendekat dan memperhatikan wanita cantik tersebut namun lama kelamaan menjadi semakin bertambah tua, keriput, mati dan menjadi menjijikkan karena membusuk lalu dimakan belatung. Merenungkan hal ini Ratu Khema tergugah kesadarannya dan mencapai tingkat kesucian pertama. 

Menjaga, merawat dan menjadikan tubuh lebih indah, sehat dan mendukung untuk aktivitas kebaikan merupakan hal yang baik. Tubuh ini mudah rusak, mudah terkena penyakit, mudah menjadi kotor dan menjijikkan sudah sewajarnya kita merawatnya agar tidak menimbulkan penderitaan yang lebih jauh. Tetapi kesadaran bahwa tubuh ini tidak mungkin dipertahankan selamanya agar terus menerus tetap indah perlu ditumbuhkan. Tujuannya adalah mengikis kemelekatan, kesombongan dan penderitaan karena pandangan salah terhadap jasmani. Terhadap tubuh ini kita hanya mempunyai hak pakai bukan hak milik. 

Sabbe satta bhavantu sukhitata, semoga semua makhluk hidup berbahagia.