Penundukan Diri

Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus. Refleksi Minggu kali ini mengulas tentang firman Tuhan dalam Lukas 9:23: Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku."

Salah satu arti menyangkal diri adalah melakukan kehendak Tuhan sekalipun bertentangan dengan kehendak daging. Contoh dalam Alkitab: Abraham taat untuk mempersembahkan anaknya.

Melakukan kehendak Tuhan sekalipun bertentangan dengan kehendak daging sama dengan tunduk; menyerah sepenuh kepada Tuhan. Dalam 1 Petrus 2: 18, disebutkan: "Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis."

Pada kesempatan kali ini kita lihat di dalam ayat-ayat firman Tuhan mengenai penundukan diri. 

Pertama, hamba/pelayan Tuhan harus tunduk kepada Tuhan/firman Allah sampai daging tidak bersuara. Dalam

Yakobus 4: 7: Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!

Hasilnya: kita bisa melawan dan mengalahkan setan, sehingga bebas dari dosa--hidup benar--dan pencobaan. Kalau tidak tunduk, kita justru dikalahkan Setan--menambah dosa dan masalah; melawan Tuhan.

Secara jasmani, hamba tunduk pada majikannya. Dalam Kolose 3: 22: "Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.

Hamba-hamba di dunia: rumah tangga, kantor harus tunduk kepada tuannya karena takut akan Tuhan. Ini berarti tunduk dengan tulus hati, dan dia akan mendapatkan upah dari Tuhan yang berkelimpahan--sampai mengucap syukur. Mungkin tuannya bengis--gaji dikurangi dan sebagainya--, tetap tunduk, karena upahnya dari Tuhan, Dia mengutuk tuan yang menahan upah hambanya.

Kedua, tunduk kepada gembala lewat firman penggembalaan, tegoran/nasihat yang benar secara pribadi. 'pemimpin-pemimpinmu'= gembala jemaat.

Dalam Ibrani 13: 17: Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.

Kalau kita tunduk dalam penggembalaan, akan ada tudung dari Gembala Agung dan gembala manusia, sehingga ada pemeliharaan, perlindungan, dan keberhasilan.

Kalau tidak tunduk tetapi membuat gembala berkeluh kesah, cepat atau lambat pasti rugi dan gagal, sampai kehilangan keselamatan.

Ketiga, tunduk kepada pemerintah, yaitu berbuat baik kepada pemerintah, dengan cara mengikuti peraturan pemerintah. Dalam Titus 3: 1:

Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik.

Dijelaskan juga dalam Roma 13: 1-3 dan Roma 13: 6. Dalam 13:1: Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.

Dalam 13:2: Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. Dalam 13:3:  Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya.

Dan, dalam Roma 13:6: Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. Kalau sudah mengikuti peraturan pemerintah kita bisa hidup tenang, tidak usah takut.

Tunduk sama dengan leher--hubungan paling erat antara Kepala dengan tubuh. Jadi, kalau ada penundukan, berarti kita punya leher; ada hubungan erat antara Yesus sebagai Mempelai Pria Sorga dengan kita sidang jemaat sebagai mempelai wanita sorga, yaitu hubungan kasih agape/kasih Allah, sehingga kita bisa:

1. Mengasihi Tuhan lebih dari semua.

Mengasihi Tuhan lebih dari semua artinya sama dengan menyangkal diri. Dalam Lukas 14: 26: "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

a) Membenci dosa sekalipun harus kehilangan nyawa--'membenci nyawanya sendiri'.

b) Tidak menyetujui dosa sekalipun ia keluarga kita--'membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan'. Kita tidak membenci orangnya tetapi dosanya.

2. Mengasihi sesama seperti diri sendiri bahkan orang yang memusuhi kita; tidak merugikan orang lain sampai membalas kejahatan dengan kebaikan--tidak berbuat jahat sedikitpun.

Ada teladan dari Yesus mengenai penundukan diri: 

a. 'Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani' = melakukan kewajiban, bukan menuntut hak; tidak punya hak tetapi hanya kewajiban.

b. Pengorbanan-pengorbanan.

Yesus menempatkan diri sebagai Kepala, dan kita menempatkan Dia sebagai Kepala:

c. Dia Raja, dan kita menjadi raja-raja.

d. Dia Imam Besar, dan kita menjadi imam-imam.

e. Dia Mempelai Pria, dan kita mempelai wanita-Nya.

Tunduk, banyak menyembah! Roh Kudus yang memberi kekuatan kita. Mungkin kita lemah hari-hari ini, mari, Roh Kudus menjadi kekuatan kita. Dulu Yesus juga tidak kuat saat di taman Getsemani; Yesus tidak kuat juga: Bapa, kalau bisa lalukan cawan ini dari pada-Ku.Dia takut dan sedih. 

Tetapi Roh Kudus menguatkan sampai berkata: Ya Abba, ya Bapa. Kita juga hari hari ini, Roh Kudus menguatkan kita dan bisa berseru: Ya Abba Ya Bapa.

Tunduk sungguh-sungguh, serahkan semua pada Tuhan! Kuat teguh hati, tangan kuat--tetap setia--, lutut kuat--menyembah Tuhan--, dan Roh Kudus menyelesaikan semua masalah sampai kita sempurna. Tuhan Yesus memberkati.

 

Pdt.  Drs.Tono Yoshua Ray, MBA (Gembala GSPDI Elcavana dan Sekretaris Majelis Pembina Rohani (MPR) Gereja Sidang Pantekosta Di Indonesia atau GSPDI)