Pradakshina

Pūjā ca pūjanīyānaṁ etam manggalamuttamam. (Menghormat kepada yag patut dihormati adalah berkah utama)

Tradisi dalam agama Buddha memiliki sejarah panjang yang tidak terputus dari kehidupan Buddha Gautama. Kebiasaan yang dilakukan di masa kehidupan Buddha atau sering disebut sebagai vattha dijadikan sebagai pedoman yang terus menerus diwariskan dari generasi awal sampai sekarang. Salah satu tradisi yang dilestarikan dalam ajaran Buddha adalah tradisi penghormatan. Walaupun agama Buddha lebih sering menyesuaikan pola tradisinya dengan karakteristik lokal tempat berkembangnya agama Buddha tetapi ada corak utama yang terus dipertahankan. Tradisi penghormatan atau lazimnya disebut garava memiliki corak yang hampir sama di seluruh belahan dunia. Bentuk praktek penghormatan seperti sikap merangkapkan kedua tangan (anjali), bersujud penuh (namakara) dan mengelilingi objek yang dihormati dengan pola searah jarum jam (Padakkhina/Pradakshina) terus lestari sampai sekarang. Tradisi ini seluruhnya bersumber dari kebiasaan atau vattha yang berkembang di jaman kehidupan Buddha. 

Penghormatan memiliki rujukan nilai luhur yang jelas dalam ajaran Buddha. Bahkan babaran agung Manggala Sutta dalam salah satu syairnya menyatakan dengan tegas bahwa menghormat sesuatu yang pantas atau patut dihormati adalah berkah utama. Penghormatan dalam hal ini dipandang sebagai sesuatu yang membawa keberkahan, sangat bermanfaat dan bukan merupakan sebuah perilaku yang sia-sia. Menghormat atau memuja dengan tulus tentu merupakan sebuah tindakan yang didukung oleh kehendak baik sehingga akan menghasilkan kebahagiaan di kemudian hari. Padakkhina atau Pradakshina dengan mengelilingi obyek penghormatan dapat menjadi aktivitas yang membawa pada keberkahan. Tentu aktivitas fisik pradakshina yang masuk dalam kategori menghormat pada sesuatu yang patut dihormati membutuhkan berbagai syarat pokok yang harus terpenuhi. Syarat pertama adalah adanya obyek penghormatan yang benar (dakkhineyya sampada), kemudian adanya kehendak yang benar (cetana sampada) untuk melakukan pradakshina dan tentu sikap dalam pelaksanaan yang benar. 

Obyek penghormatan pradakshina sesungguhnya adalah sang Tri Ratna itu sendiri tetapi di masa ketika Buddha sudah parinibbana, obyek penghormatan dialihkan pada sesuatu yang mengandung nilai luhur yang dianggap berhubungan dengan Tri Ratna. Tempat bersejarah bagi kehidupan Buddha di India sering dijadikan sebagai obyek pradakshina seperti tempat lahir, mencapai penerangan agung dan parinibbana Buddha. Di berbagai wilayah di luar India dimana aktivitas historis Buddha tidak terjadi disana maka pradakshina mengambil obyek suci berupa bangunan yang dikaitkan dengan aktivitas Dharma maupun tempat menyimpan relik atau berbagai simbol dari Triratna. Secara umum obyek pradakshina sering dikelompokkan menjadi Paribhogacetiya bangunan bernilai historis yang melibatkan kehidupan Buddha seperti taman lumbini, Buddhagaya dan Kusinara; Dhatucetiya yaitu bangunan umumnya berupa stupa untuk menyimpan relik suci Buddha; Dhammacetiya yaitu tempat khusus yang digunakan untuk menyimpan kitab suci; dan Uddesikacetiya obyek penghormatan yang dianggap memiliki nilai karakteristik Buddhis misalnya rupang Buddha, cakra dan berbagai simbol yang dikaitkan dengan simbol Buddha. 

Di Indonesia lazimnya pradakshina dilakukan pada obyek penghormatan seperti candi, tempat menyimpan relik, vihara yang memiliki altar dan tempat menyimpan buku-buku Dharma. Kebiasaan yang sudah sangat familiar di Indonesia khususnya dalam upacara-upacara besar di Candi Borobudur adalah mengelilingi candi atau berpradakshina searah jarum jam selama tiga putaran penuh. Selain obyek yang benar, pradakshina memerlukan prasyarat kehendak (cetana) yang benar dan lurus dalam arti tidak menyimpang dari kaidah dharma. Kehendak yang benar akan menuntun pada sikap yang benar sehingga pradakshina menjadi aktivitas spiritual yang lengkap dan utuh. Penghayatan dalam proses berjalan mengelilingi obyek perhormatan harus hadir dalam batin setiap peserta, perenungan terhadap keluhuran Buddha, Dharma dan Sangha akan mengkondisikan batin menjadi penuh devosi dan menghadirkan ketenangan. Bagi meditator, pradakshina dapat dimaknai sebagai aktivitas meditasi yaitu hadirnya kesadaran kekinian dalam setiap langkah aktivitas pradakshina. Prasyarat pradakshina yang lengkap akan menuntun pada buah keberkahan bagi setiap peserta sehingga pradakshina sesungguhnya adalah sebuah aktivias spiritual yang nyata bukan hanya semata-mata melestarikan tradisi kuno dari zaman Buddha. 

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.


TERKAIT

Yadnya

Bijak dalam Memilih

Uposatha

Kebahagian dan Penderitaan

Orang Samaria yang Murah Hati