Spirit Dhamma Terhadap Perubahan Iklim 

“Ārāmaropā vanaropā, ye janā setukārakā; Papañca udapānañca, ye dadanti upassayaṁ. Tesaṁ divā ca ratto ca, sadā puññaṁ pavaḍḍhati; Dhammaṭṭhā sīlasampannā, te janā saggagāmino”ti. “Menjaga hutan, taman atau perkebunan, membangun jembatan, tempat minum dan sumur, dan mereka yang memberikan tempat tinggal. Jasa mereka selalu tumbuh siang dan malam. Teguh dalam prinsip, sempurna dalam perilaku, mereka akan menuju surga”(Vanaropa Sutta, Samyutta Nikaya.1.47)

Rangkaian Presidensi G20 tahun 2022 yang telah berlangsung dan nanti puncaknya akan dilaksanakan pada bulan Oktober-November 2022 di Bali, membahas berbagai isu besar dunia untuk menemukan berbagai solusi bersama antar bangsa. G20 sebagai forum kerja sama multilateral dipandang memiliki nilai yang sangat strategis karena mewakili  representasi 60% populasi dunia, 75% perdagangan global, dan 80% PDB dunia. Tema besar Presidensi G20 adalah Recover Together, Recover Stronger, dengan mengangkat berbagai isu kebangkitan, perbaikan, pemulihan kondisi pasca covid-19 dari berbagai aspek. Salah satu isu besar yang diangkat adalah upaya mengatasi perubahan iklim dan kerusakan alam global yang mengancam dunia. 

Perubahan iklim adalah ancaman nyata bagi seluruh bangsa yang sangat berpotensi membawa kerusakan serius. Laman berita Institut Teknologi Sepuluh Nopember mengutip hasil kajian ilmiah, riset dan penelitian, World Economic Forum dalam salah satu artikel berjudul The Global Risk Report 2019 menyimpulkan bahwa perubahan iklim menempati posisi paling atas sebagai penyebab musibah global, seperti bencana alam, cuaca ekstrem, krisis pangan dan air bersih, hilangnya keanekaragaman hayati, dan runtuhnya ekosistem.

Dalam laman resmi Knowledge Centre Kementerian Lingkungan Hidup dijelaskan bahwa perubahan iklim secara nyata akan mengurangi kuantitas dan kualitas seluruh air yang ada di dunia, sebuah ancaman yang sangat mengerikan karena air merupakan penyokong utama kehidupan seluruh makhluk yang ada di bumi termasuk manusia dan tumbuhan. Bisa dibayangkan bagaimana kerusakan yang akan ditimbulkan jika secara kuantitas dan kualitas air di dunia berkurang secara drastis.

Mengatasi ancaman perubahan iklim tidak bisa dilakukan secara parsial, seluruh aspek kehidupan harus bahu membahu bersama, bersatu menjadi gerakan global penyelamatan bumi. Salah satunya adalah dari komunitas agama. Agama diharapkan menyumbangkan fungsi altruistiknya secara nyata untuk bersama-sama mewujudkan tatanan kehidupan dunia yang lebih nyaman untuk dihuni. Tema perubahan iklim seyogyanya menjadi tema kajian arus utama dalam beragama sehingga timbul kesadaran umat akan pentingnya merawat alam sebagai tempat tinggal kita bersama. Pesan moral agama dalam konteks merawat alam perlu lebih disuarakan oleh tokoh-tokoh agama dan institusi lembaga agama sehingga agama akan menjadi spirit yang strategis bagi sebuaah gerakan bersama merawat alam. 

Dalam konteks ajaran Buddha, sebenarnya banyak sekali pesan moral, nilai, dan ajaran yang mendorong pada spirit pelestarian alam dan lingkungan hidup. Kisah kehidupan Buddha tidak pernah lepas dari aspek altruistik merawat dan melestarikan alam. Salah satunya adalah peristiwa yang disebut dalam kitab suci sebagai animisa sattaha, di mana Buddha pasca pencerahan secara simbolik berterima kasih secara mendalam terhadap pohon Bodhi yang menaungi beliau dengan menatapnya penuh kasih selama satu minggu. Nilai moral berupa terima kasih terhadap pohon dalam konteks yang lebih luas menunjukkan bahwa ada relasi mendalam antara manusia dengan alam sekitarnya. Manusia tidak dapat hidup tanpa alam, sebaliknya kelestarian alam juga dipengaruhi perilaku manusia. 

Pesan Dhamma dalam konteks kepedulian terhadap lingkungan hidup dapat dijumpai pada berbagai teks klasik ajaran Buddha. Dalam Dhammapada ayat 49 tersurat larangan terhadap eksploitasi alam yang berlebihan dan merusak. Cara memanfaatkan sumber daya alam dan lingkungan hidup diibaratkan seperti perilaku lebah yang tidak merusak bunga dalam memperoleh madu melainkan justru membantu proses penyerbukan. Ada simbiosis mutualisme atau hubungan saling menguntungkan antara manusia dengan alam sekitar, hubungan saling menguntungkan ini harus menjadi kode etik dan pedoman. Selain Dhammapada, dalam Vanaropa Sutta secara eksplisit menyebutkan bahwa melestarikan taman (aramaropa) maupun hutan (vanaropa) sebagai sebuah kebajikan luhur yang berpahala besar. 

Berbagai upaya nyata kepedulian umat Buddha terhadap pelestarian alam telah banyak dilakukan di Indonesia. Organisasi Buddhis sering menyelenggarakan praktik pelepasan satwa maupun penenaman pohon penyangga kehidupan seperti gerakan Buddha Tzu Chi yang banyak berkontribusi positif dalam mendaur ulang sampah dan melestarikan alam. Dalam skala lokal, terinspirasi dari Vanaropa Sutta untuk menjaga dan memelihara alam, umat Buddha di dataran tinggi menoreh Kulon Progo secara rutin menjelang Waisak menyelenggarakan upacara adat keagamaan unik Tribuana Manggala Bhakti. 

Upacara pelestarian alam penanaman pohon, pelepasan satwa, pelestarian mata air dalam format perpaduan budaya dan agama telah menjadi gerakan bersama antara umat dan pemerintah daerah dalam menjaga ekosistem alam pegunungan Menoreh. Pada akhirnya menjaga kelestarian alam dalam rangka berkontribusi terhadap upaya mengatasi perubahan iklim harus menjadi kesadaran bersama. Diperlukan aspek pemahaman, jaringan, kerjasama, membangun program sampai menjalankan aksi bersama untuk menjaga bumi tetap lestari.