Teruslah Menabur dalam Kebaikan

Shalom. Umat Kristen di seluruh Indonesia, semoga senantiasa dalam keadaan baik dan diberkati Tuhan, serta menikmati kasih karunia kebaikan Tuhan. Di tengah pandemi, mari terus berdoa supaya kita tetap bisa melakukan kebenaran Tuhan, yaitu di tengah kegelapan kita menjadi terang yang bersinar, kita menjadi garam dunia.

Mimbar Minggu kali ini membahas tema "Teruslah Menabur Kebaikan".  Mengapa? Karena Mazmur 126:5-6 berkata demikian:

“Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.”

Apakah anda mau mengalami panen yang berlimpah-limpah? Apakah anda mau membawa pulang berkas-berkas dengan sorak-sorai dan penuh sukacita? Kalau mau, tidak ada yang lain, anda harus menabur. Sebab, kalau orang tidak menabur, tidak akan menuai.

Sekalipun di tengah-tengah air mata, di tengah-tengah dukacita anda harus menabur, kata pemazmur ini. Mungkin ada di antara pemirsa yang sedang mengalami air mata dukacita karena Covid-19 atau karena pekerjaan, karena keuangan, karena masalah pergumulan demi pergumulan, tetapi pesan hari ini adalah teruslah menabur kebaikan. Bahkan, meski di tengah air mata, mari tetap berjalan sambil menabur benih.

Mengapa kita harus menabur kebaikan? Di dalam Galatia 6:7-10 mengingatkan kita:

“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.”

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”

Mengapa kita harus menabur kebaikan? Dan terus menabur? Pertama, apa yang ditabur itu yang dituai. Kita harus menabur kebaikan untuk menuai kebaikan, sebaliknya kalau anda menabur daging akan menuai kebinasaan, akan menuai hal yang tidak baik.

Galatia 6 dimulai dengan kata: “Jangan sesat!” Karena banyak orang yang pikirannya tersesatkan, pikirannya salah. Mereka pikir Tuhan bisa dipermainkan tetapi Paulus dalam Galatia 6 berkata dengan jelas: “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.”

Tuhan yang menciptakan alam semesta ini adalah Tuhan yang merancang hukum tabur tuai. Misalnya, saudara menanam biji jagung di tanah, saudara tidak bisa habis menanam lalu tumpangi tangan dan berdoa bahkan kalau perlu anda puasa dan berkata “Dalam nama Yesus aku tanam biji jagung, tapi aku minta mujizat Tuhan tumbuh jadi pohon mangga, karena saya pengen mangga.” Tidak bisa, Tuhan tidak bisa dipermainkan saudara sekalipun anda berdoa dan puasa.

Mengapa? Karena Tuhan yang membuat hukumnya, Tuhan yang merancang jagung itu. Ini rancangan Tuhan, anda tanam biji jagung, akan tumbuh pohon jagung dan berbuah jagung. Kalau anda tanam pohon mangga, biji mangga akan jadi pohon mangga dan berbuah mangga. Tidak mungkin buah semangka berdaun sirih, begitulah lagunya saudara. Apa yang  kau tanam, itu yang kau tuai.

Jadi kita diingatkan, jangan mempermainkan Tuhan kalau kau mau menuai kebaikan. Taburlah kebaikan dan luar biasanya tuaian itu selalu lebih banyak dari hasilnya. Dan yang ditabur, tidak mungkin anda hanya menabur 1 biji, lalu tumbuh jadi pohon, lalu jadi buah tongkol jagung, ketika dibuka anda hanya dapat 1 biji lagi.  Anda tanam jadi 1 tongkol, lalu dapat 1 biji lagi? tidak. Pada 1 pohon mungkin bisa beberapa tongkol. Jadi, apa yang ditanam, itu yang dituai bahkan berlipat ganda.

Di dalam Galatia 6 dijelaskan, kalau menabur dalam daging akan menuai kebinasaan dan kalau menuai dalam Roh akan menuai hidup yang kekal. Tujuannya lebih besar. Jadi saudara pesan hari ini taburlah yang baik, jangan tabur yang jahat. Jika engkau menolong orang akan diganti  dengan engkau akan ditolong orang. Ketika engkau memberkati orang lain, anda akan diberkati. Kenapa? Karena Tuhan melihat semua.

Beberapa orang yang ditangkap KPK, masuk dalam penjara karena terbukti korupsi, itu bukan hanya karena sial lalu tertangkap. Itu terjadi karena mereka sudah menabur. Mereka korupsi itu sebabnya ditangkap.

Tapi, saya kenal dan tahu, ada banyak pegawai negeri yang benar-benar berjuang menjaga kepercayaan. Sekalipun sedang kepepet, sekalipun uangnya tidak banyak karena kebutuhan sangat besar, atau mungkin ada kesempatan, mereka tetap jaga kekudusan, mereka tetap menabur kebaikan, mereka tetap tidak mau korupsi dan rasanya hidup mereka tenang, damai, sukacita, menikmati berkat-berkat Tuhan.

Mengapa? Karena siapa yang menabur akan menuai, dia menabur kejahatan akan menuai kejahatan. Inilah berita baiknya, kalau anda menabur kebaikan, maka anda akan menuai kebaikan dari Tuhan. Karena itu terus tabur kebaikan hari-hari ini, termasuk pada masa krisis.

Prinsip kedua yang kita bisa belajar adalah teruslah menabur hingga waktu menuai. Jangan berhenti menabur, Galatia 6:9 berkata:

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”

Jangan jemu berbuat baik. Orang bisa menjadi lemah, menjadi jemu dan orang berhenti berbuat baik. Tetapi pesan Tuhan di sini jangan jemu berbuat baik. Akan ada waktu menuai tapi jika sebelum waktu untuk menuai anda berhenti menabur kebaikan, jangan-jangan anda akan menuai yang tidak baik itu. Mengapa? Kalau anda melakukan yang tidak baik, anda akan menuai yang tidak baik itu. Jadi terus tabur saja yang baik.

Ada seorang penjaga gudang. Dia karyawan yang baik. Selama 30 tahun bekerja, dia tidak pernah mencuri. Sementara teman-temannya, banyak yang mengambil barang, banyak yang mencuri.

Suatu kali, penjaga gudang itu  sedang kepepet. Ada kebutuhan, lalu dia mengajukan pinjama, namun tidak dapat. Akhirnya, hari itu, untuk sekali itu, dia mencuri. Malang, pada malamnya, dia tertangkap. Dia lupa bahwa pemilik gudang telah memasang kamera CCTV.

Dia berkata, aku baru sekali ini mencuri, mengapa tertangkap? Sementara orang lain berulang kali mencuri, tapi tidak pernah tertangkap.

Saudara, tidak peduli tertangkap atau tidak, kalau anda mampu berbuat baik teruslah berbuat baik. Bertahan jangan jadi orang jahat, jangan lakukan kejahatan. Mengapa? Di saat anda melakukan yang jahat, anda akan melakukan yang jahat. Tetapi jika engkau terus bertahan melakukan kebaikan sekalipun bercucuran air mata, terus menabur yang baik.

Bukan kah itu tidak adil? Tidak begitu, Tuhanmu melihat. Imanuel, Ia bersama anda, ia melihat anda dan anda akan menerima tuaian dari Tuhan. Jadi terus menabur dan jangan berhenti.

Ada seorang manajer muda di perusahaan yang cukup besar. Sementara General Manager sudah memasuki usia pensiun. Maka, Dewan Direksi berkumpul untuk memilih pengganti General Manager. Mereka sepakat memilih seorang manajer termuda, tapi brilian dan paling bagus. Rapat saat itu berlangsung tertutup, namun entah mengapa terdengar kabar keluar hingga didengar manajer-manajer lainnya. Para manajer senior ini lalu bersepakat untuk membuat masalah agar manajer yang paling muda ini terlihat buruk kinerjanya di depan Dewan Direksi. Mereka berbuat seperti itu karena iri hati dan jengkel.

Berhari-hari, berminggu-minggu, mereka tidak memberikan support kepada manajer muda ini. Sekali waktu manajer muda ini memberi usulan, mereka tidak mendukung. Manajer muda ini tahu bahwa ia akan diangkat menjadi General Manager juga dan para seniornya iri hati.

Hingga pada suatu ketika, ada rapat bersama Direktur karena ada satu masalah. Ternyata, para manajer senior sepakat untuk melimpahkan kesalahan kepada manajer muda. Manajer muda itu pun marah, berminggu-minggu ia bisa menahan amarah namun hari itu ia marah dan menggebrak meja.

Akhirnya, diadakan kembali Rapat Direktur. Saat itu diputuskan Direktur batal mengangkat manajer muda karena dinilai belum waktunya dan harus banyak belajar lagi untuk menahan emosi di depan orang. Manajer muda itu kehilangan kesempatan untuk naik karena ia jemu berbuat baik, karena ia tidak tahan.

Untuk itu, jangan jemu berbuat baik. Teruslah berbuat baik. Kenapa?  Karena apa yang ditabur akan engkau tuai. Ada waktu untuk menuai dan menaburlah selagi ada kesempatan. Karena itu selagi masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Kepada siapa engkau bisa menolong? Kalau engkau bisa menolong semua, tolonglah semua tetapi kalau engkau terbatas, tolonglah orang-orang yang ada di dekatmu, tolong hamba-hamba Tuhan, tolong gereja-gereja Tuhan, tolong orang-orang yang membutuhkan, tolong keluargamu.

Saya percaya orang akan bersyukur ketika ia gunakan kesempatan untuk menabur. Karena apa yang engkau tabur itu yang akan engkau tuai. Anda bertanya kapan waktu terbaik untuk panen buah mangga di kebun anda, tentu waktu terbaik adalah ketika anda menanamnya 5 tahun yang lalu, 6 tahun yang lalu, 7 tahun yang lalu, mungkin 10 tahun lalu, maka pohon manggamu sedang berbuah hari-hari ini. Tetapi kalau dulu belum menabur sehingga tidak ada pohon mangga di kebunmu, maka hari ini waktunya yang terbaik, tabur selama ada kesempatan.

Saya teringat Yusuf, sudah menjadi anak yang baik di rumah, tetapi masih dibenci kakak-kakaknya. Dia dimasukkan ke sumur, lalu dijual sebagai budak. Dia diperlakukan tidak adil. Tapi sekalipun diperbudakan, ia tetap menabur kebaikan. Ia tetap berbuat baik, bekerja dengan baik di depan Potifar sampai naik menjadi kepala rumah tangga Potifar.

Lalu Yusuf difitnah, masuk dalam penjara, gara-gara dia berbuat kebaikan. Dia tidak mau menyentuh isteri Potifar, tetapi malah difitnah dan diperlakukan tidak baik. Tetapi Alkitab berkata, dia dipenjara, dia tetap berbuat baik, dia menolong narapidana lain, dia menolong kepala penjara, dia menafsirkan mimpi-mimpi, dia menolong banyak orang sampai dia menjadi kepercayaan Kepala Penjara.

Apa yang dibuatnya selalu berhasil karena ia berbuat kebaikan. Tuhan menolong dia hingga dua tahun dia dilupakan di penjara oleh Juru Minuman yang dia tolong ditafsirkan mimpinya. Akhirnya setelah dua tahun barulah dia ingat, ketika Firaun juga bermimpi dan akhirnya Yusuf dikeluarkan  dan dibawa ke depan Firaun dan dia berhasil menafsirkan mimpinya Firaun.

Saudara, permintaan Firaun adalah tafsirkan mimpiku, tetapi Yusuf, dia menabur kebaikan. Dia menafsirkan akan ada 7 tahun kelimpahan di Mesir yang disusul dengan 7 tahun kelaparan yang begitu parah dan semua akan hilang.

Penjelasan itu sebenarnya sudah cukup. Karena harapan Firaun adalah tafsir mimpinya. T,metapi Yusuf suka menabur kebaikan. Dia tambahkan penjelasan, agar Firaun mencari orang yang berhikmat yang bisa mengatur semua kebutuhan. Selama 7 tahun kelimpahan, kelebihan itu dikumpulkan dan dimasukkan dalam lumbung supaya nanti ketika masa kelaparan, rakyatmu, rakyat negeri ini tidak kelaparan.

Firaun menerima sarannya. Firaun menilai Yusuf orang yang pintar, pandai manajemen. Firaun juga merasa Yusuf orang yang baik, mau memikirkan rakyat banyak. Bahkan, Yusuf yang sudah dijadikan budak, sudah di fitnah, sudah dipenjara, saat ada kesempatan, dia masih memikirkan bagaimana rakyat Mesir tidak hancur karena kelaparan di 7 tahun itu. Hasilnya apa? Yusuf menjadi Perdana Menteri.

Saudara, terus tabur kebaikan di tengah-tengah air mata, di tengah-tengah krisis ini dan saya percaya kita akan menuai dengan luar biasa. Amin

 

Pdt. Handoyo Liem, M.Pd.K (Ketua Gereja Immanuel Indonesia)