Minggu, 24 Juni 2018

I Ketut Widnya: Hari Raya Galungan Moment Mawas Diri Hargai Kemajemukan

  • Kamis, 02 November 2017 16:55 WIB
Kankemenag Bangli Ida Bagus Suastika (kiri), Dirjen Bimas Hindu I Ketut Widnya (tengah) Bupati Gianyar Anak Agung Brata (kanan). (foto : istimewa)

Jakarta (Kemenag) --- Umat Hidun merayakan Hari Raya Galungan pada 1 November 2017. Hari Raya ini menjadi hari kemenangan Dharma (kebajikan/kebenaran) melawan kebatilan atau ketidakbenaran. 

Dirjen Bimas Hindu I Ketut Widnya berharap perayaan Hari Raya Galungan ini dapat menjaga perilaku Umat Hindu agar sesuai dengan ajaran Trikaya Parisudha, yaitu: berfikir, berkata, dan berindak yang baik dan benar.

“Dengan memenangkan dharma (Sang Dharmika), seorang yang mempunyai kualitas jasmani dan rohani untuk membangun peradaban Hindu (divine society), termasuk kualitas untuk menciptakan kerukunan,” kata I Ketut Widnya saat dihubungi Humas, Jakarta, Kamis (2/11).

Dikatakan I Ketut Widnya, Kama (hawa nafsu), lobha (loba) dan krodha (amarah) adalah tiga tindakan yang tergolong adharma dan dapat menjerumuskan manusia ke alam neraka. Di samping itu, mada (mabuk), moha (kebingungan, karena  banyaknya keinginan), dan matsarya (iri hati) juga merupakan musuh manusia yang harus ditaklukkan karena dapat menjerumuskan menuju neraka (breaks).

I Ketut Widnya berpesan agar umat Hindu selalu mawas diri dengan selalu menciptakan kreatifitas diri, seperti membuat ritual, meditasi dan praktek yoga serta selalu ingat kedada tuhan yang maha esa. “Peradaban rohani memerlukan satu syarat yaitu kerukunan dan toleransi serta penghargaan akan kemajemukan,” kata I Ketut Widnya.

Lebih jauh, I Ketut Widnya menyoroti, bahwa Hari Raya Galungan, hakekat kemenangan Dharma yang hanya dapat dimaknai melalui diri pribadi, yaitu pergulatan atau perang antara kebaikan dan keburukan di dalam diri sendiri. “Secara pribadi, kita harus memenangkan perang tersebut,” ujarnya.

Hari Raya Galungan juga menjadi tonggak peringatan yang mengingatkan manusia akan Tuhan dan dirinya sendiri. Menurut I Ketut Widnya, kelemahan manusia yang paling eksistensial adalah lupa kepada Tuhan dan diri kita sendiri. Karena itu, kalau ingin memenangkan Dharma, manusia harus selalu ingat (eling) kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Selamat Hari Raya Galungan kepada umat Hindu di Seluruh Indonesia,” tutup I Ketut Widnya.

Sumber : -
Penulis : M Arif Efendi
Editor : Khoiron
Dibaca : 999 kali