MQK, Ajang Kompetisi Ribuan Santri pada 25 Bidang Lomba Kitab Kuning

Jakarta (Kemenag) --- Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) tingkat Nasional akan kembali diselenggarakan di Pondok Pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang, Jepara, Jawa Tengah. Gelaran ke VI ini akan berlangsung dari 29 November hingga 7 Desember 2017. 

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ahmad Zayadi, mengatakan, sekitar 1.500 santri akan ikut ambil bagian pada ajang kompetisi Kitab Kuning ini. “Hampir dipastikan, peserta yang mengikuti lomba kitab kuning itu santri atau pernah nyantri di pondok pesantren,” papar Zayadi di Jakarta, Senin (27/11). 

Menurut Zayadi, MQK memperlombakan substansi dari apa yang selama ini diajarkan di pondok pesantren. Peserta diuji kemampuannya dalam membaca, memahami, menerjemahkan dan mengartikulasikan teks-teks yang terdapat dalam kitab kuning. 

“Kitab kuning merupakan ruh dari pondok pesantren. Tanpa kajian kitab, bukanlah pondok pesantren,” katanya.

“Total ada 25 bidang yang akan dikompetisikan yang terbagi dalam tingkat dasar, menengah, dan tinggi,” sambungnya.

Untuk marhalah ula (tingkat dasar), ada lima bidang lomba, yakni: 
1. Fiqh (Kitab Matn Safînah an-Najâ karya Sâlim Samîr al-Hadlary); 
2. Nahw (Kitab Matn al-Âjurrûmîyah karya Abu Abdillâh Muhamad ash-Shanhâjî); 
3. Akhlaq (Kitab Washâyâ al-Âbâ li al-Abnâ’ karya asy-Syaikh Muhammad Syâkir); 
4. Tarikh (Kitab Khulâshah Nûr al-Yaqîn karya ‘Umar ‘Abd al-Jabbâr); dan 
5. Tauhid (Kitab Aqîdah al-'Awâm karya Ahmad Muhammad al-Marzûqi al-Mâliki).

“Marhalah ula diikuti santri yang sudah berada di pesantren minimal satu tahun, dan berusia maksimal lima belas tahun kurang satu hari,” ujarnya.

Untuk marhalah wustha (tingkat menengah), ada sembilan bidang lomba, yakni: 
1. Fiqh (Kitab Fath al-Qarîb al-Mujîb fî Syarh Alfâzh at-Taqrîb karya Abû Abdillâh Syams ad-Dîn Muhammad Qâsim Al-Ghazziyy); 
2. Nahw (Kitab Nazhm al-Âjurrûmîyah (al-‘Imrîthî) karya Syarf ad-Dîn Yahyâ al-‘Imrîthî);  
3. Akhlaq (Kitab Ta'lîm al-Muta’allim Tharîq at-Ta’allum, karya Burhân al-Islâm az-Zarnûjiy); 
4. Tarikh (Kitab Nûr al-Yaqîn fî Sîrah Sayyid al-Mursalîn, karya asy-Syaikh Muhammad al-Khudhari Bik); 
5. Tafsir (Kitab Tafsir al-Jalâlain, karya Jalâl ad-Dîn al-Mahalliy & Jalâl ad-Dîn as-Suyûthiy); 

6. Hadis (Kitab Al-Majelis al-Saniyah Fil al-Kalam Ala Arba’in An- Nawawiyah (Syarh Kitab Al-Arbain An-Nawawi) karya Syaikh Ahmad bin Hijazi Al Fasyani); 
7. Ushul Fiqh (Kitab Al-Waraqat  karya Abu al-Ma’ali Abdul Malik al-Haromain); 
8. Balaghah (Kitab Al-Jauhar al-Maknûn karya Abd ar-Rahmân Shaghîr Al-Akhdlariy); dan 
9. Tauhid (Kitab Risâlah Ahl as-Sunnah Wa al-Jamâ'ah karya KH. Hasyim Asy'ari).

“Tingkat ini diikuti santri yang sudah menetap minimal 1 (satu) tahun, dan berusia maksimal 18 (delapan belas) tahun kurang 1 (satu) hari,” sambungnya.

Untuk marhalah ulya (tingkat tinggi), ada 11 bidang lomba, yakni: 
1. Fiqh (Kitab Fath al-Mu’în bi Syarh Qurrah al-‘Ain bi Muhimmât ad-Dîn karya Ahmad Zain al-Dîn al-Malîbârî); 
2. Nahw (Kitab Syarh Ibn ‘Aqîl ‘alâ Alfîyah Ibn Mâlik karya Bahâ’ ad-Dîn Abdullâh Ibn ‘Aqîl); 
3. Akhlaq (Kitab Mukhtashor Ihya ‘Ulumu al-Din, karya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali); 
4. Tarikh (Kitab Ar-Rahîq al-Makhtûm karya Shafiy ar-Rahmân al-Mubârakfûri); 
5. Tafsir (Kitab Marâh Labîd li Kasyf Ma’nâ al-Qur’ân al-Majîd karya asy-Syaikh Muhammad ‘Umar Nawawi al-Jâwî); 
6. Ilmu Tafsir (Kitab Al-Itqân Fî Ulûm al-Qur’ân, karya Jalâl ad-Dîn as-Suyûthiy); 

7. Hadis (Kitab Nuzhatul Muttaqin Syrah’ala Riyadh ash-Shalihin karya al-Syaikh Dr. Musthofa al-Bugho); 
8. Ilmu Hadits (Kitab Manhaj Dzawî an-Nazhar Syarh Mazhûmah al-Atsar karya Syekh Mahfud Termas);  
9. Ushul Fiqh (Kitab Syarh al-Luma’ Bayan al-Mullama’ ‘an al- Lafzhi al-Luma’ karya KH.Sahal Mahfuzh al-Jawi); 
10. Balaghah (Kitab Uqûd al-Jumân karya Jalâl ad-Dîn as-Suyûthiy); dan 
11. Tauhid (Kitab Hâsyiyah ad-Dasûqî ‘alâ Umm al-Barâhîn li as-Sanûsiy, karya asy-Syaikh Muhammad ad-Dasûqî).

“Marhalah ulya ini akan diikuti santri yang sudah mukim di pesantren minimal satu tahun, dan berusia maksimal 21 tahun kurang sehari,” tandasnya.