Rabu, 15 Agustus 2018

Uskup Agung Ajak Umat Kristiani Jadi Pelopor Perdamaian

  • Jum'at, 29 Desember 2017 05:50 WIB
(foto: daniel)

Pontianak (Kemenag) --- Uskup Agung  Mgr. Agustinus Agus mengajak umat  Kristiani menjadi pelopor kedamaian. Ajakan ini disampaikan Uskup Agung saat khotbah dalam Oikumene Natal Nasional 2017 di Pontianak.

"Kita harus membawa damai dimanapun kita berada. Kita menjadi agen perubahan. Perdamaian harus diperjuangkan oleh kita bersama orang lain dan orang yang beritikad baik tanpa membedakan suku dan agama," pesannya, Kamis (28/12).

Menurutnya, rasa persatuan dan kesatuan harus dimiliki seluruh masyarakat khususnya umat Kristiani. Perbedaan disyukuri sebagai kekayaan bersama dan anugerah dari Allah. “Mari menjunjung persatuan dan kerukunan, bersama saling merangkul mewujudkan damai di kehidupan bersama," ajaknya.

Ditemui usai Perayaan Natal Nasional 2017, Mgr. Agustinus Agus menyatakan bahwa perayaan Natal 2017 merupakan salah satu bentuk persatuan dalam keragaman. Perayaan Natal bersama ini telah menyatukan seluruh umat Kristiani yang ada. 

“Di kalangan umat kristiani terdapat juga banyak sekte. Perayaan seperti ini merupakan sarana untuk mempersatukan kembali,” kata Mgr. Agustinus Agus.

Perayaan Natal Bersama tingkat Nasional tahun 2017 dihadiri ribuan umat Kristiani. Lebih kurang sepuluh ribu kursi yang disiapkan panitia terisi penuh oleh umat yang hadir.

Tidak hanya umat Nasrani, perayaan Natal bersama ini juga dihadiri perwakilan beberapa ormas keagamaan, seperti NU, Muhammadiyah, Walubi, PHDI, dan lainnya.  Presiden Joko Widodo, beserta Menag Lukman Hakim Saifuddin dan Menteri Kabinet Kerja lainnya juga hadir dalam perayaan ini.

Ketua Panitia Nasional Perayaan Natal Nasional 2017, Ignasius Jonan melaporkan kepada Presiden Joko Widodo bahwa pelaksanaan kegiatan dipersiapkan bukan hanya oleh umat Kristiani. Kepanitiaan yang ada, bahkan merupakan wujud dari Bhineka Tunggal Ika.

“Susunan kepanitiaan yang disusun Kementerian Agama merupakan wujud dari Bhineka Tunggal Ika, yang terdiri dari berbagai macam suku, dan juga berasal dari propinsi Aceh hingga propinsi Papua,” ujar Jonan.

Menurut Jonan, semangat untuk memelihara persatuan dalam keragaman pada perayaan ini tercermin juga dalam pemilihan lokasi Perayaan Natal Nasional 2017, yaitu Rumah Radakng.  Rumah Radakng biasa menjadi simbol kehidupan komunal masyarakat Suku Dayak.  Di Rumah Radakng  yang berarti Rumah Panjang ini, masyarakat Suku Dayak biasa hidup bersama dalam satu atap dengan saling mengasihi dan damai.  

"Melalui pemilihan lokasi ini kami ingin menyampaikan pesan bahwa Natal Nasional 2017 ini ikut menegaskan kembali komitmen kita sebagai bangsa untuk terus menerus membangun kebersamaan dalam semangat persatuan dan kesatuan berbangsa yang dilandaskan pada Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika," kata Jonan.

“Saya kira Natal ini kan bersifat nasional. Hampir seluruh jajaran  pemerintah hadir dalam  kegiatan ini. Ini menunjukkan bahwa kehidupan keberagaman makin solid,” ujar Dirjen Bimas Kristen Thomas Pentury saat ditemui usai perayaan natal nasional tersebut.

Hal senada disampaikan Dirjen Bimas Katolik Kemenag RI Eusabius Binsasi. “Natal ini bukan hanya dirayakan oleh umat Kristen. Seluruh bangsa merayakan Natal sebagai kesatuan, dalam hal ini terkait kerukunan umat beragama,” kata Eusabius. (Indah)

Sumber : -
Penulis : Kontri
Editor : Khoiron
Dibaca : 682 kali