Kamis, 18 Oktober 2018

Pimpinan PTKIN Diminta Aktif dalam Kontra Narasi Radikalisme

  • Jum'at, 06 Juli 2018 15:25 WIB

Mataram (Kemenag) --- Pimpinan PTKIN, beserta aparatnya termasuk para Kepala Biro dan Kepala Bagian, diminta lebih pro aktif dalam membuat program “kontra narasi” untuk melawan narasi radikalisme yang saat ini mudah dijumpai dan berkembang di masyarakat.

Pesan ini disampaikan Staf Ahli Menteri Agama Bidang Manajemen Komunikasi dan Informasi Oman Fathurahman saat mewakili Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada Pertemuan Forum Kepala Biro/Kabag AUAK PTKN se-Indonesia di Mataram, NTB, Kamis (05/07)

“PTKIN juga perlu memberikan orientasi keislaman dan kebangsaan bagi setiap mahasiswa baru, agar mereka tidak lagi mempertentangkan antara ideologi keagamaan dengan ideologi Pancasila,” terangnya.

Menuru Oman, PTKIN perlu bersifat pro aktif dalam melawan radikalisme karena kampus memiliki sumber daya manusia yang kapasitas keilmuannya dibutuhkan dalam menjaga keutuhan, toleransi dan kebinekaan bangsa. “Kampus adalah tempat memproduksi tafsir-tafsir keagamaan yang berbasis pada sumber primer,” jelasnya.

“Para Kepala Biro/Kabag AUAK se-Indonesia harus ikut berkontribusi dalam mencetak lulusan-lulusan Muslim moderat yang mampu memberikan pencerahan keagamaan di tengah keragaman dan pluralitas,” lanjutnya.

Dalam sesi diskusi, sejumlah peserta memberikan respon dan masukan. Salah satunya, agar Kementerian Agama dapat memfasilitasi menyiapkan ‘buku putih’ tentang Moderasi Beragama yang menjadi visi utama Menteri Agama. Buku itu diharapkan dapat menjadi acuan implementasi kebijakan bagi para pimpinan di Kampus.

Oman berjanji akan menyampaikan aspirasi tersebut kepada Menteri Agama. Dia berharap setiap kampus PTKIN dapat memfungsikan humas masing-masing untuk menjadi ‘clearing house’ yang secara aktif memberikan penjelasan-penjelasan atas isu hangat keagamaan yang berkembang di masyarakat. “Humas kampus PTKIN secara lantang harus ikut menyuarakan pentingnya moderasi beragama dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural dan multikultural,” ujarnya.

Oman mengilustrasikan, kalau masing-masing Humas PTKIN dapat secara aktif memproduksi videogram pendek berisi isu-isu keagamaan populer dengan berbasis pada keilmuan para guru besarnya, niscaya jagat media sosial akan dipenuhi ‘content’ yang mencerahkan, bukan hoaks yang merusak. “Tantangannya, materi yang disampaikan para guru besar dan pakar di PTKIN harus dikemas semenarik mungkin untuk menyasar generasi milenial,” tandasnya.

Sumber : -
Penulis : Kontri
Editor : Khoiron
Dibaca : 464 kali