Rabu, 26 September 2018

Arskal Salim: Generasi Milenial Miliki Potensi Jadi Agen Dakwah Inovatif

  • Kamis, 13 September 2018 20:38 WIB

Kudus (Kemenag) --- Generasi milenial memiliki beberapa karakter positif, seperti kreatif, terkoneksi, efektif dan bersemangat. Karakter ini membuat generasi milenial, khususnya generasi muslim milenial memiliki  potensi untuk menjadi agen dakwah yang inovatif.

Pernyataan ini disampaikan Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Kemenag Arskal Salim GP, saat menjadi narasumber pada Studium General yang digelar Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus. “Karenanya, generasi muslim milenial perlu disiapkan menjadi warga dunia (global citizen) yang mengakar kuat pada nilai dan ajaran agama,” ujar Arskal, di Kudus,  Rabu (12/09).

Di hadapan peserta Studium General, Arskal memaparkan bahwa pendekatan pendidikan dan pengajaran agama memiliki peran untuk memberikan pondasi kuat generasi milenial ini mengenai nilai dan ajaran agama. “Maka pendekatan pendidikan dan pengajaran agama perlu menyesuaikan dengan konteks kekinian generasi milenial,” ujar Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Pendekatan dan pengajaran agama yang perlu dibangun menurut Arskal adalah pengajaran dengan karakter generasi milenial yang produktif, penuh energi dan semangat,  dan percaya diri. “Mereka ini (generasi milenial)  juga siap dengan perubahan, suka berkolaborasi secara online dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan ponsel pintar ketimbang computer,” imbuh Arskal.

Dengan karakter demikian, Arskal memaparkan bahwa generasi yang lahir pada kisaran tahun 1980 – 2000 an ini tidak lagi merasa tertarik untuk belajar dari buku saja. “Untuk meneguhkan nilai keislaman pada generasi milenial misalnya, banyak yang mencari referensi dari sosial media. Mereka perlu didampingi dan diarahkan dalam hal penggunaan sosial media,”

Arskal Salim menguraikan fakta terkini menunjukan bahwa  jumlah generasi milenial saat ini adalah 32% atau 81juta dari 255juta penduduk Indonesia pada 2017.  “Dan jumlah ini akan terus bertambah populasinya hingga 60% dari total populasi pada tahun 2020,” ujar Arskal.

Kementerian Agama menurut Arskal juga memiliki tanggung jawab untuk melakukan edukasi kepada generasi milenial. “Mahasiswa PTKI yang juga generasi milenial berjumlah total 802.637 mahasiswa  yang tersebar di 744 PTKI baik negeri maupun swasta,” papar Arskal.

Arskal pun berpesan, untuk mengelola generasi milenial yang ada di PTKI, perlu dilakukan pelibatan generasi ini pada gerakan keagamaan yang berbasis sosial media. “Dengan penguasaan teknologi informasi generasi millenial bisa mengambil peluang-peluang strategis dalam melakukan dakwah Islamiyah yang ramah, toleran, dan damai”, kata Arskal.

Senada dengan Arskal, Rektor IAIN Kudus Mudzakir mengharapkan agar mahasiswa IAIN Kudus memanfaatkan perkembangan kemajuan teknologi. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas diri agar bisa bersaing dengan mahasiswa lainnya.

“Seluruh civitas akademika IAIN harus siap menghadapi era baru yang biasa disebut era industri 4.0 dimana tenaga manusia mulai tergeser dengan tenaga robot”, kata Mudzakir.

Sementara itu Kasi Kemahasiswaan Kemenag Ruchman Basori  yang juga menjadi narasumber dalam Studium Generae, mengatakan pentingnya generasi millenial mendapatkan pemahaman agama dari sumber yang otoritatif. “Mahasiswa harus menjadi garda terdepan untuk memberikan narasi dan idiologi Islam yang moderat dan toleran”, kata Ruchman.

Untuk itu mahasiswa harus menjadi sosok yang cerdas dan kritis sehingga mampu melakukan counter narasi dan idiologi pada paham dan gerakan yang intoleran dan radikal.

Studium general diikuti oleh 3.261 mahasiswa baru tahun akademik 2018/2019. Tampak hadir Direktur Pascasarjana Muhammad Ihsan,  Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Abdurrahman Kasdi, Ketua LP2M Nadzirin Yuda dan segenap pimpinan serta civitas akademika lainnya.(RB).

Sumber : diktis
Penulis : Kontri
Editor : Khoiron
Dibaca : 494 kali