Sapa Masyarakat Indonesia di Brunei, Menag Berpesan tentang Moderasi Beragama

Brunei (Kemenag) --- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyapa ratusan masyarakat Indonesia yang berada di Brunei Darussalam. Pertemuan Menag dengan para pahlawan devisa ini berlangsung di Wisma Duta atas prakarsa KBRI Brunei.

Menag mengapresiasi kiprah warga Indonesia di Brunei. Menag mengajak untuk terus menjaga nama baik bangsa.

Menurut Menag,  kehadirannya kali pertama ke Brunei dalam rangka menghadiri pertemuan Menteri-Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Ini merupakan pertemun informal dua tahunan dan untuk kali ini bertempat di Brunei. 

Kepada warga Indonesia di Brunei,  Menag berpesan tentang pentingnya sikap moderat dalam menyikapi keragaman. Menurutnya,  Kementerian Agama sejak 2014 mengusung moderasi beragama. 

Upaya ini dilakukan antara lain dengan mengajak masyarakat tidak terjebak pada ekstremitas,  baik kiri (liberal) maupun kanan (radikal). Kemenag mengajak mereka untuk kembali ke tengah, yaitu sikap moderat. 

"Kita terus berupaya agar muslim terbesar di dunia ini tidak memahami keragaman sebagai sesuatu yang harus diseragamkan. Kita harus lebih arif, bahwa yang berbeda-beda itu bisa saling mengisi dan bersinergi," ujar Menag di Brunei,  Rabu (14/11).

"Kita terus upayakan ini dalam berbagai program aksi. Misalnya melalui pendidikan. Semua kita upayakan punya pemahaman yang moderat," lanjutnya.  

Menag mengaku bersyukur Indonesia punya modal besar dalam menjaga keragaman. Modal itu adalah civil society dalam bentuk ormas keagamaan dan tokoh agama yang masih dipanuti umat. Dan,  mereka memiliki faham yang sangat moderat. 

"Inilah kekuatan agar kesatuan dan persatuan bangsa yang sangat heterogen bisa terjaga dan terpelihara," tuturnya. 

Sebelumnya,  Duta Besar RI untuk Brunei Darussalam Sujatmiko menyampaikan bahwa ada 83ribu warga negara Indonesia yang bekerja di Brunei Darussalam. Untuk melayani mereka,  KBRI dibantu 17 home staff dan 30 local staff. 

"Jumlah warga yang tercatat 83ribu orang atau seperlima penduduk Brunei," jelasnya. 

"Dari jumlah itu,  50persen kerja di sektor formal dan sukses. Banyak insinyur, doktor dan dosen kampus," lanjutnya. 

Menurut Sujatmiko, karena jumlah masyarakatnya banyak, masalah yang dihadapi juga tidak sedikit. Tiap hari, KBRI dikunjungi 90 - 100 warga dengan beragam masalah ketenagakerjaan yang mereka hadapi. 

Meski kecil, Brunei tergolong negara kaya. Sembilan persen ekonominya ditopang dari minyak dan gas. 

Menag Lukman dijadwalkan akan berada di Brunei hingga 16 November 2018.