Pinjamkan HP dan Semut Wifi, Cara MTsN 6 Malang Atasi Kendala PJJ karena Pandemi

Malang (Kemenag) --- Masa pandemi bukan menjadi halangan bagi guru MTsN 6 Malang untuk memberikan layanan belajar terbaik pada siswa. Melalui program Bidik Signal Abhikarsya “BISA”, sejumlah inovasi dilakukan tim MTsN 6 Malang, salah satunya dengan meminjamkan HP dan membelikan kuota wifi kepada siswa yang mengalami kendala saat pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring.  

“Peminjaman HP dilakukan secara estafet sehingga seluruh siswa yang terkendala dapat mengikuti pembelajaran daring secara bergantian,” terang Kepala MTsN Malang Sutirjo di Malang, Selasa (10/11). 

“Sementara pemberian kuota wifi menggunakan metode semut, salah satu siswa dibelikan kuota wifi dan temannya yang lain 'nebeng' wifi. Hal tersebut dilakukan sebagai usaha nyata dari MTsN 6 Malang untuk mengoptimalkan pembelajaran daring sehingga dapat diikuti oleh semua siswa,” sambungnya.

Menurut Sutirjo, kedua cara ini cukup efektif dalam mengatasi kendala siswa dalam pelaksanaan PJJ. Sejumlah siswa yang rumahnya didatangi tim MTsN 6 Malang mengaku terkejut dan berterima kasih atas perhatian pihak madrasah. "Sangat bersyukur karena diperhatikan oleh madrasah dengan dipinjami HP, jadi bisa ikut pembelajaran daring," ungkap Anjani, salah satu siswa kelas 8 yang mengalami kendala pembelajaran daring karena tidak memiliki HP. 

Hal senada disampaikan ibu dari Teguh, siswa kelas 7 MTsN 6 Malanag. Dia bahkan sampai menitikkan air mata saat mendampingi anaknya menerima bantuan pinjaman HP.

"Setiap hari anak saya harus bergantian dengan adiknya yang juga harus belajar online. Teguh seringkali harus mengalah, keluar dari kelasnya supaya hp bisa dipakai adiknya," tuturnya.

MTsN 6 Malang juga menggulirkan program "Mili Beras". Tim MTsN 6 Malang membagikan beras kepada siswa yang dikunjungi dalam program Bidik Signal Abhikarsya “BISA”. MTsN 6 Malang juga membagikan masker kepada keluarga siswa dan masyarakat sekitar lingkungan rumah siswa sebagai wujud kepedulian dan berbagi di tengah pandemi.

“Di masa pandemi ini, tidak ada pendekatan, strategi atau metode yang baku. Yang ada justru dinamis setiap saat, bukan lagi berubah tiap minggu atau hari,” tutur Sutirjo.

Dari 36 anak yang terdampak pandemi, kata Sutirjo, sebanyak 11 siswa difasilitasi dengan model semut WiFi/subsidi WiFi, 6 anak dengan pendekatan peminjaman HP baru swadaya, dan 19 anak subsidi kuota. “Pola dan jumlah seperti itu terus bergerak, yang penting tetap fokus memberikan solusi dan hadir mendidik dalam situasi apapun sebagai pilihan realitis untuk membangun pendidikan bangsa,” tandas Sutirjo.